Lompat ke konten utama
sorotutama

Bagaimana Pemerintah dan BI Mengendalikan Inflasi di Indonesia

Dari suku bunga acuan hingga koordinasi TPIP/TPID, inilah instrumen kebijakan yang digunakan otoritas untuk menjaga stabilitas harga.

Oleh Vina Maharani4 menit baca
Cara mengendalikan inflasi · kebijakan moneter BI, fiskal, dan TPIP/TPID
Foto: Arthur Shuraev via Pexels

Ringkasan

Pengendalian inflasi di Indonesia melibatkan koordinasi kebijakan moneter Bank Indonesia (BI-Rate, operasi pasar terbuka, GWM, stabilisasi rupiah) dan kebijakan fiskal pemerintah (subsidi, perpajakan, pengelolaan APBN). Keduanya bekerja dalam kerangka Inflation Targeting Framework (ITF) dengan target inflasi yang ditetapkan bersama. Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID) menerapkan strategi 4K, Keterjangkauan, Ketersediaan, Kelancaran, Komunikasi, untuk menjaga stabilitas harga pangan dan barang strategis. Stabilitas harga melindungi daya beli masyarakat dan…

Daftar isi▶ buka

Inflasi yang terkendali adalah salah satu fondasi stabilitas ekonomi. Di Indonesia, pengendalian inflasi bukan hanya tugas satu lembaga, melainkan hasil koordinasi antara Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter, pemerintah melalui kebijakan fiskal, serta Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID). Pendekatan terpadu ini bertujuan menjaga daya beli masyarakat, menciptakan iklim investasi yang kondusif, dan memastikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Apa itu Inflation Targeting Framework (ITF)?

Sejak 2005, Indonesia menerapkan kerangka kerja Inflation Targeting Framework (ITF), di mana Bank Indonesia dan pemerintah menetapkan target inflasi bersama untuk jangka menengah. Menurut situs resmi Bank Indonesia (bi.go.id), target inflasi ditetapkan tiga tahun ke depan melalui koordinasi dengan pemerintah, kemudian diumumkan kepada publik sebagai komitmen bersama. Target ini menjadi acuan bagi BI dalam merumuskan kebijakan moneter dan bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan fiskal.

Sebagai contoh, target inflasi Indonesia untuk periode 2024-2026 ditetapkan pada kisaran 1,5-3,5 persen, dengan midpoint 2,5 persen. Penetapan target yang kredibel dan transparan ini membantu mengarahkan ekspektasi pelaku ekonomi, dari konsumen, produsen, hingga investor, sehingga inflasi dapat dijaga dalam koridor yang sehat.

Bagaimana Bank Indonesia mengendalikan inflasi lewat kebijakan moneter?

Bank Indonesia memiliki empat instrumen utama dalam kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi:

  1. Suku Bunga Acuan (BI-Rate): BI menggunakan suku bunga acuan sebagai sinyal kebijakan moneter. Ketika inflasi meningkat, BI dapat menaikkan suku bunga untuk mengurangi konsumsi dan investasi berlebih, sehingga meredam tekanan harga. Sebaliknya, saat ekonomi melambat dan inflasi rendah, BI dapat menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan.
  2. Operasi Pasar Terbuka (OPT): BI membeli atau menjual Surat Berharga Negara (SBN) dan instrumen keuangan lainnya untuk mengatur jumlah uang beredar di pasar. Dengan menyerap likuiditas berlebih, BI dapat mengurangi tekanan inflasi.
  3. Giro Wajib Minimum (GWM): BI mewajibkan bank-bank menyimpan sejumlah dana di BI sebagai cadangan. Menaikkan GWM berarti mengurangi dana yang dapat dipinjamkan bank kepada masyarakat, sehingga mengendalikan pertumbuhan kredit dan inflasi.
  4. Stabilisasi Nilai Tukar: BI melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Nilai tukar yang stabil melindungi harga barang impor dari lonjakan, yang dapat memicu inflasi imported.

Seluruh instrumen ini digunakan secara fleksibel sesuai kondisi ekonomi domestik dan global, dengan tujuan utama menjaga inflasi dalam target yang telah ditetapkan.

Apa peran kebijakan fiskal pemerintah dalam mengendalikan inflasi?

Sementara BI fokus pada sisi moneter, pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan kementerian teknis lainnya mengendalikan inflasi lewat kebijakan fiskal. Menurut informasi di situs Kementerian Keuangan (kemenkeu.go.id), instrumen fiskal utama meliputi:

  • Subsidi dan Bantuan Sosial: Pemerintah memberikan subsidi energi (BBM, listrik) dan bantuan pangan untuk menjaga harga barang kebutuhan pokok tetap terjangkau, terutama bagi kelompok rentan.
  • Kebijakan Perpajakan: Penyesuaian tarif pajak atau pemberian insentif fiskal dapat memengaruhi daya beli dan pola konsumsi masyarakat. Misalnya, penurunan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk barang tertentu dapat meredam inflasi sektoral.
  • Pengelolaan APBN: Disiplin fiskal, menjaga defisit anggaran dalam batas aman, mencegah tekanan inflasi akibat belanja pemerintah yang berlebihan. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk stabilisasi pasokan pangan dan infrastruktur distribusi.
  • Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan: Melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perum Bulog, pemerintah melakukan operasi pasar, impor strategis, dan pengelolaan stok pangan untuk menjaga ketersediaan dan harga beras, minyak goreng, dan komoditas vital lainnya.

Kebijakan fiskal yang terkoordinasi dengan kebijakan moneter menciptakan sinergi dalam menjaga stabilitas harga secara menyeluruh.

Bagaimana TPIP dan TPID bekerja mengendalikan inflasi?

Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dikoordinasikan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dengan anggota dari BI, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan kementerian terkait lainnya. Di tingkat daerah, TPID dipimpin oleh gubernur atau bupati/walikota, bekerja sama dengan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Daerah.

TPIP dan TPID menerapkan strategi 4K untuk pengendalian inflasi:

  1. Keterjangkauan Harga: Memastikan harga barang kebutuhan pokok tetap dalam jangkauan masyarakat melalui operasi pasar, subsidi, dan pengawasan harga.
  2. Ketersediaan Pasokan: Menjaga stok pangan dan barang strategis cukup, termasuk melalui impor jika produksi domestik tidak mencukupi.
  3. Kelancaran Distribusi: Memperbaiki infrastruktur logistik, mengurangi hambatan antar-daerah, dan memastikan barang sampai ke konsumen dengan cepat dan efisien.
  4. Komunikasi Efektif: Mengelola ekspektasi inflasi masyarakat melalui transparansi informasi harga, stok, dan kebijakan, sehingga mencegah kepanikan atau penimbunan.

Koordinasi antara pusat dan daerah ini sangat penting, mengingat inflasi di Indonesia bersifat heterogen, setiap daerah memiliki pola inflasi yang berbeda tergantung struktur ekonomi lokal, musim panen, dan kondisi infrastruktur.

Mengapa stabilitas harga penting bagi perekonomian?

Stabilitas harga bukan sekadar angka statistik. Inflasi yang rendah dan stabil melindungi daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan tetap dan rentan. Ketika harga naik terlalu cepat, nilai riil upah dan tabungan tergerus, kesenjangan ekonomi melebar, dan kemiskinan dapat meningkat.

Di sisi lain, inflasi yang terkendali menciptakan kepastian bagi pelaku usaha untuk berinvestasi dan memperluas produksi. Investor, baik domestik maupun asing, cenderung memilih negara dengan inflasi stabil karena risiko ketidakpastian lebih rendah. Stabilitas harga juga mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, di mana manfaat pertumbuhan dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan moneter dan target inflasi terkini, masyarakat dapat mengakses situs resmi Bank Indonesia di bi.go.id. Data fiskal dan kebijakan anggaran tersedia di situs Kementerian Keuangan, kemenkeu.go.id. Memahami bagaimana otoritas mengendalikan inflasi membantu masyarakat dan pelaku usaha membuat keputusan ekonomi yang lebih baik dan mendukung stabilitas bersama.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa bedanya kebijakan moneter dan fiskal dalam mengendalikan inflasi?
Kebijakan moneter dijalankan Bank Indonesia melalui instrumen seperti suku bunga acuan dan operasi pasar terbuka untuk mengatur jumlah uang beredar. Kebijakan fiskal dijalankan pemerintah melalui APBN, subsidi, perpajakan, dan pengelolaan pasokan untuk menjaga harga dan daya beli.
Siapa yang menetapkan target inflasi di Indonesia?
Target inflasi ditetapkan bersama oleh pemerintah dan Bank Indonesia dalam kerangka Inflation Targeting Framework (ITF), biasanya untuk jangka waktu tiga tahun ke depan, dan diumumkan kepada publik.
Apa itu strategi 4K yang diterapkan TPIP dan TPID?
Strategi 4K adalah pendekatan pengendalian inflasi melalui Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif kepada masyarakat untuk mengelola ekspektasi inflasi.
Mengapa stabilitas harga penting bagi masyarakat?
Stabilitas harga melindungi daya beli, terutama kelompok berpenghasilan tetap, mencegah kesenjangan ekonomi melebar, dan menciptakan kepastian bagi investasi serta pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Sumber

  1. Bank Indonesia · Moneter & Inflasi
  2. Kementerian Keuangan RI
#Inflasi#Kebijakan Moneter#Bank Indonesia#Kebijakan Fiskal

Tentang penulis

Vina Maharani · Redaktur Ekonomi Sorot Utama
Vina Maharani

Redaktur Ekonomi

Vina Maharani menulis tentang ekonomi makro, kebijakan moneter, dan dampaknya terhadap keuangan rumah tangga, dengan rujukan utama data resmi Bank Indonesia, BPS, dan OJK.

Baca juga