Lompat ke konten utama
sorotutama

Vaksin HPV Gratis di SD: Jadwal BIAS, Biaya BPJS, dan Manfaatnya

Program pemerintah menyediakan vaksin HPV gratis untuk anak kelas 5-6 SD guna mencegah kanker serviks dan jenis kanker lain akibat human papillomavirus.

Oleh Dr. Sari Lestari4 menit baca
Vaksinasi di klinik — ilustrasi program imunisasi HPV Indonesia
Foto: Nataliya Vaitkevich via Pexels

Ringkasan

Vaksin HPV kini tersedia gratis melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) untuk siswi SD kelas 5-6. Vaksin ini mencegah infeksi human papillomavirus penyebab kanker serviks, kanker oral, dan kanker anal dengan efektivitas hingga 90 persen menurut WHO. Program nasional menggunakan vaksin 2-valent atau 4-valent, sementara vaksin 9-valent tersedia di layanan swasta. Untuk dewasa, vaksin dapat diakses melalui BPJS Kesehatan dengan rujukan atau layanan swasta dengan biaya Rp800 ribu hingga Rp3,5 juta per dosis tergantung tipe vaksin.

Daftar isi▶ buka

Kementerian Kesehatan RI resmi memasukkan vaksin HPV ke dalam program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) sejak 2022, menyasar siswi kelas 5 dan 6 SD di seluruh Indonesia. Langkah ini menjadi terobosan penting mengingat Indonesia mencatat lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks setiap tahun dengan angka kematian mencapai 21.000 jiwa, menurut data Globocan 2020 yang dirilis WHO. Vaksin HPV terbukti efektif mencegah hingga 90 persen kasus kanker serviks jika diberikan sebelum seseorang terpapar virus.

Human papillomavirus (HPV) adalah kelompok virus dengan lebih dari 100 tipe yang menyebar melalui kontak kulit atau mukosa. Dari jumlah tersebut, tipe 16 dan 18 bertanggung jawab atas 70 persen kasus kanker serviks secara global, sementara tipe 6 dan 11 menyebabkan 90 persen kutil kelamin menurut publikasi WHO. Padahal, infeksi HPV tidak hanya memicu kanker serviks—virus ini juga terkait dengan kanker vulva, vagina, penis, anus, serta kanker orofaring (tenggorokan dan pangkal lidah).

Apa bedanya vaksin 2-valent, 4-valent, dan 9-valent?

Vaksin HPV tersedia dalam tiga grade yang melindungi dari jumlah tipe virus berbeda. Vaksin 2-valent melindungi terhadap HPV tipe 16 dan 18 (penyebab utama kanker serviks). Vaksin 4-valent menambahkan perlindungan terhadap tipe 6 dan 11 (penyebab kutil kelamin). Sementara vaksin 9-valent memberikan proteksi paling luas dengan mencakup sembilan tipe HPV: 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58.

Program BIAS pemerintah menggunakan vaksin 2-valent atau 4-valent sesuai ketersediaan di tiap daerah, dengan jadwal pemberian dua dosis berjarak enam bulan untuk anak usia 9-14 tahun. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam jadwal imunisasi 2023 merekomendasikan pemberian vaksin HPV mulai usia 9 tahun untuk hasil optimal, karena respons imun anak pra-remaja lebih kuat dibanding dewasa. Untuk usia 15 tahun ke atas, protokol berubah menjadi tiga dosis dengan jadwal 0, 1-2 bulan, dan 6 bulan kemudian.

Bagaimana cara mengakses vaksin HPV gratis melalui BIAS?

Setiap siswi kelas 5 SD di sekolah yang terdaftar dalam program BIAS akan menerima vaksinasi secara gratis di sekolah atau puskesmas terdekat. Orang tua cukup mengisi formulir persetujuan yang dibagikan pihak sekolah. Dosis pertama diberikan saat kelas 5, kemudian dosis kedua enam bulan kemudian atau saat anak naik ke kelas 6. Tidak ada biaya yang dibebankan karena vaksin ini sepenuhnya ditanggung APBN melalui anggaran Kemenkes.

Untuk anak yang terlewat program BIAS atau sudah berusia di atas 12 tahun, vaksin tetap bisa diakses melalui puskesmas atau rumah sakit dengan rujukan BPJS Kesehatan. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional, vaksin HPV termasuk dalam paket manfaat promotif-preventif yang dapat diakses peserta BPJS dengan prosedur rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama.

Berapa biaya vaksin HPV untuk dewasa di layanan swasta?

Di luar program pemerintah, vaksin HPV tersedia di klinik dan rumah sakit swasta dengan rentang harga bervariasi. Vaksin 2-valent dipatok sekitar Rp800.000 hingga Rp1,2 juta per dosis. Vaksin 4-valent berkisar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per dosis. Sementara vaksin 9-valent yang menawarkan perlindungan terluas berada di kisaran Rp2,8 juta hingga Rp3,5 juta per dosis, berdasarkan survei harga di beberapa jaringan klinik vaksinasi Jakarta dan Surabaya per Januari 2025.

Untuk dewasa yang ingin vaksinasi melalui BPJS, prosedurnya dimulai dengan konsultasi di puskesmas atau klinik pratama untuk mendapat rujukan ke rumah sakit yang menyediakan layanan vaksinasi. BPJS menanggung biaya vaksin HPV hingga usia 26 tahun dengan indikasi medis tertentu, meskipun ketersediaan vaksin di fasilitas kesehatan pemerintah masih terbatas. Peserta disarankan mengonfirmasi ketersediaan stok vaksin sebelum datang ke fasilitas kesehatan.

Apa efek samping yang mungkin terjadi?

WHO dan IDAI mencatat vaksin HPV memiliki profil keamanan sangat baik dengan lebih dari 500 juta dosis telah diberikan secara global sejak 2006. Efek samping yang umum terjadi bersifat ringan dan sementara, meliputi nyeri, kemerahan, atau bengkak di lokasi suntikan yang berlangsung 1-2 hari. Sebagian kecil penerima vaksin mengalami demam ringan, pusing, atau mual dalam 24 jam pertama.

  • Nyeri atau bengkak di lengan tempat suntikan (dialami 8 dari 10 penerima vaksin)
  • Demam ringan di bawah 38°C (dialami 1 dari 10 penerima)
  • Pusing atau pingsan sesaat setelah vaksinasi (sangat jarang, lebih sering pada remaja)
  • Reaksi alergi berat seperti anafilaksis (kurang dari 1 per 1 juta dosis)

Untuk meminimalkan risiko pingsan, penerima vaksin disarankan duduk atau berbaring selama 15 menit setelah penyuntikan. Ibu hamil sebaiknya menunda vaksinasi hingga setelah melahirkan meskipun tidak ada bukti vaksin HPV membahayakan janin. Konsultasikan dengan dokter jika memiliki riwayat alergi berat terhadap komponen vaksin atau sedang dalam kondisi sakit berat.

Mengapa vaksin HPV penting untuk laki-laki?

Meski program BIAS saat ini hanya menyasar perempuan, IDAI merekomendasikan vaksinasi HPV untuk laki-laki mulai usia 9-26 tahun. Laki-laki dapat tertular dan menularkan HPV, serta berisiko mengalami kanker penis, kanker anal, dan kanker orofaring akibat infeksi HPV tipe tertentu. Di Amerika Serikat, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan sekitar 14.000 kasus kanker terkait HPV pada laki-laki setiap tahun.

Vaksinasi laki-laki juga menciptakan herd immunity yang melindungi populasi lebih luas dengan memutus rantai penularan. Australia yang menerapkan program vaksinasi HPV universal untuk perempuan dan laki-laki sejak 2013 berhasil menurunkan prevalensi infeksi HPV hingga 77 persen pada perempuan muda menurut studi yang dipublikasikan The Lancet tahun 2019. Saat ini, vaksin HPV untuk laki-laki di Indonesia hanya tersedia melalui layanan swasta dengan biaya serupa seperti untuk perempuan.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah vaksin HPV aman untuk anak SD?
Ya, WHO dan IDAI menyatakan vaksin HPV sangat aman dengan lebih dari 500 juta dosis diberikan global sejak 2006. Efek samping umumnya ringan seperti nyeri di lokasi suntikan atau demam ringan yang hilang dalam 1-2 hari.
Berapa kali anak harus divaksin HPV?
Anak usia 9-14 tahun cukup dua dosis dengan jarak enam bulan. Untuk usia 15 tahun ke atas diperlukan tiga dosis dengan jadwal 0, 1-2 bulan, dan 6 bulan kemudian sesuai rekomendasi IDAI.
Apakah vaksin HPV gratis untuk semua anak?
Vaksin HPV gratis melalui program BIAS hanya untuk siswi SD kelas 5-6 di sekolah terdaftar. Di luar itu, vaksin dapat diakses via BPJS dengan rujukan atau layanan swasta dengan biaya Rp800 ribu hingga Rp3,5 juta per dosis.
Apakah masih perlu skrining kanker serviks setelah vaksin HPV?
Ya, vaksin HPV tidak melindungi 100 persen dari semua tipe HPV penyebab kanker. WHO merekomendasikan perempuan tetap menjalani skrining kanker serviks rutin mulai usia 25-30 tahun meskipun sudah divaksin.
Bisakah vaksin HPV diberikan saat dewasa?
Bisa, vaksin HPV efektif hingga usia 26 tahun dan dapat diberikan hingga 45 tahun dengan efektivitas lebih rendah. Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan kebutuhan vaksinasi sesuai riwayat paparan HPV.

Sumber

  1. WHO — HPV Vaccines
  2. Kemenkes RI — Program BIAS
  3. IDAI — Jadwal Imunisasi
  4. BPJS Kesehatan — Layanan Vaksinasi
#Vaksin Hpv#Kanker Serviks#Program Bias#Imunisasi Anak#Bpjs Kesehatan#Kesehatan Publik

Tentang penulis

Dr. Sari Lestari — Reviewer Sains Sorot Utama (PhD biologi laut)
Dr. Sari Lestari

Reviewer Sains · Ph.D. Biologi Laut, Universitas Indonesia, M.Sc. Marine Biology, University of Queensland, Anggota Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII)

Dr. Sari Lestari adalah peneliti biologi laut dengan PhD dari Universitas Indonesia. Bertindak sebagai reviewer artikel sains di Sorot Utama untuk memastikan akurasi metodologi dan interpretasi temuan riset. Tidak menulis sebagai byline utama; perannya memvalidasi konten YMYL sains.

Baca juga