BI Catat Aliran Modal Asing Rp19,02 Triliun dalam Dua Hari
Bank Indonesia mencatat inflows modal asing signifikan pasca kenaikan BI Rate 50 bps, memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS.

Ringkasan
Deputi Gubernur BI Destry Damayanti melaporkan aliran modal asing masuk Rp19,02 triliun pada 10-11 Juni 2026, terdiri dari transaksi SRBI nonresiden Rp15,11 triliun dan SBN Rp3,91 triliun. Inflows ini menyusul bauran kebijakan moneter termasuk kenaikan BI Rate 50 bps, penguatan struktur suku bunga SRBI, dan insentif hedging swap.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing (inflows) sebesar Rp19,02 triliun dalam dua hari terakhir, tepatnya pada tanggal 10 dan 11 Juni 2026. Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa aliran dana ini merupakan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan moneter yang diperkuat oleh bank sentral.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat (12 Juni 2026), Destry merinci bahwa inflows tersebut terdiri dari transaksi SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) nonresiden sebesar Rp15,11 triliun dan SBN (Surat Berharga Negara) senilai Rp3,91 triliun. Tingginya minat investor global ini tecermin dari peningkatan signifikan pada kedua instrumen keuangan domestik tersebut.
Bauran Kebijakan Moneter BI
Aliran modal asing ini sejalan dengan serangkaian kebijakan yang ditempuh BI, termasuk kenaikan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) dalam sebulan terakhir. Selain itu, bank sentral memperkuat struktur suku bunga SRBI, memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, dan membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan.
BI juga meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar. Destry menegaskan bahwa pasca kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik.
Penguatan Posisi Rupiah
Aliran dana asing ini turut memperkuat posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terapresiasi 0,61% ke posisi Rp17.865 per dolar AS. Posisi ini membuat rupiah semakin menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan mulai mendekati area Rp17.800 per dolar AS.
Secara umum, penguatan nilai tukar rupiah mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi domestik dan efektivitas kebijakan moneter yang ditempuh bank sentral. Implikasinya, stabilitas nilai tukar ini dapat memberikan ruang bagi BI untuk mengelola inflasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi secara lebih seimbang.
Respons Pasar Terhadap Kebijakan
Destry menegaskan bahwa perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia. Kombinasi antara pengetatan moneter melalui kenaikan suku bunga dan penyediaan instrumen likuiditas tampaknya berhasil menarik minat investor asing untuk menempatkan dana di pasar keuangan Indonesia.
Perlu dicermati bahwa keberhasilan menarik aliran modal asing dalam jangka pendek ini perlu diikuti dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan reformasi struktural agar investor tetap percaya pada prospek jangka panjang ekonomi Indonesia. Kebijakan moneter yang kredibel dan terukur menjadi kunci untuk mempertahankan kepercayaan pasar di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa besar aliran modal asing yang masuk ke Indonesia pada 10-11 Juni 2026?
- Bank Indonesia mencatat aliran modal asing (inflows) sebesar Rp19,02 triliun dalam dua hari tersebut, terdiri dari transaksi SRBI nonresiden Rp15,11 triliun dan SBN Rp3,91 triliun.
- Apa saja kebijakan BI yang menarik aliran modal asing?
- BI menerapkan bauran kebijakan termasuk kenaikan BI Rate 50 basis poin dalam sebulan terakhir, penguatan struktur suku bunga SRBI, pemberian insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk likuiditas perbankan, serta peningkatan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing.
- Bagaimana dampak aliran modal asing terhadap nilai tukar rupiah?
- Aliran modal asing memperkuat posisi rupiah yang terapresiasi 0,61% ke posisi Rp17.865 per dolar AS, menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS dan mendekati area Rp17.800 per dolar AS.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Rupiah Menguat 0,61% ke Rp17.865 per Dolar AS, Jauh dari Level Rp18.000
Mata uang Garuda ditutup menguat pada Jumat (12/6/2026) seiring melemahnya dolar AS di pasar global, meski di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.865/US$, BI Sebut Respons Positif Pasar
Bank Indonesia mencatat rupiah terapresiasi 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada penutupan Jumat (12/6/2026), didorong respons positif pasar terhadap kebijakan moneter termasuk kenaikan BI Rate menjadi 5,50%.
Bank Dunia Soroti Dampak Isu MSCI terhadap Pasar Modal Indonesia
Pembekuan saham Indonesia dari indeks MSCI pada Januari 2026 memicu outflow asing USD 600 juta dan melemahkan rupiah, menurut laporan Bank Dunia.
IHSG Tembus 6.000, Dony Oskaria Ajak Jaga Optimisme
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyambut positif penguatan IHSG ke level 6.000, menyebutnya bukti kepercayaan investor pada fundamental ekonomi Indonesia.
Ekonom Senior Jelaskan Perbedaan Fundamental Ekonomi dan Pasar Keuangan
Raden Pardede menyebut adanya data lag 3-6 bulan membuat fundamental ekonomi terlihat kuat, sementara dampak kenaikan harga dan BI Rate baru akan terasa kemudian.




