Lompat ke konten utama
sorotutama

Transaksi Tanpa Dolar RI dengan 6 Negara Capai Rp575,72 Triliun

Bank Indonesia mencatat transaksi Local Currency Settlement (LCT) Indonesia dengan enam negara mitra mencapai US$32,89 miliar atau setara Rp575,72 triliun dalam lima bulan pertama 2026, melampaui realisasi dua tahun sebelumnya.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
Transaksi Tanpa Dolar RI dengan 6 Negara Capai Rp575,72 Triliun
Foto: Adriaan Westra via Pexels

Ringkasan

Skema transaksi tanpa dolar AS melalui Local Currency Settlement (LCT) yang dikelola Bank Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Hingga Mei 2026, total transaksi LCT dengan enam negara mitra telah mencapai US$32,89 miliar atau Rp575,72 triliun, melampaui realisasi tahun 2024 dan 2025. China menjadi mitra terbesar dengan nilai transaksi US$27,93 miliar, sementara India kini dalam tahap pembahasan untuk bergabung dalam skema ini.

Daftar isi▶ buka

Skema transaksi tanpa dolar Amerika Serikat yang dikelola Bank Indonesia melalui mekanisme Local Currency Settlement (LCT) mencatat pertumbuhan pesat pada tahun 2026. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan bahwa minat negara-negara mitra terhadap skema ini sangat tinggi, dengan reaksi yang disebutnya luar biasa.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia, total transaksi LCT dalam lima bulan pertama tahun 2026 atau sampai dengan Mei telah mencapai US$32,89 miliar, setara dengan Rp575,72 triliun (menggunakan kurs Rp17.991 per dolar AS). Transaksi ini melibatkan enam negara mitra yang telah menjalin kerja sama LCT dengan Indonesia.

Rincian Transaksi per Negara Mitra

China mendominasi nilai transaksi LCT dengan Indonesia, mencapai US$27,93 miliar dalam lima bulan pertama 2026. Posisi kedua ditempati Jepang dengan nilai transaksi US$2,67 miliar, diikuti Malaysia sebesar US$1,48 miliar. Thailand mencatat transaksi senilai US$505 juta, sementara Uni Emirat Arab sebesar US$209,7 juta, dan Korea US$98,4 juta.

Dari sisi jumlah pelaku usaha yang memanfaatkan skema LCT, hingga Mei 2026 tercatat sebanyak 80.188 pelaku usaha secara total. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan catatan sepanjang tahun 2025 yang mencapai 116.645 pelaku usaha, namun masih lebih tinggi dari tahun 2024 yang sebanyak 60.240 pelaku usaha.

Pelaku usaha yang memanfaatkan LCT dalam lima bulan pertama 2026 paling banyak berasal dari China dengan 28.576 pelaku usaha, diikuti Malaysia 18.455, Korea 15.443, Jepang 12.471, Thailand 3.260, dan Uni Emirat Arab 1.983 pelaku usaha.

Pertumbuhan Signifikan Dibanding Tahun Sebelumnya

Total nilai transaksi LCT tahun berjalan 2026 sudah melampaui realisasi dua tahun terakhir secara penuh. Sepanjang tahun 2024, total nilai transaksi LCT dengan enam negara mitra tercatat senilai US$12,49 miliar. Angka ini meningkat menjadi US$25,71 miliar pada tahun 2025. Dengan pencapaian US$32,89 miliar hanya dalam lima bulan pertama 2026, pertumbuhan skema ini menunjukkan akselerasi yang cukup pesat.

Pertumbuhan ini mengindikasikan bahwa skema LCT semakin diterima oleh pelaku usaha di Indonesia dan negara-negara mitra sebagai alternatif dalam bertransaksi perdagangan dan investasi. Secara umum, skema ini memungkinkan transaksi bilateral menggunakan mata uang lokal masing-masing negara, mengurangi ketergantungan pada dolar AS sebagai mata uang perantara.

India dalam Tahap Pembahasan

Di luar enam negara yang sudah aktif bertransaksi menggunakan LCT, Destry Damayanti mengungkapkan bahwa India kini menunjukkan ketertarikan terhadap skema ini dan saat ini sedang dalam tahap pembahasan menuju penandatanganan kerja sama. Menurutnya, proses penyusunan nota kesepahaman (MoU) memerlukan waktu karena harus mempertimbangkan aspek implementasi dan regulasi masing-masing negara.

Destry menyatakan bahwa India terlihat cepat dalam merespons tawaran kerja sama LCT, mengingat proses pembahasan sudah berjalan. Namun, pembentukan MoU tidak bisa dilakukan secara instan karena perlu mempertimbangkan bagaimana implementasi di lapangan dan menyesuaikan dengan aturan-aturan yang berlaku di masing-masing negara.

Implikasi Strategis bagi Indonesia

Implikasinya, pertumbuhan transaksi LCT ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diversifikasi sistem pembayaran internasional dan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS. Skema ini juga berpotensi menurunkan biaya transaksi bagi pelaku usaha yang melakukan perdagangan dengan negara-negara mitra, karena tidak perlu melakukan konversi ganda melalui dolar AS.

Perlu dicermati bahwa keberhasilan skema LCT sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan kepercayaan antarnegara mitra. Ekspansi ke negara-negara besar seperti India dapat semakin memperluas jangkauan dan volume transaksi LCT, mengingat besarnya ekonomi dan perdagangan bilateral Indonesia dengan India.

Secara umum di sektor perdagangan internasional, tren penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral semakin menguat seiring dengan upaya berbagai negara untuk mengurangi dominasi dolar AS. Langkah Indonesia melalui skema LCT sejalan dengan tren global ini dan dapat memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa nilai transaksi Local Currency Settlement (LCT) Indonesia hingga Mei 2026?
Hingga Mei 2026, total transaksi LCT Indonesia dengan enam negara mitra mencapai US$32,89 miliar atau setara Rp575,72 triliun. Nilai ini sudah melampaui realisasi tahun 2024 (US$12,49 miliar) dan 2025 (US$25,71 miliar).
Negara mana yang menjadi mitra terbesar dalam transaksi LCT Indonesia?
China menjadi mitra terbesar dengan nilai transaksi mencapai US$27,93 miliar dalam lima bulan pertama 2026, diikuti Jepang (US$2,67 miliar), Malaysia (US$1,48 miliar), Thailand (US$505 juta), Uni Emirat Arab (US$209,7 juta), dan Korea (US$98,4 juta).
Apa itu Local Currency Settlement dan apa manfaatnya?
Local Currency Settlement (LCT) adalah skema transaksi bilateral yang memungkinkan dua negara bertransaksi menggunakan mata uang lokal masing-masing tanpa melalui dolar AS. Manfaatnya antara lain mengurangi ketergantungan pada dolar AS, menurunkan biaya transaksi, dan mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dolar.
Negara mana yang sedang dalam pembahasan untuk bergabung dalam skema LCT dengan Indonesia?
India saat ini sedang dalam tahap pembahasan menuju penandatanganan kerja sama LCT dengan Indonesia. Proses penyusunan nota kesepahaman masih berlangsung karena perlu menyesuaikan aspek implementasi dan regulasi masing-masing negara.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Bank Indonesia#Rupiah#Perdagangan Internasional#Kebijakan Moneter

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga