Lompat ke konten utama
sorotutama

BRIN Luncurkan Teknologi Fastpol: Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Teknologi pirolisis Fastpol yang dikembangkan BRIN mampu mengolah sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair PETASOL dengan angka setana 51, lebih tinggi dari solar biasa.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
BRIN Luncurkan Teknologi Fastpol: Ubah Sampah Plastik Jadi BBM
Foto: Thirdman via Pexels

Ringkasan

BRIN memperkenalkan teknologi pirolisis Fastpol yang mengubah sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair PETASOL. Diluncurkan di Kabupaten Bantul pada 9 Juni 2026, teknologi ini menghasilkan 0,8-0,9 liter bahan bakar dari 1 kg plastik dengan angka setana 51, melampaui standar solar biasa yang berkisar 48.

Daftar isi▶ buka

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meluncurkan teknologi pirolisis Fastpol yang mampu mengolah sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair bernama PETASOL. Inovasi ini diperkenalkan di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (9/6/2026), sebagai solusi pengelolaan sampah plastik yang selama ini sulit didaur ulang sekaligus menciptakan nilai ekonomi baru.

Proses Pirolisis dan Hasil Produksi

Periset Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Heru Susanto, menjelaskan bahwa teknologi Fastpol bekerja melalui proses pirolisis atau dekomposisi termokimia material plastik pada suhu 250-350 derajat Celcius dengan sedikit atau tanpa oksigen. Proses ini pada dasarnya mengembalikan plastik yang berasal dari minyak bumi menjadi bahan bakar.

Menurut Heru, satu kilogram sampah plastik residu mampu menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter PETASOL. Proses pengolahan membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam, dan setelah itu bahan bakar masih harus melalui tahapan penjernihan dan penyaringan hingga siap digunakan.

Teknologi ini dikembangkan untuk mengolah berbagai jenis sampah plastik residu, mulai dari kemasan multilayer, plastik campuran, hingga sampah plastik yang tidak memiliki nilai jual. Bahan bakar yang dihasilkan dapat digunakan untuk mesin diesel.

Kualitas Melampaui Solar Standar

Direktur Alih dan Sistem Audit Teknologi BRIN, Edi Hilmawan, menyatakan bahwa hasil pengujian menunjukkan PETASOL memiliki angka setana (cetane number) sebesar 51. Angka ini lebih tinggi dibandingkan standar solar yang umumnya berada di kisaran 48.

"Angka setana menjadi indikator kualitas pembakaran pada bahan bakar diesel. PETASOL memiliki angka cetane 51 sehingga kualitas pembakarannya tergolong sangat baik," jelas Edi. Meski demikian, BRIN masih terus melakukan penyempurnaan agar seluruh parameter bahan bakar dapat memenuhi standar yang berlaku, termasuk terkait berat jenis dan aspek regulasi.

Potensi Ekonomi dan Lingkungan

Heru Susanto menekankan bahwa fokus kegiatan ini adalah penanganan dan pengurangan sampah plastik low value yang selama ini menjadi residu di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) maupun bank sampah. "BBM PETASOL merupakan bonus yang menjadikan pelaku daur ulang maupun pelaku lingkungan tertarik mengambil bagian karena peluang ekonominya sehingga bisa berkelanjutan," jelasnya.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menilai inovasi ini dapat menjadi jawaban atas dua persoalan sekaligus, yakni penanganan sampah dan penyediaan energi alternatif. Ia mengungkapkan bahwa Kabupaten Bantul menghasilkan sekitar 600 ton sampah setiap hari dan sekitar 30 persen di antaranya berupa sampah plastik.

Dengan jumlah tersebut, potensi pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar dinilai sangat besar. Implikasinya, jika teknologi ini diterapkan secara luas, dapat mengurangi timbunan sampah plastik secara signifikan sekaligus menghasilkan bahan bakar alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan pembuangan atau pembakaran terbuka.

Tantangan dan Kolaborasi

Heru menilai keberhasilan teknologi pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada mesin. Pemilahan sampah sejak dari rumah tetap menjadi faktor penting karena biaya pemilahan yang tinggi masih menjadi tantangan utama. Kolaborasi antara teknologi dan sistem pengelolaan sampah yang baik menjadi kunci keberhasilan program ini.

"Teknologi Fastpol PETASOL yang sudah tervalidasi bertemu dengan pegiat lingkungan seperti KSM Pilah Berkah yang memberi layanan paripurna, semua sampah terpilah diangkut. Hal ini didukung database realtime menjadi kekuatan untuk manajemen sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan," ucap Heru.

Ke depan, BRIN membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan pemerintah daerah, masyarakat, hingga sektor industri untuk memperbanyak pemanfaatan teknologi ini. Melalui kolaborasi antara BRIN, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, PETASOL diharapkan dapat menjadi model pengelolaan sampah terpadu yang bisa direplikasi di berbagai daerah.

Secara umum, inovasi ini menjadi contoh hilirisasi hasil riset yang mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan lingkungan sekaligus mendukung ekonomi sirkular di Indonesia. Perlu dicermati bahwa keberhasilan implementasi teknologi ini akan sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur pengelolaan sampah di masing-masing daerah serta partisipasi aktif masyarakat dalam pemilahan sampah.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu teknologi pirolisis Fastpol yang dikembangkan BRIN?
Teknologi pirolisis Fastpol adalah metode pengolahan sampah plastik residu menjadi bahan bakar cair PETASOL melalui proses dekomposisi termokimia pada suhu 250-350 derajat Celcius dengan sedikit atau tanpa oksigen. Satu kilogram sampah plastik dapat menghasilkan 0,8-0,9 liter PETASOL dalam waktu tujuh hingga delapan jam.
Bagaimana kualitas PETASOL dibandingkan dengan solar biasa?
Hasil pengujian BRIN menunjukkan PETASOL memiliki angka setana (cetane number) sebesar 51, lebih tinggi dari standar solar yang umumnya berkisar 48. Angka setana yang lebih tinggi menunjukkan kualitas pembakaran yang lebih baik pada mesin diesel. BRIN masih melakukan penyempurnaan untuk memastikan seluruh parameter memenuhi standar yang berlaku.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Tech
#Brin#Energi Alternatif#Pengelolaan Sampah#Ekonomi Sirkular

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga