Lompat ke konten utama
sorotutama

Rugi Indofarma (INAF) Susut 69,8% di Kuartal I-2026, Defisiensi Ekuitas Masih Rp714,52 Miliar

PT Indofarma (Persero) Tbk mencatat perbaikan kinerja dengan rugi bersih turun menjadi Rp7,58 miliar dan penjualan naik 45,1%, namun defisiensi ekuitas masih tinggi.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
Rugi Indofarma (INAF) Susut 69,8% di Kuartal I-2026, Defisiensi Ekuitas Masih Rp714,52 Miliar
Foto: Daneswara Eka via Pexels

Ringkasan

PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) mencatat rugi bersih Rp7,58 miliar pada kuartal I-2026, turun 69,8% dari Rp25,1 miliar periode sama tahun lalu. Penjualan naik 45,1% menjadi Rp53,33 miliar dan arus kas operasi positif Rp6,23 miliar. Namun, defisiensi ekuitas masih Rp714,52 miliar dengan total liabilitas Rp1,20 triliun.

Daftar isi▶ buka

PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada kuartal I-2026. Perseroan berhasil memangkas rugi bersih hingga 69,8% secara tahunan, meski kondisi keuangannya masih menghadapi tantangan struktural yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp7,58 miliar pada kuartal I-2026, turun dari Rp25,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini ditopang oleh kenaikan penjualan bersih sebesar 45,1% menjadi Rp53,33 miliar, dibandingkan Rp36,76 miliar pada kuartal I-2025.

Laba Kotor Kembali Positif

Di sisi biaya, beban pokok penjualan meningkat menjadi Rp48,58 miliar dari Rp42,37 miliar. Namun, pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi membuat Indofarma berhasil membalikkan kondisi laba kotor menjadi positif sebesar Rp4,75 miliar, setelah pada kuartal I-2025 masih membukukan rugi bruto Rp5,60 miliar.

Efisiensi juga terlihat dari beban operasional. Beban penjualan anjlok menjadi Rp353,1 juta dari Rp3,88 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, beban umum dan administrasi turun 48,4% menjadi Rp6,55 miliar dari Rp12,71 miliar.

Di sisi lain, rugi dari pos lain-lain juga menyusut menjadi Rp1,02 miliar dibandingkan Rp3,24 miliar pada kuartal I-2025. Serangkaian perbaikan tersebut membuat rugi usaha turun tajam menjadi Rp3,18 miliar dari Rp25,44 miliar pada kuartal I tahun lalu.

Beban Keuangan Muncul Kembali

Meski demikian, perseroan mulai mencatat beban keuangan sebesar Rp4,42 miliar pada kuartal I-2026. Beban bunga tersebut ikut menekan kinerja sehingga rugi sebelum pajak masih tercatat Rp7,60 miliar. Kendati demikian, angka tersebut tetap jauh lebih rendah dibandingkan rugi sebelum pajak sebesar Rp25,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Secara operasional, perbaikan kinerja Indofarma cukup signifikan. Namun, implikasinya terhadap keberlanjutan jangka panjang masih perlu dicermati mengingat kondisi neraca yang belum pulih sepenuhnya.

Defisiensi Ekuitas Masih Tinggi

Walaupun kinerja operasional mulai membaik, kondisi neraca Indofarma masih menunjukkan tantangan besar. Hingga akhir Maret 2026, total aset perseroan turun menjadi Rp489,67 miliar dari Rp535,99 miliar pada akhir 2025. Sementara itu, total liabilitas masih mencapai Rp1,20 triliun, jauh lebih besar dibandingkan total aset.

Kondisi tersebut membuat perseroan masih membukukan defisiensi ekuitas sebesar Rp714,52 miliar. Selain itu, utang pajak Indofarma juga masih tercatat tinggi, yakni mencapai Rp318,25 miliar hingga akhir kuartal I-2026.

Defisiensi ekuitas terjadi ketika total liabilitas melebihi total aset, yang secara umum menandakan kondisi keuangan yang memerlukan perhatian serius. Dalam kasus Indofarma, hal ini menunjukkan bahwa perseroan masih berada dalam fase kritis meski telah menunjukkan perbaikan operasional.

Arus Kas Operasi Positif

Meski demikian, terdapat satu sinyal positif lain dari sisi likuiditas. Arus kas dari aktivitas operasi berbalik positif menjadi Rp6,23 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan arus kas operasi negatif Rp18,74 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Arus kas operasi yang positif menunjukkan bahwa aktivitas bisnis inti perseroan mulai menghasilkan kas, yang merupakan indikator penting bagi kemampuan perusahaan untuk membiayai operasional dan memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa harus bergantung pada pendanaan eksternal.

Perlu dicermati bahwa pemulihan Indofarma masih dalam tahap awal. Kombinasi antara perbaikan operasional dan perbaikan struktur neraca akan menjadi kunci bagi keberlanjutan perseroan ke depan. Tantangan utama yang masih dihadapi adalah mengatasi defisiensi ekuitas dan mengelola beban liabilitas yang masih sangat tinggi.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa rugi bersih Indofarma pada kuartal I-2026?
Rugi bersih Indofarma pada kuartal I-2026 tercatat sebesar Rp7,58 miliar, turun 69,8% dari Rp25,1 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perbaikan ini ditopang oleh kenaikan penjualan bersih sebesar 45,1% menjadi Rp53,33 miliar.
Apa itu defisiensi ekuitas dan berapa nilainya pada Indofarma?
Defisiensi ekuitas terjadi ketika total liabilitas melebihi total aset. Pada Indofarma, defisiensi ekuitas tercatat sebesar Rp714,52 miliar hingga akhir Maret 2026, dengan total liabilitas Rp1,20 triliun dan total aset Rp489,67 miliar. Kondisi ini menandakan tantangan keuangan struktural yang masih perlu diatasi.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Indofarma#Inaf#Laporan Keuangan#Farmasi

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga