Panda Bond: Strategi Indonesia Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Kementerian Keuangan akan menerbitkan Panda Bond berdenominasi yuan sebagai upaya diversifikasi pembiayaan untuk mengurangi dampak fluktuasi dolar AS terhadap APBN dan memperkuat stabilitas rupiah.

Ringkasan
Pemerintah Indonesia berencana menerbitkan Panda Bond (surat utang berdenominasi yuan) dalam beberapa hari ke depan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, meminimalkan risiko nilai tukar terhadap APBN, dan memperkuat stabilitas rupiah melalui skema Local Currency Transaction dengan China.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Kementerian Keuangan Indonesia mengonfirmasi rencana penerbitan surat utang berdenominasi yuan China atau Panda Bond yang diperkirakan akan diterbitkan dalam beberapa hari ke depan. Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
Plt. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan (DJSPSK) Herman Saheruddin menjelaskan bahwa penerbitan Panda Bond bertujuan mencari sumber pembiayaan alternatif. Sebagaimana disampaikannya pada Kamis (26/6/2026), diversifikasi ini diharapkan dapat mengurangi risiko beban APBN dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar.
"Dengan adanya diversifikasi ini, harapannya adalah risiko beban APBN kita dari pembiayaan utang yang bersumber dari risiko nilai tukar itu dapat didiversifikasi, dan kita bisa mengurangi dampak dari ketergantungan dolar AS," ujar Herman. Menurutnya, dengan adanya sumber pembiayaan lain, fluktuasi dolar yang signifikan tidak akan berdampak sebesar tahun-tahun sebelumnya, seperti krisis 1998.
China sebagai Mitra Strategis Pembiayaan
Herman menegaskan bahwa China dipilih sebagai salah satu negara tujuan diversifikasi pembiayaan karena memiliki permintaan yang kuat dan menghargai reputasi fundamental ekonomi Indonesia. China dinilai sebagai salah satu negara yang tertarik melakukan pembiayaan ke Indonesia dengan membeli surat utang pada harga yang wajar, tidak jauh dari fundamental ekonomi Indonesia.
Langkah diversifikasi mata uang ini dianggap krusial untuk meminimalkan dampak penguatan dolar AS terhadap stabilitas APBN. "Kalau kita terlalu banyak tergantung dari dolar AS, saya pikir akan menjadi kurang stabil, APBN akan terus tekor jika kita hanya mengandalkan dolar AS," terang Herman.
Skema Local Currency Transaction dan Keuntungan Bunga
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya dalam rapat dengan DPD RI pada 22 Juni 2026 menegaskan bahwa Panda Bond menjadi sangat strategis karena merupakan bagian dari upaya diversifikasi surat utang dengan tujuan akhir memperkuat stabilitas kurs rupiah. Purbaya menyoroti pentingnya tidak hanya bergantung pada basis dolar, mengingat China adalah ekonomi terbesar kedua di dunia dan Indonesia memiliki bilateral swap agreement serta skema local currency transaction dengan negara tersebut.
Purbaya menjelaskan bahwa bunga yang ditanggung pemerintah dari Panda Bond diperkirakan akan lebih murah dibandingkan surat utang berdenominasi dolar AS. Konsep penerbitan Panda Bond akan menggunakan skema Local Currency Transaction (LCT), yang berarti tidak memerlukan konversi ke dolar Amerika Serikat.
"Saya lagi pikir juga mungkin nanti penerbitan Panda Bond kita pakai LCT saja di mana mereka cuma bayarnya pakai yuan, bank central di sana sama di sini atur. Pokoknya saya terima rupiah, jadi saya tidak terpengaruh fluktuasi atau tekanan dari dolar," papar Purbaya. Skema ini memungkinkan pemerintah Indonesia menerima dana dalam rupiah tanpa terpengaruh fluktuasi nilai tukar dolar.
Konteks Bilateral dengan China
Rencana penerbitan Panda Bond ini merupakan kelanjutan dari pertemuan bilateral antara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Menteri Keuangan Republik Rakyat Tiongkok Lan Fo'an di Beijing pada 17 Juni 2026. Kerja sama pembiayaan ini memanfaatkan kerangka bilateral swap agreement dan local currency transaction yang telah ada antara Bank Indonesia dan bank sentral China.
Implikasinya, langkah diversifikasi pembiayaan ini dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah secara signifikan. Dengan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada dolar AS sebagai basis pembiayaan utang, pemerintah berharap dapat mengelola risiko nilai tukar dengan lebih baik dan menjaga stabilitas fiskal dalam jangka panjang.
Strategi Jangka Panjang Stabilitas Fiskal
Secara umum, diversifikasi sumber pembiayaan merupakan praktik yang lazim dilakukan oleh negara-negara untuk mengurangi risiko konsentrasi pada satu mata uang atau pasar tertentu. Dalam konteks Indonesia, ketergantungan yang tinggi terhadap dolar AS dapat membuat APBN rentan terhadap volatilitas nilai tukar, terutama ketika dolar menguat secara tajam seperti yang pernah terjadi pada krisis ekonomi masa lalu.
Dengan memasuki pasar obligasi China melalui Panda Bond, pemerintah Indonesia tidak hanya mendiversifikasi basis investor, tetapi juga memanfaatkan biaya pembiayaan yang lebih kompetitif. Perlu dicermati bahwa keberhasilan strategi ini akan bergantung pada implementasi skema LCT dan koordinasi antara bank sentral kedua negara, serta respons pasar terhadap instrumen utang baru ini.
Langkah ini menandai upaya struktural pemerintah dalam mengelola pembiayaan negara dengan lebih fleksibel dan mengurangi kerentanan terhadap gejolak mata uang global, khususnya dolar AS yang masih mendominasi sistem keuangan internasional.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa itu Panda Bond dan mengapa Indonesia menerbitkannya?
- Panda Bond adalah surat utang berdenominasi yuan China yang akan diterbitkan oleh pemerintah Indonesia. Penerbitan ini bertujuan untuk diversifikasi pembiayaan, mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, dan meminimalkan risiko nilai tukar terhadap APBN. Dengan diversifikasi ini, dampak fluktuasi dolar AS terhadap stabilitas fiskal dapat dikurangi.
- Bagaimana skema Local Currency Transaction (LCT) dalam penerbitan Panda Bond?
- Skema Local Currency Transaction memungkinkan penerbitan Panda Bond tanpa konversi ke dolar AS. China akan membayar menggunakan yuan, dan melalui koordinasi bank sentral kedua negara, pemerintah Indonesia akan menerima dana dalam rupiah. Dengan cara ini, pemerintah tidak terpengaruh oleh fluktuasi atau tekanan dari dolar AS, sehingga memperkuat stabilitas rupiah.
- Apa keuntungan penerbitan Panda Bond dibandingkan utang berdenominasi dolar?
- Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, bunga yang ditanggung pemerintah dari Panda Bond diperkirakan lebih murah dibandingkan surat utang berdenominasi dolar AS. Selain itu, dengan menggunakan skema LCT, pemerintah dapat menghindari risiko nilai tukar dolar dan mengurangi tekanan terhadap rupiah, sehingga APBN menjadi lebih stabil dan tidak rentan terhadap volatilitas mata uang global.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Transaksi Tanpa Dolar RI dengan 6 Negara Capai Rp575,72 Triliun
Bank Indonesia mencatat transaksi Local Currency Settlement (LCT) Indonesia dengan enam negara mitra mencapai US$32,89 miliar atau setara Rp575,72 triliun dalam lima bulan pertama 2026, melampaui realisasi dua tahun sebelumnya.
Cara Naik dan Turun Kelas BPJS Kesehatan serta Penerapan KRIS
Panduan lengkap pindah kelas kepesertaan BPJS Kesehatan, syarat yang harus dipenuhi, dan apa itu sistem KRIS yang kini berlaku.
Indonesia Raih Komitmen Pendanaan Rp304 T dari AIIB untuk 8 PSN
Kementerian Keuangan mengamankan komitmen pendanaan US$17 miliar dari Asian Infrastructure Investment Bank untuk periode 2025-2029, menargetkan delapan Proyek Strategis Nasional di sektor pangan dan energi.
Cara Klaim JHT BPJS Ketenagakerjaan: Syarat, Proses Lewat JMO, dan Waktu Pencairan
Panduan lengkap pencairan Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan, mulai dari syarat dokumen hingga langkah klaim melalui aplikasi JMO.
OJK Ungkap Sejumlah Bank KBMI 1 Berencana Naik Kelas ke KBMI 2
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyebut beberapa bank bermodal inti Rp3 triliun hingga Rp6 triliun tengah merencanakan konsolidasi untuk meningkatkan skala bisnis.




