Lompat ke konten utama
sorotutama

Diabetes Tipe 2: Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Mencegahnya

Panduan ringkas mengenali gejala, faktor risiko, komplikasi, dan langkah pencegahan diabetes melitus tipe 2 berdasarkan rujukan WHO, IDF, dan Kemenkes.

Oleh Sari Lestari4 menit baca
Ilustrasi: Diabetes Tipe 2: Gejala, Faktor Risiko, dan Cara Mencegahnya
Foto: Nataliya Vaitkevich via Pexels

Ringkasan

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis akibat tubuh tidak dapat memakai insulin secara efektif (resistensi insulin) - jenis diabetes paling umum, lebih dari 95 persen kasus menurut WHO. Gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun, dan luka lambat sembuh kerap muncul perlahan. Artikel ini merangkum gejala, faktor risiko, komplikasi, dan pencegahannya, termasuk anjuran WHO beraktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.

Daftar isi▶ buka

Diabetes melitus tipe 2 adalah penyakit kronis ketika kadar gula darah terus-menerus tinggi karena tubuh tidak dapat menggunakan insulin secara efektif (resistensi insulin) dan/atau pankreas tidak memproduksi cukup insulin. Ini adalah jenis diabetes yang paling umum: WHO memperkirakan lebih dari 95 persen penyandang diabetes mengidap tipe 2. Gejalanya sering muncul perlahan sehingga banyak kasus baru terdeteksi setelah bertahun-tahun. Kabar baiknya, tipe 2 sebagian besar dapat dicegah dan dikendalikan melalui pola hidup sehat serta pemeriksaan gula darah rutin.

Apa itu diabetes tipe 2 dan mengapa terjadi?

Insulin adalah hormon dari pankreas yang membantu glukosa (gula) dari darah masuk ke sel untuk diubah menjadi energi. Pada diabetes tipe 2, sel tubuh menjadi kurang peka terhadap insulin - kondisi yang disebut resistensi insulin - sehingga glukosa menumpuk di dalam darah. Menurut WHO, diabetes terjadi ketika pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif. Seiring waktu, kadar gula darah yang tinggi merusak pembuluh darah dan saraf di seluruh tubuh.

Beban penyakit ini besar dan terus meningkat. WHO mencatat jumlah orang yang hidup dengan diabetes naik dari sekitar 200 juta pada 1990 menjadi 830 juta pada 2022, dan sekitar 14 persen orang dewasa berusia 18 tahun ke atas menyandang diabetes. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan sekitar 589 juta orang dewasa berusia 20-79 tahun hidup dengan diabetes pada 2024, dengan lebih dari 80 persen di antaranya berada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Indonesia termasuk negara dengan beban diabetes yang tinggi; untuk angka nasional terkini, rujuk data resmi Kementerian Kesehatan dan IDF Diabetes Atlas.

Apa saja gejala diabetes tipe 2?

Gejala dapat berbeda pada tiap orang, tetapi tanda yang umum meliputi:

  • Sering merasa haus dan banyak minum (polidipsia)
  • Sering buang air kecil, termasuk pada malam hari (poliuria)
  • Mudah merasa lapar meski sudah makan
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas
  • Penglihatan menjadi kabur
  • Luka yang lambat sembuh serta infeksi yang berulang
  • Mudah lelah, kadang disertai kesemutan atau mati rasa di tangan dan kaki

WHO mengingatkan bahwa gejala diabetes tipe 2 bisa ringan dan berkembang selama bertahun-tahun, sehingga penyakit ini tidak jarang baru diketahui setelah komplikasi muncul. Karena itu banyak kasus tidak terdiagnosis - IDF memperkirakan sekitar 4 dari 10 orang dewasa dengan diabetes belum mengetahui bahwa dirinya mengidap penyakit ini.

Siapa yang paling berisiko?

Beberapa faktor meningkatkan peluang seseorang mengembangkan diabetes tipe 2. Sebagian dapat diubah, sebagian tidak:

  • Kelebihan berat badan atau obesitas, karena lemak tubuh berlebih dapat mengganggu kerja insulin
  • Kurang aktivitas fisik dan gaya hidup banyak duduk
  • Riwayat keluarga (orang tua atau saudara kandung dengan diabetes) serta faktor genetik
  • Bertambahnya usia
  • Tekanan darah tinggi (hipertensi) dan gangguan kadar kolesterol
  • Pola makan tinggi gula dan lemak, serta kebiasaan merokok

Apa komplikasi bila tidak terkontrol?

Gula darah tinggi yang berlangsung lama merusak berbagai organ. WHO menyebut diabetes sebagai penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, serangan jantung, stroke, dan amputasi tungkai bawah. Pada 2021, diabetes berkontribusi terhadap lebih dari 2 juta kematian di seluruh dunia. Mengendalikan gula darah, tekanan darah, dan kolesterol sejak dini terbukti menurunkan risiko komplikasi-komplikasi tersebut.

Bagaimana cara mencegah diabetes tipe 2?

WHO menegaskan bahwa diabetes tipe 2 sering kali dapat dicegah. Langkah yang direkomendasikan antara lain:

  1. Menjaga berat badan tetap sehat
  2. Aktif bergerak - WHO menganjurkan orang dewasa melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, misalnya jalan cepat
  3. Menerapkan pola makan sehat: perbanyak sayur dan serat, serta batasi gula dan lemak jenuh
  4. Menghindari rokok dan membatasi konsumsi alkohol
  5. Memeriksa gula darah secara rutin, terutama bila memiliki faktor risiko, agar penyakit dapat dideteksi dan ditangani lebih awal

Belum ada obat yang menyembuhkan diabetes secara permanen, tetapi penyakit ini dapat dikendalikan dengan baik. Jangan memulai, menghentikan, atau mengubah obat apa pun tanpa arahan dokter, dan hindari klaim penyembuhan instan yang tidak berdasar.

Kapan harus periksa ke dokter?

Segera berkonsultasi ke fasilitas kesehatan - puskesmas, klinik, atau dokter - bila Anda mengalami gejala seperti sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, luka yang sulit sembuh, atau penglihatan kabur, terutama jika memiliki faktor risiko. Diagnosis diabetes ditegakkan melalui pemeriksaan gula darah oleh tenaga kesehatan, bukan dari gejala semata. WHO menekankan bahwa deteksi dini lewat pemeriksaan dan tes darah berkala adalah cara terbaik mencegah dampak terburuk diabetes tipe 2.

Artikel ini bersifat edukasi dan bukan pengganti nasihat medis. Untuk diagnosis, penetapan target gula darah, dan pengobatan yang sesuai dengan kondisi Anda, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah diabetes tipe 2 bisa disembuhkan?
Belum ada obat yang menyembuhkan diabetes tipe 2 secara permanen, tetapi penyakit ini dapat dikendalikan dengan pola hidup sehat, pemantauan gula darah, dan pengobatan sesuai anjuran dokter. Sebagian pasien dapat memperbaiki kondisinya melalui penurunan berat badan di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Selalu ikuti arahan dokter dan waspadai klaim penyembuhan instan.
Apa beda diabetes tipe 1 dan tipe 2?
Pada tipe 1, tubuh hampir tidak memproduksi insulin sehingga penyandangnya umumnya membutuhkan insulin seumur hidup dan sering muncul sejak usia muda. Pada tipe 2, tubuh masih memproduksi insulin tetapi tidak dapat menggunakannya secara efektif (resistensi insulin) dan umumnya terkait berat badan, gaya hidup, serta usia. Menurut WHO, tipe 2 adalah yang paling umum, lebih dari 95 persen kasus.
Berapa banyak olahraga untuk membantu mencegah diabetes tipe 2?
WHO menganjurkan orang dewasa melakukan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu, misalnya jalan cepat. Aktivitas fisik ini paling efektif bila dikombinasikan dengan menjaga berat badan sehat dan pola makan seimbang.
Apakah gejala diabetes tipe 2 selalu terasa?
Tidak selalu. WHO menyebutkan gejalanya bisa ringan dan berkembang bertahun-tahun, sehingga banyak kasus tidak terdiagnosis. Pemeriksaan gula darah secara rutin, terutama bagi yang memiliki faktor risiko, adalah cara terbaik untuk mendeteksinya lebih awal.

Sumber

  1. WHO - Diabetes (fact sheet)
  2. International Diabetes Federation - Diabetes facts & figures
  3. WHO - Physical activity (fact sheet)
  4. Kemenkes - Ayo Sehat: Diabetes Melitus Tipe 2
#Kesehatan

Tentang penulis

S
Sari Lestari

Reviewer Sains

Sari Lestari adalah reviewer sains Sorot Utama dengan fokus biologi kelautan dan ekologi. Bertindak sebagai reviewer artikel sains untuk memastikan akurasi metodologi dan interpretasi temuan riset, dengan merujuk publikasi dan pedoman lembaga resmi. Tidak menulis sebagai byline utama; perannya memvalidasi konten YMYL sains.

Baca juga