Lompat ke konten utama
sorotutama

Riset BCA: Warga RI Rajin Menabung Bukan untuk Kaya, Tapi Khawatir

Peningkatan tabungan masyarakat Indonesia sepanjang 2026 lebih mencerminkan sikap berjaga-jaga menghadapi ketidakpastian ekonomi, bukan karena pendapatan naik, ungkap laporan BCA.

Oleh Redaksi Sorot Utama4 menit baca
Riset BCA: Warga RI Rajin Menabung Bukan untuk Kaya, Tapi Khawatir
Foto: Jeffry Surianto via Pexels

Ringkasan

Laporan BCA edisi 22 Juni 2026 mengungkap peningkatan tabungan masyarakat Indonesia didorong kekhawatiran ekonomi: kelompok bawah cemas terhadap kenaikan harga, kelompok atas khawatir pelemahan rupiah. Tabungan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,4% per April 2026, sementara tabungan valas tumbuh 29,9% pada Mei 2026, jauh lebih cepat dari tabungan rupiah yang tumbuh 8,7%.

Daftar isi▶ buka

Kebiasaan masyarakat Indonesia menyimpan uang di perbankan terus menunjukkan peningkatan sepanjang tahun 2026, terutama pada nasabah dengan saldo tabungan di bawah Rp100 juta yang mencatat pertumbuhan paling tinggi. Namun, hasil kajian terbaru BCA dalam laporan The Focal Point edisi 22 Juni 2026 bertajuk Many Shades of Precautionary Savers mengungkap bahwa peningkatan ini lebih mencerminkan sikap berjaga-jaga menghadapi ketidakpastian ekonomi, bukan karena kenaikan pendapatan.

"Perilaku berjaga-jaga di tengah tekanan rupiah yang masih berlanjut menjelaskan tertinggalnya simpanan rupiah dibandingkan simpanan valuta asing, terutama di kalangan penabung yang lebih mampu," tulis BCA dalam laporannya. Dua kekhawatiran besar membayangi masyarakat: kelompok dengan dana lebih besar cenderung waspada terhadap pelemahan rupiah, sementara kelompok bawah lebih khawatir terhadap kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Tabungan Kelompok Bawah Tumbuh Paling Kencang

Per April 2026, simpanan kelompok dengan saldo di bawah Rp100 juta tumbuh 5,4% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan kelompok saldo Rp100 juta sampai Rp500 juta yang tumbuh 3,1%, serta kelompok saldo Rp500 juta sampai Rp1 miliar yang naik 2,4%. Secara tahun berjalan, simpanan kelompok bawah juga masih naik 0,98%.

Namun, pada saat yang sama, simpanan rupiah kelompok yang lebih kaya justru turun. Untuk kelompok paling atas, penurunan simpanan rupiah bahkan mencapai 2,47%. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperlihatkan simpanan perbankan secara keseluruhan pada April 2026 mencapai Rp10.107 triliun, naik sekitar 11,4% dibandingkan April 2025 yang sebesar Rp9.076 triliun. Namun secara bulanan, simpanan justru turun 1,40% dari Maret 2026.

Tabungan Valas Tumbuh Jauh Lebih Cepat

Data Bank Indonesia dalam laporan Uang Beredar yang dipublikasikan 23 Juni 2026 memperkuat gambaran pergeseran pilihan aset. Pada Mei 2026, tabungan rupiah tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp2.904,2 triliun. Namun, pertumbuhan tabungan valas jauh lebih kencang, yakni mencapai 29,9% secara tahunan menjadi Rp260,9 triliun.

Artinya, secara nominal tabungan rupiah memang masih jauh lebih besar, namun dari sisi pertumbuhan, tabungan valas berlari jauh lebih cepat. Total dana pihak ketiga (DPK) valas juga tumbuh 17,8% yoy menjadi Rp1.585,1 triliun pada Mei 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan DPK rupiah yang tumbuh 9,6% yoy menjadi Rp8.113,7 triliun. Langkah Bank Indonesia memperketat batas pembelian valuta asing menjadi maksimal US$10.000 menunjukkan bahwa pergeseran minat dari rupiah ke valuta asing menjadi isu yang semakin penting.

Bukan Tanda Pendapatan Membaik

Kenaikan simpanan kelompok bawah sulit dibaca sebagai tanda bahwa pendapatan masyarakat sedang naik kuat. Aktivitas manufaktur masih bergerak tidak stabil. Pada Mei 2026, Manufacturing PMI berada di level 49,7, atau kembali masuk zona kontraksi. Dalam PMI, angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur sedang melemah, yang berkaitan erat dengan lapangan kerja dan penghasilan masyarakat.

Ekspektasi pendapatan rumah tangga enam bulan ke depan juga belum terlalu meyakinkan. Indeks ekspektasi pendapatan berada di 136,5 pada Mei 2026, turun dari level yang sempat lebih tinggi sebelumnya. Karena itu, kenaikan simpanan kelompok bawah lebih mungkin terjadi karena perubahan cara masyarakat mengatur uang, bukan karena pendapatan tiba-tiba membaik tajam.

Deposito Kembali Jadi Pilihan, Emas Mulai Ditinggal

Perubahan pilihan investasi juga ikut menjelaskan kenapa simpanan bank kembali meningkat. Pada Mei 2026, porsi rumah tangga yang memilih tabungan atau deposito sebagai instrumen investasi mencapai 42,7%, lebih tinggi dibandingkan rumah tangga yang memilih emas atau perhiasan, yakni 36,3%. Padahal, pada Januari 2026, emas masih lebih unggul dengan porsi 41,4%, sementara tabungan dan deposito hanya 37,9%.

Artinya, sebagian masyarakat mulai kembali memilih produk perbankan yang dianggap lebih aman dan stabil. Kenaikan suku bunga membuat deposito menjadi lebih menarik, sementara laju kenaikan harga emas mulai kehilangan tenaga.

Kekhawatiran Terhadap Kenaikan Harga

Faktor paling kuat adalah kekhawatiran terhadap kenaikan harga. Banyak rumah tangga menambah simpanan karena ingin punya cadangan uang jika harga barang makin mahal. Pada Mei 2026, porsi pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi berada di 72,3%, mulai naik dari titik rendah 71,6% pada awal 2026, tetapi masih lebih rendah dibandingkan posisi sekitar 74,3% sebelumnya.

Sementara itu, indeks pembelian barang tahan lama berada di 108,3 pada Mei 2026, menandakan minat masyarakat untuk membeli barang besar seperti elektronik, kendaraan, atau perlengkapan rumah tangga belum pulih. Kekhawatiran terhadap harga juga terlihat dari penilaian publik terhadap pengendalian harga kebutuhan pokok. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap isu ini turun menjadi 45,2% pada Mei 2026, dari 49,5% enam bulan sebelumnya.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi ikut menambah kekhawatiran. Meski pemerintah menyatakan tidak akan menaikkan harga BBM subsidi pada 2026, sebagian masyarakat tetap cemas kenaikan harga bisa merembet ke barang dan jasa lain.

Implikasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan simpanan di Indonesia saat ini memperlihatkan dua jenis penabung yang sama-sama berhati-hati. Pertama, kelompok masyarakat yang lebih kaya khawatir terhadap pelemahan rupiah, sehingga mulai mengurangi simpanan rupiah dan memperbesar simpanan valuta asing. Kedua, kelompok masyarakat bawah khawatir terhadap kenaikan harga, sehingga menambah simpanan rupiah sebagai bantalan untuk menghadapi biaya hidup yang lebih mahal.

"Ancaman terhadap permintaan swasta berarti pemerintah mungkin tidak dapat memangkas komitmen fiskalnya secara besar-besaran sambil tetap mempertahankan pertumbuhan," tulis BCA. Kondisi ini membuat strategi pertumbuhan yang terlalu bertumpu pada konsumsi rumah tangga menjadi lebih menantang. Jika masyarakat semakin banyak menahan uang untuk berjaga-jaga, konsumsi bisa ikut tertahan.

Implikasinya, pemerintah masih menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026. Untuk mencapai target itu, pertumbuhan pada kuartal II hingga kuartal IV perlu rata-rata sekitar 5,33% secara tahunan. Dalam situasi seperti ini, belanja pemerintah masih berperan penting untuk menjaga permintaan domestik, terutama jika tekanan terhadap rupiah berlanjut dan Bank Indonesia harus mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Mengapa tabungan masyarakat Indonesia meningkat sepanjang 2026?
Menurut laporan BCA edisi 22 Juni 2026, peningkatan tabungan lebih mencerminkan sikap berjaga-jaga menghadapi ketidakpastian ekonomi, bukan karena kenaikan pendapatan. Kelompok bawah khawatir terhadap kenaikan harga barang, sementara kelompok atas waspada terhadap pelemahan rupiah. Tabungan di bawah Rp100 juta tumbuh 5,4% per April 2026.
Apa yang menyebabkan tabungan valas tumbuh lebih cepat dari tabungan rupiah?
Data Bank Indonesia menunjukkan pada Mei 2026, tabungan valas tumbuh 29,9% secara tahunan menjadi Rp260,9 triliun, jauh lebih cepat dari tabungan rupiah yang tumbuh 8,7% menjadi Rp2.904,2 triliun. Ini menandakan kelompok masyarakat yang lebih mampu mengalihkan dana ke valuta asing karena kekhawatiran terhadap pelemahan rupiah yang masih berlanjut.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Tabungan#Rupiah#Bank Indonesia#Ekonomi Indonesia

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga