Lompat ke konten utama
sorotutama

Rupiah Melemah dan Solar Naik, Gapensi Minta Dukungan Pemerintah

Gejolak ekonomi global yang memicu pelemahan rupiah dan kenaikan harga solar membuat biaya produksi sektor konstruksi melonjak, dengan harga material naik 8% hingga 15%.

Oleh Redaksi Sorot Utama2 menit baca
Rupiah Melemah dan Solar Naik, Gapensi Minta Dukungan Pemerintah
Foto: Trinh Trần via Pexels

Ringkasan

Asosiasi pengusaha konstruksi Gapensi melaporkan dampak signifikan dari pelemahan rupiah dan kenaikan harga solar terhadap operasional bisnis konstruksi. Harga material naik 8%-15%, mendorong permintaan dukungan pemerintah untuk stabilitas proyek dan fleksibilitas aturan.

Daftar isi▶ buka

Sektor konstruksi Indonesia tengah menghadapi tekanan biaya akibat gejolak ekonomi dan geopolitik global. Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi, khususnya solar, telah mendorong biaya produksi meningkat tajam, demikian disampaikan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) pada Jumat (19/6/2026).

Sekretaris Jenderal 1 BPP Gapensi, Radinal Efendy, dalam dialog di CNBC Indonesia menjelaskan bahwa kombinasi rupiah yang melemah dan harga solar yang naik telah membuat harga material konstruksi turut melonjak antara 8% hingga 15%. Kondisi ini membebani operasional bisnis konstruksi secara keseluruhan.

Permintaan Dukungan Kebijakan

Gapensi berharap pemerintah dapat memberikan dukungan untuk menjaga stabilitas proyek-proyek yang sedang berjalan. Salah satu langkah yang diminta adalah fleksibilitas aturan, termasuk kemungkinan kenaikan nilai proyek pada proyek yang tengah berjalan dan terdampak oleh sentimen kenaikan harga solar dan material.

Fleksibilitas aturan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah tekanan biaya yang meningkat. Tanpa penyesuaian, implikasinya adalah margin keuntungan kontraktor akan tergerus atau bahkan proyek berisiko terhambat.

Apresiasi terhadap Peran Swasta

Di sisi lain, Gapensi mengapresiasi langkah pemerintah yang mendorong sektor swasta untuk berperan dalam proyek pembangunan infrastruktur. Proyek-proyek infrastruktur tersebut semakin menyebar di berbagai daerah di Indonesia, membuka peluang bagi pelaku konstruksi meski di tengah tantangan ekonomi makro.

Secara umum, sektor konstruksi sangat sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan harga energi karena sebagian besar material dan peralatan berat bergantung pada impor atau komponen berbasis dolar. Perlu dicermati bahwa jika kondisi makro ekonomi tidak segera stabil, tekanan biaya ini dapat berdampak pada jadwal penyelesaian proyek infrastruktur nasional.

Konteks Ekonomi Global

Gejolak ekonomi dan geopolitik global yang dimaksud mencakup dinamika pasar energi dunia dan tekanan terhadap mata uang negara berkembang. Meski detail spesifik penyebab pelemahan rupiah dan kenaikan harga solar tidak dirinci dalam laporan ini, dampaknya terhadap sektor riil seperti konstruksi sudah terasa nyata.

Gapensi, sebagai asosiasi yang mewakili pengusaha konstruksi nasional, kini menunggu respons konkret dari pemerintah untuk memastikan proyek-proyek infrastruktur tetap berjalan tanpa gangguan signifikan akibat lonjakan biaya operasional.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa persen kenaikan harga material konstruksi akibat pelemahan rupiah dan kenaikan solar?
Menurut Gapensi, harga material konstruksi naik antara 8% hingga 15% akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga solar.
Apa yang diminta Gapensi kepada pemerintah terkait dampak kenaikan biaya konstruksi?
Gapensi meminta dukungan pemerintah untuk menjaga stabilitas proyek, termasuk fleksibilitas aturan dan kemungkinan kenaikan nilai proyek yang sedang berjalan dan terdampak kenaikan harga solar serta material.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Rupiah#Konstruksi#Harga Energi#Infrastruktur

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga