OJK: 57,9% Bank di Indonesia Telah Adopsi AI pada Kuartal I 2026
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan tingkat adopsi AI di perbankan Indonesia melonjak dari 30% pada 2024 menjadi 57,9% pada kuartal pertama 2026, berdasarkan survei PERBANAS dan IBM.

Ringkasan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan adopsi AI di sektor perbankan Indonesia mencapai 57,9% pada kuartal I 2026, naik signifikan dari 30% pada 2024. Teknologi AI kini menangani 35-40% layanan pelanggan, menghasilkan efisiensi biaya hingga puluhan miliar rupiah per tahun dan mengurangi waktu penyelesaian layanan lebih dari 60%.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) di sektor perbankan Indonesia mengalami peningkatan pesat dalam dua tahun terakhir. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengungkapkan, berdasarkan survei yang dilakukan PERBANAS bersama IBM, tingkat adopsi AI di perbankan melonjak dari sekitar 30% pada tahun 2024 menjadi 42% pada tahun 2025, dan mencapai 57,9% pada kuartal pertama tahun 2026.
"Perkembangan ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian penting dari transformasi digital industri perbankan dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan pengalaman nasabah," ujar Dian dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis (25/6/2026).
Menurut Dian, AI telah berkembang dari penggunaan machine learning sederhana dan automasi proses menjadi pemanfaatan Generative AI (GenAI) hingga Agentic AI yang mampu melakukan pengambilan keputusan secara lebih otonom. Perkembangan ini mencerminkan transformasi digital yang sedang berlangsung di industri perbankan nasional.
Chatbot dan Virtual Assistant Tangani 35-40% Layanan Pelanggan
Implementasi AI di sektor perbankan berkembang melalui penggunaan chatbot dan virtual assistant berbasis Large Language Model (LLM) serta teknologi Retrieval Augmented Generation (RAG). Teknologi ini memungkinkan layanan yang lebih natural dan kontekstual dalam menangani berbagai kebutuhan nasabah, seperti pengecekan informasi rekening, penanganan keluhan, pemberian informasi produk, hingga layanan berbasis suara dan dukungan multibahasa.
Dalam beberapa implementasi, solusi AI mampu menangani sekitar 35-40% volume interaksi layanan pelanggan, sehingga mengurangi beban contact center secara signifikan. "Pemanfaatan teknologi ini juga dilaporkan menghasilkan efisiensi biaya operasional hingga puluhan miliar rupiah per tahun dan berkontribusi pada peningkatan kecepatan respons layanan," sebut Dian.
Knowledge Hub Internal dan Efisiensi Operasional
Perkembangan penting lainnya adalah pemanfaatan Generative AI untuk knowledge management internal. Sejumlah bank telah mengembangkan AI-driven knowledge hub yang mengintegrasikan berbagai dokumen internal, kebijakan perusahaan, product knowledge, prosedur operasional, dan regulasi ke dalam satu platform berbasis AI.
"Sistem ini membantu pegawai memperoleh informasi secara cepat dan akurat, sehingga meningkatkan kualitas pelayanan, konsistensi informasi, serta efektivitas pengambilan keputusan," jelas Dian. Implementasi teknologi ini memungkinkan pengelolaan puluhan ribu dokumen dan ratusan ribu halaman pengetahuan perusahaan secara lebih efisien, sekaligus mengurangi waktu pencarian informasi dan meningkatkan produktivitas karyawan.
Personalisasi Layanan dan Predictive Marketing
Di sisi pemasaran dan pengembangan bisnis, AI dimanfaatkan untuk mendukung personalized recommendation dan predictive marketing. Dengan menganalisis perilaku transaksi dan preferensi nasabah, bank dapat memberikan penawaran produk yang lebih relevan dan tepat sasaran, seperti rekomendasi produk, pengingat pembayaran, maupun strategi akuisisi nasabah berbasis data.
Teknologi Generative AI juga digunakan untuk membantu pegawai lini depan dalam mencari informasi dan solusi atas permasalahan nasabah secara lebih cepat dan akurat. "Berbagai implementasi menunjukkan bahwa penggunaan AI dapat mengurangi waktu penyelesaian layanan hingga lebih dari 60%, meningkatkan produktivitas karyawan, mempercepat proses pengambilan keputusan, serta memperbaiki pengalaman nasabah secara keseluruhan," tutup Dian.
Implikasi bagi Industri Perbankan
Secara umum, tren adopsi AI yang mencapai hampir 60% pada kuartal pertama 2026 menunjukkan bahwa industri perbankan Indonesia sedang mengalami transformasi digital yang signifikan. Implikasinya, bank-bank yang belum mengadopsi teknologi ini perlu mempercepat langkah untuk tetap kompetitif dalam memberikan layanan kepada nasabah.
Efisiensi operasional yang dihasilkan, baik dari sisi biaya maupun waktu layanan, menunjukkan bahwa investasi dalam teknologi AI memberikan return yang terukur. Namun, perlu dicermati bahwa implementasi AI juga membawa tantangan terkait tata kelola data, keamanan siber, dan kebutuhan regulasi yang adaptif untuk memastikan perlindungan konsumen tetap terjaga.
Ke depan, dengan perkembangan menuju Agentic AI yang lebih otonom, industri perbankan perlu mempersiapkan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kerangka regulasi yang memadai untuk mengoptimalkan manfaat teknologi ini sambil memitigasi risiko yang mungkin muncul.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa tingkat adopsi AI di perbankan Indonesia pada kuartal I 2026?
- Berdasarkan survei PERBANAS dan IBM, tingkat adopsi AI di sektor perbankan Indonesia mencapai 57,9% pada kuartal pertama tahun 2026. Angka ini meningkat signifikan dari sekitar 30% pada tahun 2024 dan 42% pada tahun 2025.
- Berapa persen layanan pelanggan bank yang ditangani oleh AI?
- Menurut OJK, solusi AI seperti chatbot dan virtual assistant mampu menangani sekitar 35-40% volume interaksi layanan pelanggan di beberapa implementasi perbankan. Teknologi ini juga dilaporkan dapat mengurangi waktu penyelesaian layanan hingga lebih dari 60%.
- Apa manfaat utama penerapan AI di perbankan Indonesia?
- Penerapan AI di perbankan menghasilkan beberapa manfaat utama, antara lain efisiensi biaya operasional hingga puluhan miliar rupiah per tahun, pengurangan waktu penyelesaian layanan lebih dari 60%, peningkatan produktivitas karyawan, serta perbaikan pengalaman nasabah melalui layanan yang lebih cepat dan personal.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Pemerintah Uji Coba Bansos Digital dengan Face Recognition di Banyuwangi
Uji coba sistem bantuan sosial digital menggunakan teknologi pengenalan wajah dan biometrik akan dimulai di Banyuwangi pada September 2026, sebelum diluncurkan secara nasional.
QRIS: Satu QR untuk Semua Dompet Digital, Begini Cara Kerjanya
Dari warung kopi hingga toko online, QRIS menyatukan ratusan aplikasi pembayaran dalam satu kode QR, kini bahkan bisa dipakai di luar negeri.
Panduan Lengkap Lindungi Akun Digital: 2FA, Password Manager, hingga Deteksi Phishing
Kebocoran data kian masif. BSSN catat 1,6 miliar serangan siber ke Indonesia sepanjang 2024, saatnya tingkatkan pertahanan akun Anda.
Dari Pamali hingga Coffee Talk: Bagaimana Game Indonesia Menembus Pasar Global
Industri game lokal tumbuh pesat dengan identitas budaya khas, namun masih menghadapi tantangan pendanaan dan dominasi pemain asing di pasar domestik.
Open Banking Indonesia: Standar SNAP, Manfaat, dan Risiko Data
Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) Bank Indonesia membuka era baru layanan keuangan digital, bagaimana konsumen diuntungkan dan risiko apa yang harus diwaspadai.




