Pemerintah Uji Coba Bansos Digital dengan Face Recognition di Banyuwangi
Uji coba sistem bantuan sosial digital menggunakan teknologi pengenalan wajah dan biometrik akan dimulai di Banyuwangi pada September 2026, sebelum diluncurkan secara nasional.

Ringkasan
Pemerintah Indonesia akan menguji coba digitalisasi bantuan sosial menggunakan teknologi face recognition dan biometrik di Banyuwangi pada September 2026. Sistem ini, bagian dari program GovTech, ditargetkan dapat menghemat anggaran negara hingga Rp 14 triliun per tahun melalui penyaluran yang lebih akurat dan transparan.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Pemerintah Indonesia akan meluncurkan sistem digitalisasi bantuan sosial (bansos) menggunakan teknologi pengenalan wajah (face recognition) dan data biometrik sebagai bagian dari program GovTech pada 2026. Uji coba perdana dijadwalkan berlangsung di Banyuwangi pada September 2026, sebelum peluncuran nasional dilakukan.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Ketua Komite Reformasi Digital, Luhut Binsar Pandjaitan, menyatakan bahwa jika uji coba berjalan baik, sistem akan diluncurkan secara nasional pada 2026. "Jadi betul-betul bertahap tindak lanjut dan kemudian sambil melihat kekurangan di sana sini," katanya, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia.
Pendataan Ulang dengan Teknologi Biometrik
Luhut menjelaskan bahwa penggunaan GovTech akan membuat penyaluran bansos lebih tepat sasaran. Pendataan ulang akan dilakukan menggunakan data biometrik dan face recognition agar penerima manfaat dapat diidentifikasi lebih akurat. "Jadi akan dilakukan pendataan ulang lagi, face recognition atau biometeric, dengan begitu kesalahan untuk target bansos maupun transfer cash itu sangat kecil," ujarnya.
Pada uji coba, akan dilakukan peningkatan akurasi penentuan target bansos berbasis Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sistem juga akan mengintegrasikan data lain seperti data kesehatan, ketenagakerjaan, dan aset untuk memastikan ketepatan penerima.
Potensi Penghematan Rp 14 Triliun per Tahun
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) sebelumnya menjelaskan bahwa sistem bansos berbasis digital membuka potensi penghematan anggaran negara mencapai Rp 14 triliun per tahun. Menurutnya, sistem digital membuat bansos dapat disalurkan lebih akurat, transparan, dan akuntabel. "Dengan sistem digital, penyaluran bansos akan lebih akurat, transparan, dan akuntabel. Uang negara bisa diselamatkan dan benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak," kata Gus Ipul.
Portal Perlindungan Sosial Nasional
Bansos digital akan diintegrasikan melalui Portal Perlindungan Sosial Nasional, yang menjadi platform untuk pendaftaran dan verifikasi penerima bansos. Masyarakat yang berhak akan diarahkan melakukan pendaftaran melalui portal khusus atau dengan pendampingan, dan akan mendapatkan hasil pengajuan beserta alasannya.
Masyarakat dapat melakukan pendaftaran secara pribadi atau melalui orang lain sebagai calon penerima bansos dengan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Bagi warga yang tidak memiliki ponsel, pendaftaran dapat dilakukan dengan bantuan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang akan membantu perekaman biometrik. Sistem akan melakukan verifikasi secara otomatis saat pendaftaran dan menampilkan status kelayakan penerima bansos.
Implikasi dan Harapan
Secara umum, digitalisasi sistem bantuan sosial merupakan langkah penting dalam modernisasi tata kelola pemerintahan. Implikasinya, penggunaan teknologi biometrik dan face recognition dapat meningkatkan akurasi data penerima, mengurangi kebocoran anggaran, serta mempercepat proses verifikasi. Dengan uji coba di Banyuwangi, pemerintah berharap daerah lain akan tertarik mengajukan diri sebagai lokus penerapan transformasi digital untuk use case prioritas, termasuk perlindungan sosial.
Perlu dicermati bahwa keberhasilan sistem ini bergantung pada kesiapan infrastruktur digital di daerah, literasi digital masyarakat, serta keamanan data pribadi warga. Pendekatan bertahap yang diambil pemerintah memungkinkan evaluasi dan perbaikan sebelum implementasi nasional penuh.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Kapan uji coba bansos digital dengan face recognition dimulai?
- Uji coba bansos digital menggunakan teknologi face recognition dan biometrik akan dimulai di Banyuwangi pada September 2026. Jika berjalan baik, sistem akan diluncurkan secara nasional pada 2026.
- Berapa potensi penghematan anggaran dari sistem bansos digital?
- Menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, sistem bansos berbasis digital berpotensi menghemat anggaran negara hingga Rp 14 triliun per tahun melalui penyaluran yang lebih akurat, transparan, dan akuntabel.
- Bagaimana cara masyarakat mendaftar bansos digital?
- Masyarakat dapat mendaftar melalui Portal Perlindungan Sosial Nasional menggunakan Identitas Kependudukan Digital (IKD). Bagi yang tidak memiliki ponsel, pendaftaran dapat dilakukan dengan bantuan pendamping PKH yang akan membantu perekaman biometrik. Sistem akan melakukan verifikasi otomatis dan menampilkan status kelayakan penerima.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
QRIS: Satu QR untuk Semua Dompet Digital, Begini Cara Kerjanya
Dari warung kopi hingga toko online, QRIS menyatukan ratusan aplikasi pembayaran dalam satu kode QR, kini bahkan bisa dipakai di luar negeri.
Panduan Lengkap Lindungi Akun Digital: 2FA, Password Manager, hingga Deteksi Phishing
Kebocoran data kian masif. BSSN catat 1,6 miliar serangan siber ke Indonesia sepanjang 2024, saatnya tingkatkan pertahanan akun Anda.
Dari Pamali hingga Coffee Talk: Bagaimana Game Indonesia Menembus Pasar Global
Industri game lokal tumbuh pesat dengan identitas budaya khas, namun masih menghadapi tantangan pendanaan dan dominasi pemain asing di pasar domestik.
Open Banking Indonesia: Standar SNAP, Manfaat, dan Risiko Data
Standar Nasional Open API Pembayaran (SNAP) Bank Indonesia membuka era baru layanan keuangan digital, bagaimana konsumen diuntungkan dan risiko apa yang harus diwaspadai.
Deepfake di Indonesia: Cara Mengenali Konten Manipulatif dan Regulasi yang Berlaku
Teknologi deepfake berbasis AI kini digunakan untuk penipuan, hoaks politik, hingga pemerasan, panduan lengkap deteksi dan perlindungan hukum.




