Bos AMII Ungkap Strategi Reksadana di Tengah Gejolak Pasar 2026
Ketua Umum AMII Lolita Liliana mencatat pergeseran aset investor dari reksadana saham ke instrumen berbasis suku bunga, seiring meningkatnya kehati-hatian pasar akibat gejolak global.

Ringkasan
Industri reksadana Indonesia baru pulih di 2025 pasca pandemi, namun kini menghadapi gejolak pasar yang mendorong investor beralih ke RDPU, RDPT, dan reksadana terproteksi. AMII menekankan pentingnya edukasi pasar modal untuk menjaga optimisme investasi.
Industri reksadana Indonesia tengah menghadapi dinamika baru di tengah gejolak pasar global. Ketua Umum Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Lolita Liliana, menyebutkan bahwa industri reksadana baru pulih dan tumbuh baik di tahun 2025 setelah dihantam pandemi COVID-19. Namun, kondisi pasar saat ini menuntut strategi investasi yang lebih hati-hati.
Sebagaimana disampaikan dalam wawancara dengan CNBC Indonesia pada Rabu, 10 Juni 2026, AMII mencatat adanya pergeseran kelas aset yang signifikan. Investor beralih dari reksadana saham menuju reksadana yang berbasis suku bunga, yakni Reksadana Pasar Uang (RDPU), Reksadana Pendapatan Tetap (RDPT), dan reksadana terproteksi.
Kinerja Reksadana Tertekan Gejolak Pasar
Di tengah gejolak pasar saat ini, AMII juga melihat adanya penurunan kinerja reksadana yang lebih dalam. Penurunan ini sejalan dengan meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar dalam mengambil keputusan investasi. Kondisi ini mencerminkan respons pasar terhadap ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.
Pergeseran preferensi investor ke instrumen berbasis suku bunga menunjukkan kecenderungan mencari aset yang lebih defensif. RDPU dan RDPT umumnya menawarkan risiko lebih rendah dibandingkan reksadana saham, meskipun dengan potensi imbal hasil yang lebih terbatas. Sementara reksadana terproteksi memberikan perlindungan modal pada kondisi tertentu, menjadi pilihan menarik bagi investor yang mengutamakan preservasi nilai investasi.
Edukasi Kunci Jaga Optimisme Pasar
Lolita Liliana menekankan pentingnya edukasi dan literasi pasar modal dalam menghadapi kondisi saat ini. Diharapkan meningkatnya edukasi dan literasi pasar modal mampu mendorong optimisme pasar terhadap prospek investasi pasar modal Indonesia. Upaya ini menjadi krusial untuk menjaga kepercayaan investor, terutama investor ritel yang mungkin lebih rentan terhadap sentimen negatif.
Secara umum, diversifikasi menjadi strategi penting dalam menghadapi gejolak global. Implikasinya, investor perlu mempertimbangkan alokasi aset yang seimbang antara instrumen dengan risiko berbeda, menyesuaikan dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing. Kombinasi antara reksadana saham untuk pertumbuhan jangka panjang dan instrumen berbasis suku bunga untuk stabilitas dapat menjadi pendekatan yang wajar di tengah ketidakpastian.
Pernyataan AMII ini memberikan gambaran kondisi terkini industri reksadana Indonesia yang tengah beradaptasi dengan dinamika pasar. Pemulihan pasca pandemi yang baru terjadi di 2025 kini dihadapkan pada tantangan baru berupa gejolak pasar global, menuntut fleksibilitas strategi baik dari manajer investasi maupun investor.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa yang dimaksud dengan pergeseran kelas aset reksadana menurut AMII?
- AMII mencatat investor beralih dari reksadana saham ke reksadana berbasis suku bunga seperti RDPU (Reksadana Pasar Uang), RDPT (Reksadana Pendapatan Tetap), dan reksadana terproteksi, sebagai respons terhadap gejolak pasar dan meningkatnya kehati-hatian investor.
- Kapan industri reksadana Indonesia mulai pulih pasca pandemi?
- Menurut Ketua Umum AMII Lolita Liliana, industri reksadana baru pulih dan tumbuh baik di tahun 2025 setelah dihantam pandemi COVID-19.
- Apa strategi yang direkomendasikan AMII untuk menghadapi gejolak pasar?
- AMII menekankan pentingnya edukasi dan literasi pasar modal untuk menjaga optimisme investor. Diversifikasi investasi ke berbagai kelas aset, termasuk instrumen berbasis suku bunga yang lebih defensif, menjadi pertimbangan penting di tengah ketidakpastian pasar.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Standard Chartered Pangkas 7.000 Karyawan, AI Jadi Pengganti
Bank raksasa berbasis London ini akan memangkas 15% posisi korporat hingga 2030 seiring masifnya penggunaan kecerdasan buatan untuk efisiensi operasional.
Rupiah Menguat 0,61% ke Rp17.865 per Dolar AS, Jauh dari Level Rp18.000
Mata uang Garuda ditutup menguat pada Jumat (12/6/2026) seiring melemahnya dolar AS di pasar global, meski di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.865/US$, BI Sebut Respons Positif Pasar
Bank Indonesia mencatat rupiah terapresiasi 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada penutupan Jumat (12/6/2026), didorong respons positif pasar terhadap kebijakan moneter termasuk kenaikan BI Rate menjadi 5,50%.
BI Catat Aliran Modal Asing Rp19,02 Triliun dalam Dua Hari
Bank Indonesia mencatat inflows modal asing signifikan pasca kenaikan BI Rate 50 bps, memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS.
Bank Dunia Soroti Dampak Isu MSCI terhadap Pasar Modal Indonesia
Pembekuan saham Indonesia dari indeks MSCI pada Januari 2026 memicu outflow asing USD 600 juta dan melemahkan rupiah, menurut laporan Bank Dunia.




