Lompat ke konten utama
sorotutama

Ekonom Senior Jelaskan Perbedaan Fundamental Ekonomi dan Pasar Keuangan

Raden Pardede menyebut adanya data lag 3-6 bulan membuat fundamental ekonomi terlihat kuat, sementara dampak kenaikan harga dan BI Rate baru akan terasa kemudian.

Oleh Redaksi Sorot Utama2 menit baca
Ekonom Senior Jelaskan Perbedaan Fundamental Ekonomi dan Pasar Keuangan
Foto: SHVETS production via Pexels

Ringkasan

Ekonom senior Raden Pardede menjelaskan perbedaan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang diklaim kuat dengan pasar keuangan yang terpuruk disebabkan oleh data lag atau jeda waktu 3-6 bulan, sehingga dampak kenaikan harga dan suku bunga baru akan terasa di periode mendatang.

Daftar isi▶ buka

Ekonom senior Raden Pardede menjelaskan perbedaan kondisi antara fundamental ekonomi Indonesia dengan kondisi pasar keuangan yang masih terpuruk. Menurutnya, perbedaan ini terjadi karena adanya data lag atau jeda waktu, sehingga data ekonomi belum mencerminkan kondisi yang sebenarnya.

"Jadi memang fundamental ekonomi kita terlihat kuat karena ada lag yang biasanya baru bisa rasakan 3-6 bulan atau maksimum 9 bulan. Jadi, apa yang kita lihat harga-harga yang sudah naik kemudian perlambatan dari kurs yang melemah, dampaknya itu tidak serta-merta langsung hari itu juga, tapi nanti," kata Raden dalam acara KONEKSI CNBC Indonesia, dikutip pada Jumat (12/6/2026).

Dampak Kenaikan BI Rate Belum Terasa

Raden mencontohkan kenaikan harga barang-barang yang sudah terjadi belakangan ini baru akan terlihat dampaknya sekitar 3 hingga 6 bulan ke depan. Hal serupa juga berlaku untuk kebijakan moneter yang telah ditempuh Bank Indonesia.

"Contohnya juga sekarang dinaikkan interest rate (BI Rate), suku bunga SRBI sudah naik. Itu berarti akan berpengaruh kepada investasi berikutnya, meskipun sekarang belum, dan yang lalu-lalu belum. Tapi dampaknya baru terasa nanti. Itu akan menggigit beberapa bulan kemudian," lanjutnya.

Contoh lain yang disampaikan adalah tingkat inflasi. Data terbaru inflasi memang belum mengalami kenaikan signifikan, tetapi dengan adanya kenaikan harga barang, dampaknya akan terlihat pada inflasi periode berikutnya. "Belum kelihatan indikator kepada inflasi secara signifikan. Tetapi ekspektasi dari pelaku pasar itu sudah bermain. Ini ke sana tuh nantinya," terang Raden.

Klaim Fundamental Ekonomi Lebih Kuat dari Krisis 1998

Sebelumnya, Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochamad Firman Hidayat mengklaim bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis 1998. Hal ini diungkapnya saat menyampaikan laporan kondisi fundamental ekonomi Indonesia kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Kami dari Dewan Ekonomi Nasional memang menyampaikan kepada Bapak Presiden terkait dengan situasi ekonomi sekarang ya. Mungkin yang pertama yang kami sampaikan, kami sampaikan kepada Bapak Presiden bahwa fundamental ekonomi kita dalam kondisi yang baik gitu ya," kata Firman.

"Bahkan jauh dibandingkan dengan kondisi krisis 1998. Selain dari indikator-indikator makro seperti pertumbuhan yang masih tinggi, inflasi yang masih stabil, salah satu yang kami highlight adalah neraca korporasi yang dalam posisi yang sangat sehat," tegasnya.

Namun demikian, Firman menilai pemerintah perlu mewaspadai adanya ketidakpastian ekonomi global yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi domestik.

Implikasi bagi Pelaku Pasar

Perlu dicermati, penjelasan tentang data lag ini memberikan gambaran bahwa pelaku pasar cenderung bergerak lebih cepat berdasarkan ekspektasi, sementara indikator ekonomi formal baru akan menunjukkan perubahan beberapa bulan kemudian. Hal ini menjelaskan mengapa pasar keuangan dapat bereaksi negatif meski data fundamental saat ini masih menunjukkan angka yang relatif stabil.

Secara umum di sektor ekonomi makro, jeda waktu antara kebijakan dan dampaknya merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan, baik bagi otoritas maupun pelaku pasar. Kenaikan suku bunga acuan, misalnya, memerlukan waktu untuk memengaruhi keputusan investasi dan konsumsi di sektor riil.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa yang dimaksud dengan data lag dalam konteks ekonomi?
Data lag atau jeda waktu adalah periode antara terjadinya suatu peristiwa ekonomi dengan tercerminnya dampak peristiwa tersebut dalam indikator ekonomi. Menurut ekonom senior Raden Pardede, jeda waktu ini biasanya berkisar 3-6 bulan atau maksimum 9 bulan, sehingga dampak kenaikan harga atau kebijakan moneter baru akan terasa beberapa bulan kemudian.
Bagaimana kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini menurut Dewan Ekonomi Nasional?
Anggota Dewan Ekonomi Nasional Mochamad Firman Hidayat menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi baik, bahkan jauh lebih kuat dibandingkan saat krisis 1998. Indikator yang disebutkan meliputi pertumbuhan yang masih tinggi, inflasi yang masih stabil, dan neraca korporasi yang dalam posisi sangat sehat. Namun, pemerintah tetap perlu mewaspadai ketidakpastian ekonomi global.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Ekonomi Makro#BI Rate#Inflasi#Pasar Keuangan

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga