Operasi Ganti Warna Mata FLAAK, Ahli Kesehatan Keluarkan Peringatan Keras
Teknik FLAAK yang diklaim bisa mengubah warna iris mata secara permanen menuai peringatan dari American Academy of Ophthalmology. Prosedur ini belum disetujui FDA dan berisiko sebabkan komplikasi serius pada penglihatan.

Ringkasan
Prosedur bedah FLAAK untuk mengubah warna mata permanen kini menjadi tren, namun para ahli kesehatan mengeluarkan peringatan keras. American Academy of Ophthalmology telah dua kali memperingatkan risiko jangka panjang, sementara FDA belum menyetujui penggunaannya untuk keperluan kosmetik. Di Indonesia, prosedur serupa juga belum memiliki izin resmi.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Tren prosedur bedah untuk mengubah warna mata secara permanen mulai mencuri perhatian publik, namun menuai peringatan keras dari komunitas medis global. Teknik yang disebut Femtosecond Laser-Assisted Annular Keratopigmentation atau FLAAK diklaim mampu mengubah warna iris menjadi biru, emas, hijau, atau pilihan warna lain sesuai keinginan. Di balik janji estetika tersebut, para ahli kesehatan mata mengeluarkan peringatan soal risiko jangka panjang yang mengancam fungsi penglihatan.
Teknik FLAAK dan Cara Kerjanya
Teknik FLAAK dikembangkan lebih dari satu dekade lalu oleh dokter spesialis mata asal Prancis bernama Francis Ferrari. Ia mulai membuka layanan prosedur ini secara komersial sejak tahun 2019. Cara kerjanya dimulai dengan pemberian obat bius pada bola mata, kemudian sinar laser femtosekon digunakan untuk membuat saluran kecil di bagian kornea.
Saluran tersebut kemudian diperlebar dan diisi dengan pigmen khusus menggunakan alat bedah rancangan sendiri. Pigmen tersebut akan menutupi warna asli iris sehingga menciptakan tampilan warna mata yang baru. Proses ini juga sering disebut sebagai tato kornea, mengingat kornea berperan sebagai lapisan pelindung utama sekaligus lensa terluar mata.
Peringatan dari Lembaga Kesehatan Global
Meskipun diklaim aman oleh penemunya, prosedur ini belum mendapatkan persetujuan resmi dari lembaga pengawas kesehatan AS. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat atau FDA belum menyetujui penggunaannya untuk keperluan kosmetik. Sementara itu, Akademi Oftalmologi Amerika atau AAO telah mengeluarkan dua kali peringatan resmi terkait keamanan teknik ini.
Amita Vadada, dokter spesialis mata dan juru bicara klinis AAO, menyampaikan kekhawatiran utama. Hingga saat ini belum ada data penelitian jangka panjang yang cukup untuk memastikan dampak prosedur maupun pigmen yang digunakan terhadap kesehatan mata. Mata adalah organ yang sangat peka secara imunologis, di mana bahkan peradangan ringan sekalipun bisa menimbulkan efek serius.
"Berbeda dengan bagian tubuh lain, peradangan ringan pada mata bisa menyebabkan scar tissue atau bekas luka permanen, rasa sakit, dan kepekaan berlebih terhadap cahaya. Prosedur ini berpotensi mengubah fungsi dasar mata yang seharusnya bekerja secara alami," ujar Vadada sebagaimana dilaporkan New York Times dan Futurism.
Risiko Komplikasi yang Mengancam
Setiap intervensi pada kornea berisiko merusak struktur alami yang menjaga kualitas penglihatan. Komplikasi yang mungkin muncul meliputi infeksi, pergeseran pigmen, pembengkakan jaringan, hingga penurunan ketajaman penglihatan yang tidak bisa dipulihkan. Risiko-risiko ini menjadi perhatian serius mengingat mata merupakan organ vital yang sangat sensitif.
Pihak pengembang berpendapat bahwa teknik ini aman dan setara dengan prosedur LASIK. Ferrari menyebutkan bahwa ada pasien yang merasa tertekan secara psikologis dengan warna mata alami mereka. Meskipun demikian, komunitas medis tetap menekankan prinsip kehati-hatian. Tanpa bukti keamanan yang teruji dalam jangka panjang, risiko kerusakan penglihatan dianggap lebih besar dibandingkan manfaat estetika yang didapat.
Situasi di Indonesia dan Alternatif Aman
Di Indonesia sendiri, prosedur serupa juga belum memiliki izin resmi untuk keperluan kosmetik. Pemerintah dan lembaga kesehatan menyarankan agar masyarakat lebih waspada terhadap tren yang menawarkan perubahan fisik secara permanen melalui operasi. Perlu dicermati bahwa regulasi kesehatan di Indonesia cenderung mengikuti standar internasional, terutama dalam hal prosedur medis yang belum teruji keamanannya.
Sebagai alternatif yang lebih aman, para ahli menyarankan penggunaan lensa kontak berwarna yang sudah terdaftar dan memenuhi standar kesehatan. Cara ini memberikan pilihan tampilan sementara tanpa mengubah struktur alami mata secara kekal. Lensa kontak berwarna yang tersertifikasi menawarkan fleksibilitas estetika tanpa risiko permanen terhadap fungsi penglihatan.
Implikasinya, masyarakat perlu lebih kritis dalam menilai tren kecantikan yang melibatkan prosedur medis invasif. Prinsip kehati-hatian dan konsultasi dengan profesional kesehatan yang kredibel menjadi kunci sebelum memutuskan menjalani prosedur apa pun yang berdampak permanen pada organ vital seperti mata. Secara umum di sektor kesehatan estetika, tren global sering kali mendahului regulasi lokal, sehingga edukasi publik tentang risiko menjadi sangat penting.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa itu prosedur FLAAK untuk mengubah warna mata?
- FLAAK atau Femtosecond Laser-Assisted Annular Keratopigmentation adalah teknik bedah yang dikembangkan oleh dokter mata Prancis Francis Ferrari. Prosedur ini menggunakan laser femtosekon untuk membuat saluran kecil di kornea, kemudian mengisinya dengan pigmen khusus untuk mengubah warna iris mata secara permanen. Teknik ini mulai ditawarkan secara komersial sejak 2019.
- Apakah prosedur FLAAK aman dan legal?
- Prosedur FLAAK belum mendapatkan persetujuan dari FDA untuk keperluan kosmetik. American Academy of Ophthalmology telah mengeluarkan dua kali peringatan resmi terkait keamanannya. Risiko yang mungkin terjadi meliputi infeksi, pergeseran pigmen, pembengkakan jaringan, dan penurunan ketajaman penglihatan yang tidak bisa dipulihkan. Di Indonesia, prosedur serupa juga belum memiliki izin resmi.
- Apa alternatif aman untuk mengubah warna mata?
- Para ahli kesehatan menyarankan penggunaan lensa kontak berwarna yang sudah terdaftar dan memenuhi standar kesehatan sebagai alternatif aman. Lensa kontak berwarna memberikan pilihan tampilan sementara tanpa mengubah struktur alami mata secara permanen, sehingga tidak menimbulkan risiko jangka panjang terhadap fungsi penglihatan.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
BRIN Luncurkan Teknologi Fastpol: Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Teknologi pirolisis Fastpol yang dikembangkan BRIN mampu mengolah sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair PETASOL dengan angka setana 51, lebih tinggi dari solar biasa.
OJK: 57,9% Bank di Indonesia Telah Adopsi AI pada Kuartal I 2026
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan tingkat adopsi AI di perbankan Indonesia melonjak dari 30% pada 2024 menjadi 57,9% pada kuartal pertama 2026, berdasarkan survei PERBANAS dan IBM.
Pemerintah Uji Coba Bansos Digital dengan Face Recognition di Banyuwangi
Uji coba sistem bantuan sosial digital menggunakan teknologi pengenalan wajah dan biometrik akan dimulai di Banyuwangi pada September 2026, sebelum diluncurkan secara nasional.
QRIS: Satu QR untuk Semua Dompet Digital, Begini Cara Kerjanya
Dari warung kopi hingga toko online, QRIS menyatukan ratusan aplikasi pembayaran dalam satu kode QR, kini bahkan bisa dipakai di luar negeri.
Panduan Lengkap Lindungi Akun Digital: 2FA, Password Manager, hingga Deteksi Phishing
Kebocoran data kian masif. BSSN catat 1,6 miliar serangan siber ke Indonesia sepanjang 2024, saatnya tingkatkan pertahanan akun Anda.




