Riset LPEM UI: Pecahan Rp2.000-Rp20.000 Tergeser QRIS dan E-Wallet
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI merilis riset yang menunjukkan uang tunai pecahan kecil hingga menengah mengalami penurunan signifikan akibat masifnya penggunaan pembayaran digital di Indonesia.

Ringkasan
Riset LPEM FEB UI bertajuk 'How E-Money is Changing the Demand for Cash in Indonesia: Economic Modelling' menemukan efek substitusi terkuat pada pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000 yang selama ini digunakan untuk transaksi sehari-hari seperti transportasi dan pembelian makanan, kini tergantikan oleh QRIS dan e-wallet. Sementara pecahan besar Rp50.000 dan Rp100.000 serta uang logam masih bertahan.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Penggunaan uang tunai di Indonesia mengalami pergeseran signifikan seiring pesatnya pertumbuhan transaksi digital. Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) merilis riset bertajuk 'How E-Money is Changing the Demand for Cash in Indonesia: Economic Modelling' yang mengungkap fenomena tergerusnya uang kartal, khususnya pecahan kecil hingga menengah, akibat masifnya penggunaan uang elektronik, QRIS, dan dompet digital (e-wallet).
Pecahan Rp2.000-Rp20.000 Paling Terdampak
Riset yang disusun oleh Jahen F. Rezki dan rekan menemukan bahwa efek substitusi atau penggantian terkuat diamati pada uang kertas denominasi kecil hingga menengah, yakni pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000. Pecahan-pecahan tersebut selama ini banyak digunakan untuk transaksi sehari-hari seperti transportasi, pembelian makanan, layanan pengantaran daring, hingga transaksi ritel bernilai kecil.
"Kami meneliti heterogenitas di berbagai denominasi uang kertas untuk mengidentifikasi mekanisme yang mendasarinya. Efek substitusi atau penggantian terkuat diamati pada uang kertas denominasi kecil hingga menengah, yakni pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000," tulis LPEM FEB UI dalam risetnya yang dikutip pada Rabu (24/6/2026).
Kehadiran uang elektronik dan pembayaran berbasis QRIS membuat fungsi uang pecahan tersebut perlahan mulai tergantikan. Riset ini mengidentifikasi bahwa transaksi-transaksi bernilai kecil hingga menengah yang sebelumnya didominasi uang tunai kini beralih ke instrumen pembayaran digital yang dinilai lebih praktis dan efisien.
Pecahan Besar dan Uang Logam Masih Bertahan
Berbeda dengan pecahan kecil, dampak digitalisasi pembayaran terhadap uang pecahan besar relatif lebih terbatas. Riset menunjukkan uang kertas pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 masih banyak digunakan untuk transaksi bernilai besar maupun disimpan sebagai cadangan dana oleh masyarakat.
"Sebaliknya, efek pergeseran lebih lemah untuk uang kertas denominasi tinggi (Rp50.000 dan Rp100.000), yang lebih cenderung disimpan untuk tujuan berjaga-jaga atau digunakan dalam transaksi besar dan informal," tulis LPEM FEB UI dalam laporannya.
Temuan serupa juga terlihat pada uang logam. Peneliti tidak menemukan bukti yang signifikan bahwa uang logam mulai ditinggalkan masyarakat. Uang pecahan logam tetap dianggap penting untuk transaksi bernilai sangat rendah dan untuk memberikan kembalian dalam transaksi tunai.
Implikasi bagi Kebijakan Moneter
LPEM FEB UI menilai pergeseran dari pembayaran tunai ke pembayaran digital membawa konsekuensi penting bagi otoritas moneter. Perubahan pola transaksi masyarakat berpotensi memengaruhi permintaan uang kartal dan pengelolaan jumlah uang beredar di perekonomian. Implikasinya, Bank Indonesia sebagai otoritas moneter perlu menyesuaikan strategi pengelolaan uang kartal sesuai dengan dinamika perilaku konsumen yang terus berubah.
Meski demikian, riset tersebut mencatat perdebatan mengenai masa depan uang tunai masih berlangsung. Di satu sisi, pembayaran digital terbukti mampu menggantikan fungsi uang tunai dalam transaksi sehari-hari. Namun di sisi lain, uang fisik masih memiliki peran penting untuk transaksi tertentu, terutama transaksi bernilai sangat kecil.
"Dari sisi perilaku, fenomena ini membuktikan bahwa uang elektronik sukses menggeser uang tunai untuk belanja harian, tetapi belum banyak menyentuh transaksi mikro yang bernilai sangat kecil," tulis LPEM FEB UI. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun digitalisasi pembayaran terus berkembang pesat, uang tunai belum sepenuhnya tergantikan dan masih memiliki fungsi spesifik dalam ekosistem transaksi masyarakat Indonesia.
Konteks Digitalisasi Pembayaran di Indonesia
Secara umum, Indonesia mengalami akselerasi digitalisasi pembayaran dalam beberapa tahun terakhir. QRIS sebagai standar pembayaran digital nasional telah diadopsi secara luas oleh pedagang dan konsumen, sementara berbagai platform e-wallet terus berkembang dengan berbagai fitur dan promosi. Perlu dicermati bahwa pergeseran ini tidak hanya mengubah perilaku konsumen, tetapi juga membawa implikasi luas pada infrastruktur keuangan, kebijakan moneter, dan strategi bisnis sektor ritel.
Riset LPEM FEB UI ini memberikan bukti empiris tentang bagaimana transformasi digital mengubah lanskap pembayaran di Indonesia. Meskipun uang tunai belum sepenuhnya hilang, tren yang teridentifikasi menunjukkan pergeseran struktural yang perlu diantisipasi oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari otoritas moneter, pelaku usaha, hingga masyarakat luas.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Pecahan uang tunai mana yang paling terpengaruh digitalisasi pembayaran menurut riset LPEM FEB UI?
- Menurut riset LPEM FEB UI, efek substitusi terkuat terjadi pada uang kertas pecahan kecil hingga menengah, yakni pecahan Rp2.000 hingga Rp20.000. Pecahan ini selama ini banyak digunakan untuk transaksi sehari-hari seperti transportasi, pembelian makanan, layanan pengantaran daring, dan transaksi ritel bernilai kecil yang kini beralih ke QRIS dan e-wallet.
- Apakah uang pecahan besar juga terpengaruh oleh pembayaran digital?
- Riset menunjukkan dampak digitalisasi terhadap uang pecahan besar relatif lebih terbatas. Uang kertas pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 masih banyak digunakan untuk transaksi bernilai besar dan cenderung disimpan untuk tujuan berjaga-jaga. Efek pergeseran pada pecahan besar lebih lemah dibandingkan pecahan kecil hingga menengah.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
OJK: Perbankan Tahan Rupiah Rp18.000, Hasil Stress Test Positif
Otoritas Jasa Keuangan memastikan industri perbankan nasional tetap stabil meski rupiah melemah hingga Rp18.000 per dolar AS, ditopang oleh PDN rendah dan permodalan kuat.
Allo Bank Ungkap Strategi Bisnis di Tengah Kenaikan BI-Rate
Bank digital BBHI memilih tidak langsung menaikkan bunga simpanan meski BI-Rate naik 100 bps sejak Mei 2026, dan fokus pada ekspansi kemitraan bisnis untuk menekan risiko kredit.
Cara Kerja Rujukan BPJS Kesehatan: Dari Faskes 1 ke Rumah Sakit
Sistem rujukan berjenjang BPJS Kesehatan mewajibkan peserta berobat ke FKTP dulu, kecuali kondisi gawat darurat.
Bank Mandiri Cetak Laba Rp23,3 Triliun per Mei 2026, Naik 18,6% YoY
Laba bersih Bank Mandiri periode Januari-Mei 2026 mencapai Rp23,3 triliun, tumbuh 18,6% secara tahunan dengan ROE stabil di kisaran 20%.
Inflasi, Deflasi, dan Stagflasi: Perbedaan, Penyebab, dan Dampaknya
Tiga kondisi ekonomi yang berbeda ini memiliki karakteristik, penyebab, dan konsekuensi yang perlu dipahami masyarakat dan pengambil kebijakan.




