IHSG Tembus 6.000, Dony Oskaria Ajak Jaga Optimisme
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyambut positif penguatan IHSG ke level 6.000, menyebutnya bukti kepercayaan investor pada fundamental ekonomi Indonesia.

Ringkasan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 6.000 pada Jumat (12/6/2026). COO Danantara Dony Oskaria menyebut pencapaian ini sebagai bukti kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia, didukung oleh penurunan suku bunga BI ke 5,50% dan koordinasi kebijakan fiskal-moneter yang intensif.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus level 6.000 pada perdagangan Jumat (12/6/2026), disertai penguatan rupiah yang signifikan. Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN Dony Oskaria menyambut momentum ini dengan mengajak masyarakat menjaga optimisme di tengah perbaikan kondisi pasar.
"Melihat pergerakan IHSG yang melesat hijau dan nilai tukar Rupiah yang kembali menguat signifikan hari ini, kita patut bersyukur dan bangga. Ini bukti nyata bahwa investor global dan domestik menaruh kepercayaan penuh pada ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia," ujar Dony Oskaria dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6/2026).
Menurut Dony, momentum positif ini menandakan bahwa kebijakan-kebijakan yang sedang dijalankan berada di jalur yang tepat. Ia menekankan pentingnya sinergi dan optimisme dalam menjaga stabilitas ekonomi. "Iklim investasi yang stabil dan kuat seperti ini adalah kunci untuk menarik lebih banyak kemitraan strategis bernilai tinggi ke dalam negeri," tambahnya.
Penurunan Suku Bunga BI dan Koordinasi Kebijakan
Penguatan IHSG dan rupiah ini terjadi setelah Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026. Keputusan tersebut dinilai berhasil memulihkan kepercayaan pasar, mendorong rupiah menguat dan IHSG bangkit kembali.
Sebelum keputusan BI, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menggelar serangkaian pertemuan intensif untuk menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter. Pada 6 Juni, Dasco mengadakan pertemuan tertutup di Kompleks Parlemen bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo, Mensesneg Prasetyo Hadi, serta pimpinan Komisi XI DPR. Fokus pertemuan adalah menyamakan langkah kebijakan guna menopang rupiah.
Pada 9 Juni 2026, Dasco kembali mengumpulkan perwakilan dari Danantara, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), BPJS, dan asuransi BUMN untuk membahas koordinasi sektor perbankan. Mensesneg Prasetyo Hadi meminta publik tidak perlu khawatir karena fundamental ekonomi Indonesia, khususnya dari sisi perbankan, sangat kuat.
"Terima kasih, Mas Dasco, yang sekali lagi hari ini memfasilitasi diskusi. Kalau kemarin di sektor energi dan sumber daya mineral, hari ini kita kumpul, kita berdiskusi di sektor perbankan. Dan alhamdulillah, sebagaimana tadi sudah disampaikan bahwa betul-betul sesungguhnya fundamental ekonomi kita, dari sisi perbankan juga sangat kuat," kata Prasetyo di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Investor Asing Kembali Masuk
Sepanjang sesi pertama perdagangan Jumat (12/6/2026), investor asing mulai kembali masuk ke pasar modal Indonesia. Investor asing mencatat net buy sebesar Rp 492,5 miliar, menandai kembalinya minat investasi dari luar negeri.
Dony Oskaria menekankan bahwa stabilitas ekonomi ini akan berdampak langsung pada masyarakat luas. "Stabilitas ini memastikan biaya kebutuhan pokok terkendali, dan aliran investasi akan bermuara pada penciptaan lapangan kerja baru yang lebih luas. Hilangkan keraguan, mari terus pelihara optimisme," ungkapnya.
Implikasi dan Prospek
Implikasinya, pencapaian IHSG di level 6.000 dan penguatan rupiah menunjukkan bahwa koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter mulai membuahkan hasil. Perlu dicermati bahwa keberhasilan menjaga momentum ini akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kemampuan mengelola sentimen pasar global yang masih dinamis.
Secara umum di sektor pasar modal, penguatan indeks dan mata uang domestik mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi jangka menengah. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam mempertahankan daya tarik investasi di tengah persaingan regional dan dinamika ekonomi global.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa level IHSG yang dicapai pada 12 Juni 2026?
- IHSG menembus level 6.000 pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026, disertai dengan penguatan rupiah yang signifikan.
- Berapa suku bunga acuan Bank Indonesia saat ini?
- Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026. Keputusan ini dinilai berhasil memulihkan kepercayaan pasar dan mendorong penguatan rupiah serta IHSG.
- Berapa net buy investor asing pada 12 Juni 2026?
- Sepanjang sesi pertama perdagangan Jumat (12/6/2026), investor asing mencatat net buy sebesar Rp 492,5 miliar di pasar modal Indonesia.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Rupiah Menguat 0,61% ke Rp17.865 per Dolar AS, Jauh dari Level Rp18.000
Mata uang Garuda ditutup menguat pada Jumat (12/6/2026) seiring melemahnya dolar AS di pasar global, meski di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.865/US$, BI Sebut Respons Positif Pasar
Bank Indonesia mencatat rupiah terapresiasi 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada penutupan Jumat (12/6/2026), didorong respons positif pasar terhadap kebijakan moneter termasuk kenaikan BI Rate menjadi 5,50%.
BI Catat Aliran Modal Asing Rp19,02 Triliun dalam Dua Hari
Bank Indonesia mencatat inflows modal asing signifikan pasca kenaikan BI Rate 50 bps, memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS.
Bank Dunia Soroti Dampak Isu MSCI terhadap Pasar Modal Indonesia
Pembekuan saham Indonesia dari indeks MSCI pada Januari 2026 memicu outflow asing USD 600 juta dan melemahkan rupiah, menurut laporan Bank Dunia.
Ekonom Senior Jelaskan Perbedaan Fundamental Ekonomi dan Pasar Keuangan
Raden Pardede menyebut adanya data lag 3-6 bulan membuat fundamental ekonomi terlihat kuat, sementara dampak kenaikan harga dan BI Rate baru akan terasa kemudian.




