Lompat ke konten utama
sorotutama

Kredit UMKM Kontraksi -0,47%, Perbanas Luncurkan UMKM Center

Perbanas meresmikan UMKM Center dan merilis riset yang menunjukkan kredit UMKM terkontraksi sejak akhir 2025, didorong rendahnya permintaan bukan penolakan bank.

Oleh Redaksi Sorot Utama2 menit baca
Kredit UMKM Kontraksi -0,47%, Perbanas Luncurkan UMKM Center
Foto: Dapur Melodi via Pexels

Ringkasan

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meluncurkan UMKM Center pada 18 Juni 2026 sambil memaparkan hasil riset yang mengungkap kredit UMKM terkontraksi -0,47% year-on-year hingga Februari 2026. Riset menunjukkan pelemahan bersifat demand-driven, dengan hampir 90% UMKM tidak mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan, sementara tingkat persetujuan kredit mencapai 94,3%.

Daftar isi▶ buka

Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meresmikan UMKM Center pada Kamis, 18 Juni 2026, sebagai bentuk dukungan untuk menguatkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Bersamaan dengan peluncuran, Perbanas memaparkan hasil riset awal yang mengungkap kondisi kredit UMKM yang mengalami pelemahan signifikan sejak akhir 2022 dan masuk zona negatif pada akhir 2025.

Ketua Umum Perbanas Hery Gunardi menyatakan, peresmian UMKM Center dan paparan hasil penelitian merupakan bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar dalam memajukan industri UMKM Indonesia. "Sebagai tulang punggung ekonomi, sektor UMKM perlu diperkuat agar kontribusi terhadap perekonomian nasional terus meningkat. Kami optimistis, kerja sama yang baik antara industri perbankan, ekosistem UMKM dan para pengambil kebijakan akan memberikan manfaat luar biasa bagi negeri ini," katanya dalam konferensi pers di Four Seasons Hotel, Jakarta.

Kredit UMKM Terkontraksi Sejak Akhir 2025

Chief Economist Perbanas Winang Budoyo memaparkan bahwa pertumbuhan kredit UMKM menunjukkan pelemahan sejak akhir 2022 dan mulai masuk zona negatif pada akhir 2025. Hingga Februari 2026, kredit UMKM masih terkontraksi sekitar -0,47% secara year-on-year. Pelemahan ini berbeda dari tren kredit perbankan secara umum, terutama kredit modal kerja, investasi, dan konsumsi yang masih tumbuh positif.

Penurunan kredit UMKM mengindikasikan ada persoalan mendasar pada segmen ini. Riset yang menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, termasuk focus group discussion (FGD) dengan asosiasi industri jasa keuangan seperti Himbara, Asbanda, Asosiasi Fintech (Aftech), pelaku usaha, komunitas UMKM, akademisi, dan regulator, mengungkap akar masalah pelemahan tersebut.

Masalah Terletak di Sisi Permintaan, Bukan Penawaran

Hasil riset menunjukkan pelemahan kredit UMKM saat ini lebih didorong oleh sisi permintaan kredit atau bersifat demand-driven. Mayoritas, hampir 90% UMKM formal dan informal, tidak mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan pinjaman sebagai alasan utamanya. Pembiayaan usaha mereka hampir 90% berasal dari dana pribadi (self-funded). Hal ini menunjukkan permasalahan utama rendahnya akses pembiayaan UMKM terletak dari sisi permintaan kredit itu sendiri.

Di sisi lain, penelitian menunjukkan sisi penawaran (supply side) pembiayaan UMKM sudah sangat suportif. Survei menemukan bahwa ketika UMKM formal mengajukan kredit, tingkat persetujuannya sangat tinggi, yaitu sekitar 94,3%. "Fakta ini mengonfirmasi persoalan utama bukan terletak pada penolakan bank, melainkan pada rendahnya permintaan kredit baru, terbatasnya dorongan ekspansi usaha, dan belum kuatnya kesiapan UMKM untuk mengakses pembiayaan formal," kata Winang.

Harapan terhadap UMKM Center

Ketua Bidang Riset & Kajian Ekonomi & Perbankan Perbanas, Aviliani, berharap UMKM Center nantinya dapat membantu para pelaku UMKM yang unbankable menjadi bankable, memberikan pendampingan, serta berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menaikkan kelas para pelaku UMKM.

Implikasinya, upaya memperkuat sektor UMKM perlu lebih difokuskan pada peningkatan kapasitas dan kesiapan pelaku usaha untuk memanfaatkan pembiayaan formal, bukan semata-mata memperluas suplai kredit. Pendampingan dan edukasi menjadi kunci agar UMKM lebih siap melakukan ekspansi usaha dan mengakses pembiayaan perbankan.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa tingkat kontraksi kredit UMKM hingga Februari 2026?
Kredit UMKM terkontraksi sekitar -0,47% secara year-on-year hingga Februari 2026, setelah mulai masuk zona negatif pada akhir 2025.
Apa penyebab utama pelemahan kredit UMKM menurut riset Perbanas?
Pelemahan bersifat demand-driven, di mana hampir 90% UMKM tidak mengajukan kredit karena merasa belum membutuhkan pinjaman dan lebih mengandalkan dana pribadi (self-funded). Tingkat persetujuan kredit oleh bank justru sangat tinggi, mencapai 94,3%, menunjukkan sisi penawaran sudah suportif.
Apa tujuan peluncuran UMKM Center oleh Perbanas?
UMKM Center bertujuan membantu pelaku UMKM yang unbankable menjadi bankable, memberikan pendampingan, dan berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kelas pelaku UMKM serta memperkuat kontribusi sektor ini terhadap perekonomian nasional.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#UMKM#Kredit Perbankan#Perbanas#Ekonomi Indonesia

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga