Lompat ke konten utama
sorotutama

Mitigasi Gempa: Langkah Sebelum, Saat, dan Sesudah Guncangan

Panduan kesiapsiagaan keluarga berbasis acuan resmi BMKG dan BNPB, dari persiapan rumah dan tas siaga hingga prinsip Drop, Cover, Hold On dan evakuasi tsunami.

Oleh Sari Lestari5 menit baca
Ilustrasi: Mitigasi Gempa: Langkah Sebelum, Saat, dan Sesudah Guncangan
Foto: Franklin Peña Gutierrez via Pexels

Ringkasan

Saat guncangan terjadi, prinsip utamanya adalah Drop, Cover, Hold On: merunduk, berlindung di bawah meja kokoh sambil melindungi kepala, dan bertahan sampai guncangan berhenti - bukan berlari panik keluar. Kesiapsiagaan dibangun sebelum gempa: rumah yang aman, perabot diikat ke dinding, dan tas siaga untuk bertahan minimal 72 jam. Bila dekat pantai dan merasakan guncangan kuat, segera evakuasi mandiri ke tempat tinggi tanpa menunggu sirene.

Daftar isi▶ buka

Saat bumi berguncang, satu prinsip yang dianjurkan lembaga kebencanaan adalah Drop, Cover, Hold On: segera merunduk ke lantai, berlindung di bawah meja atau benda kokoh sambil melindungi kepala dan leher, lalu bertahan sampai guncangan benar-benar berhenti. Sebagian besar korban gempa bukan tertimpa runtuhan total bangunan, melainkan terkena benda jatuh atau cedera saat panik berhamburan keluar. Karena itu, kesiapsiagaan gempa bukan soal reaksi sesaat, melainkan rangkaian tindakan yang disiapkan jauh sebelum guncangan datang, dijalankan dengan tenang saat terjadi, dan dituntaskan dengan langkah aman sesudahnya.

Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar dan jalur Cincin Api Pasifik, sehingga gempa adalah risiko yang tidak bisa diprediksi waktunya. Yang bisa kita kendalikan adalah seberapa siap rumah, keluarga, dan diri kita. Panduan di bawah ini merangkum acuan resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sebelum gempa: amankan rumah dan siapkan keluarga

Persiapan paling efektif dilakukan saat keadaan tenang. BMKG menekankan agar Anda lebih dulu mengenali struktur dan lokasi rumah, lalu mengamankan isinya. Langkah-langkah utama:

  • Periksa struktur bangunan dan lokasi rumah agar terhindar dari bahaya ikutan seperti longsor; renovasi bagian yang rapuh bila perlu.
  • Tempelkan dan kunci perabot tinggi (lemari, rak, kabinet) ke dinding agar tidak roboh atau bergeser saat berguncang.
  • Letakkan benda berat dan mudah pecah di rak bawah, jauh dari tempat tidur dan jalur keluar.
  • Kenali titik aman di tiap ruangan (di bawah meja kokoh, dekat dinding bagian dalam) dan jalur evakuasi menuju area terbuka.
  • Catat nomor telepon penting, pelajari P3K dasar, dan ketahui cara menggunakan alat pemadam api ringan.
  • Ketahui cara mematikan aliran listrik, gas, dan air di rumah untuk mencegah kebakaran setelah gempa.

Apa saja isi tas siaga bencana?

Tas siaga bencana adalah tas berisi kebutuhan dasar yang membantu keluarga bertahan pada jam-jam awal setelah bencana, ketika bantuan belum tentu langsung tiba. BNPB menyarankan perbekalan untuk bertahan minimal 72 jam (tiga hari). Simpan tas di tempat yang mudah dijangkau dekat pintu, dan periksa isinya secara berkala karena makanan, air, dan obat punya tanggal kedaluwarsa. Isi yang dianjurkan antara lain:

  • Air minum dan makanan tahan lama secukupnya untuk tiga hari.
  • Salinan dokumen penting (KTP, kartu keluarga, akta, surat berharga) dalam map atau plastik kedap air.
  • Kotak P3K dan obat pribadi rutin beserta obat dasar.
  • Senter dan baterai cadangan, serta sumber penerangan darurat seperti headlamp atau lampu.
  • Power bank, peluit untuk meminta tolong, masker, dan uang tunai secukupnya.
  • Pakaian ganti, jaket atau selimut, serta perlengkapan kebersihan dasar.

Saat gempa: Drop, Cover, Hold On

Tindakan selama guncangan bergantung pada di mana Anda berada. Yang terpenting: jangan panik berlari sembarangan, dan jangan menggunakan lift. Sesuaikan langkah dengan situasi berikut.

Jika Anda di dalam ruangan

  • Lindungi kepala dan badan dengan merunduk dan berlindung di bawah meja kokoh; bertahan sambil memegang kakinya sampai guncangan berhenti.
  • Jauhi kaca, jendela, lemari, rak, dan benda yang berpotensi jatuh.
  • Jika tidak ada meja, merunduk di sudut dalam ruangan sambil melindungi kepala dengan lengan atau bantal.
  • Keluar dengan tertib hanya bila pintu dekat dan jalur aman; jangan memaksa berlari menembus reruntuhan.
  • Jangan gunakan lift; setelah guncangan reda, gunakan tangga biasa untuk keluar.

Jika Anda di luar ruangan atau sedang berkendara

  • Di luar ruangan, menjauhlah dari bangunan, tiang dan kabel listrik, pohon besar, serta papan reklame; cari lapangan terbuka.
  • Perhatikan tempat berpijak dan hindari area yang mengalami rekahan tanah.
  • Jika sedang menyetir, kurangi kecepatan dan berhenti di tempat aman menjauhi jembatan, jalan layang, dan tiang; tetap di dalam mobil sampai guncangan reda, kecuali ada bahaya kebakaran atau pergeseran tanah.
  • Di daerah perbukitan, jauhi lereng yang rawan longsor.

Bagaimana jika gempa berpotensi tsunami?

Bagi yang berada di pesisir, ancaman terbesar setelah guncangan adalah tsunami, dan waktunya sangat sempit. BMKG menegaskan pentingnya evakuasi mandiri: jangan menunggu sirene atau peringatan resmi. Jadikan guncangan itu sendiri sebagai alarm alami. Jika Anda di tepi pantai dan merasakan guncangan kuat yang berlangsung lama, atau melihat air laut surut tiba-tiba secara tidak wajar, segera lakukan ini begitu guncangan berhenti:

  1. Jauhi pantai, muara, dan sungai; bergeraklah menjauh dari garis pantai secepat mungkin.
  2. Naik ke tempat tinggi: bukit atau dataran tinggi. Bila tidak ada, naik ke lantai atas gedung bertingkat yang kokoh dari beton bertulang.
  3. Ikuti rambu dan jalur evakuasi tsunami yang sudah ditetapkan di wilayah Anda menuju titik kumpul aman.
  4. Tetap di tempat tinggi sampai ada pengumuman resmi bahwa ancaman berakhir; gelombang susulan bisa lebih besar daripada yang pertama.

Sistem peringatan dini Indonesia (InaTEWS) yang dikelola BMKG memang menyiarkan informasi potensi tsunami dalam hitungan menit. Namun pada gempa yang sumbernya dekat pantai, tsunami bisa tiba sebelum peringatan tersebar luas. Itulah mengapa respons mandiri yang cepat lebih menentukan keselamatan daripada menunggu instruksi.

Sesudah gempa: periksa, waspadai susulan, cari sumber resmi

Begitu guncangan utama berhenti, bahaya belum tentu selesai. Bangunan bisa melemah dan gempa susulan kerap mengikuti. BMKG menganjurkan langkah berikut:

  • Keluar dari bangunan dengan tertib lewat tangga biasa, bukan lift, menuju area terbuka.
  • Periksa diri sendiri dan orang sekitar dari cedera, lalu lakukan pertolongan pertama bila perlu.
  • Waspadai kebocoran gas, korsleting listrik, dan kerusakan saluran air; matikan sumbernya bila aman dilakukan.
  • Jangan masuk kembali ke bangunan yang retak atau miring karena rawan roboh saat gempa susulan.
  • Pantau informasi resmi dari BMKG dan BNPB; jangan mudah percaya kabar yang tidak jelas sumbernya.

Kesiapsiagaan adalah keterampilan yang harus dilatih, bukan sekadar dibaca. BNPB mendorong masyarakat melakukan simulasi atau gladi secara berkala, antara lain saat Hari Kesiapsiagaan Bencana setiap 26 April. Latih anggota keluarga mengenali titik aman dan jalur evakuasi sampai gerakan Drop, Cover, Hold On menjadi refleks. Untuk panduan dan peringatan terbaru sesuai wilayah Anda, selalu rujuk kanal resmi BMKG dan BNPB.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu prinsip Drop, Cover, Hold On saat gempa?
Drop, Cover, Hold On adalah tindakan dasar yang dianjurkan BNPB saat gempa: Drop (merunduk ke lantai), Cover (berlindung di bawah meja atau benda kokoh sambil melindungi kepala dan leher), dan Hold On (bertahan dengan memegang penopang sampai guncangan benar-benar berhenti). Prinsip ini menjaga Anda dari benda jatuh dan lebih aman daripada berlari panik keluar saat tanah masih berguncang.
Berapa lama persediaan dalam tas siaga bencana harus cukup?
BNPB menyarankan tas siaga bencana memuat kebutuhan dasar untuk bertahan minimal 72 jam atau tiga hari, yaitu masa kritis ketika bantuan mungkin belum dapat menjangkau lokasi. Isinya antara lain air dan makanan tahan lama, salinan dokumen penting dalam wadah kedap air, P3K dan obat pribadi, senter dengan baterai cadangan, serta perlengkapan pendukung lain. Periksa isinya secara berkala karena ada yang kedaluwarsa.
Apakah harus menunggu sirene atau peringatan BMKG sebelum mengungsi dari tsunami?
Tidak. BMKG menekankan evakuasi mandiri bagi warga pesisir. Jika Anda merasakan guncangan kuat yang lama atau melihat air laut surut tiba-tiba di tepi pantai, segera menjauh ke tempat tinggi setelah guncangan berhenti tanpa menunggu sirene atau peringatan resmi. Pada gempa dekat pantai, tsunami bisa datang sebelum peringatan tersebar, sehingga respons cepat secara mandiri menentukan keselamatan.
Apa yang harus dilakukan tepat setelah gempa berhenti?
Keluar dari bangunan dengan tertib melalui tangga biasa, bukan lift, menuju area terbuka. Periksa cedera dan berikan pertolongan pertama, waspadai kebocoran gas serta korsleting listrik, dan jangan masuk kembali ke bangunan yang retak karena rawan roboh saat gempa susulan. Pantau informasi resmi dari BMKG dan BNPB, dan hindari kabar yang tidak jelas sumbernya.

Sumber

  1. BMKG - Antisipasi Gempabumi (sebelum, saat, sesudah)
  2. BMKG - Gempa Bumi Berpotensi Tsunami
  3. BNPB - Siaga Bencana
  4. InaTEWS BMKG - Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia
#mitigasi gempa#Bmkg#Bnpb#Drop Cover Hold On

Tentang penulis

Sari Lestari · Reviewer Sains Sorot Utama
Sari Lestari

Reviewer Sains

Sari Lestari adalah reviewer sains Sorot Utama dengan fokus biologi kelautan dan ekologi. Bertindak sebagai reviewer artikel sains untuk memastikan akurasi metodologi dan interpretasi temuan riset, dengan merujuk publikasi dan pedoman lembaga resmi. Tidak menulis sebagai byline utama; perannya memvalidasi konten YMYL sains.

Baca juga