Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.865/US$, BI Sebut Respons Positif Pasar
Bank Indonesia mencatat rupiah terapresiasi 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada penutupan Jumat (12/6/2026), didorong respons positif pasar terhadap kebijakan moneter termasuk kenaikan BI Rate menjadi 5,50%.

Ringkasan
Rupiah menguat 0,61% ke level Rp 17.865/US$ pada 12 Juni 2026. Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyebut penguatan ini sebagai respons positif pasar terhadap bauran kebijakan BI, termasuk kenaikan BI Rate ke 5,50%, yang mendorong aliran masuk modal asing mencapai Rp 15,11 triliun di SRBI nonresiden dan Rp 3,91 triliun di SBN pada 10-11 Juni.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Rupiah ditutup menguat 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada Jumat (12/6/2026), menjauh dari level psikologis Rp 18.000 dan mendekati area Rp 17.800. Bank Indonesia (BI) mengklaim penguatan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan moneter yang diterapkan bank sentral.
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa perkembangan nilai tukar rupiah didorong oleh serangkaian kebijakan BI. Kebijakan tersebut meliputi kenaikan BI Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.
Aliran Modal Asing Meningkat Pascakenaikan BI Rate
Pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif yang didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik. Tingginya minat investor global tercermin dari peningkatan inflows transaksi SRBI nonresiden dan SBN yang pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026 masing-masing tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun.
Destry juga menyebutkan aliran masuk modal asing terjadi pada obligasi internasional Danantara yang penjualan perdananya berhasil mencapai Rp 26,9 triliun. "Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik," paparnya.
Kerja Sama dengan PBOC dan HKMA Perkuat Ketahanan Eksternal
Ketahanan eksternal semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan antara Bank Indonesia, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA). Terdapat tiga kesepakatan yang dihasilkan: sinergi memperkuat ketahanan keuangan masing-masing negara dan stabilitas keuangan regional yang lebih luas, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT).
"Langkah tersebut akan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah," jelas Destry. Secara umum di sektor keuangan internasional, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dapat mengurangi eksposur risiko nilai tukar terhadap mata uang acuan global.
Komitmen BI Jaga Stabilitas Rupiah
Destry memastikan Bank Indonesia akan terus hadir di pasar, mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur, serta memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
"Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap US dolar menuju ke level fundamentalnya," tegas Destry. Implikasinya, jika tren ini berlanjut, rupiah berpotensi mencapai level yang lebih mencerminkan kondisi ekonomi riil Indonesia, meskipun pergerakan nilai tukar tetap dipengaruhi berbagai faktor global dan domestik yang dinamis.
Langkah-langkah kebijakan BI ini, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia, juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi makro.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa posisi nilai tukar rupiah pada 12 Juni 2026?
- Rupiah ditutup menguat 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada Jumat, 12 Juni 2026, menurut data Refinitiv. Posisi ini menjauhkan rupiah dari level psikologis Rp 18.000 dan mendekati area Rp 17.800.
- Apa saja kebijakan BI yang mendorong penguatan rupiah?
- Kebijakan BI meliputi kenaikan BI Rate menjadi 5,50%, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.
- Berapa aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI dan SBN?
- Pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026, aliran masuk modal asing ke transaksi SRBI nonresiden tercatat sebesar Rp 15,11 triliun dan ke SBN sebesar Rp 3,91 triliun. Selain itu, obligasi internasional Danantara berhasil mencapai Rp 26,9 triliun pada penjualan perdananya.
- Apa isi kerja sama BI dengan PBOC dan HKMA?
- Kerja sama menghasilkan tiga kesepakatan: sinergi memperkuat ketahanan keuangan dan stabilitas regional, penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA), serta penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal melalui perluasan Local Currency Transaction (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Rupiah Menguat 0,61% ke Rp17.865 per Dolar AS, Jauh dari Level Rp18.000
Mata uang Garuda ditutup menguat pada Jumat (12/6/2026) seiring melemahnya dolar AS di pasar global, meski di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
BI Catat Aliran Modal Asing Rp19,02 Triliun dalam Dua Hari
Bank Indonesia mencatat inflows modal asing signifikan pasca kenaikan BI Rate 50 bps, memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS.
Bank Dunia Soroti Dampak Isu MSCI terhadap Pasar Modal Indonesia
Pembekuan saham Indonesia dari indeks MSCI pada Januari 2026 memicu outflow asing USD 600 juta dan melemahkan rupiah, menurut laporan Bank Dunia.
IHSG Tembus 6.000, Dony Oskaria Ajak Jaga Optimisme
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyambut positif penguatan IHSG ke level 6.000, menyebutnya bukti kepercayaan investor pada fundamental ekonomi Indonesia.
Ekonom Senior Jelaskan Perbedaan Fundamental Ekonomi dan Pasar Keuangan
Raden Pardede menyebut adanya data lag 3-6 bulan membuat fundamental ekonomi terlihat kuat, sementara dampak kenaikan harga dan BI Rate baru akan terasa kemudian.




