Lompat ke konten utama
sorotutama

Indonesia dan Quad: Mengapa Jakarta Pilih Jalan Tengah di Indo-Pasifik

Di tengah rivalitas AS-Tiongkok, Indonesia mempertahankan politik bebas-aktif dan menolak bergabung Quad — sebuah pilihan strategis yang mencerminkan kepentingan nasional jangka panjang.

Oleh Redaksi Sorot Utama6 menit baca
Indonesia dan Quad — posisi di Indo-Pasifik
Foto: Leonid Altman via Pexels

Ringkasan

Indonesia secara konsisten menolak bergabung Quadrilateral Security Dialogue (Quad) yang beranggotakan AS, Jepang, India, dan Australia. Pilihan ini bukan karena ketidakpedulian terhadap stabilitas regional, melainkan komitmen terhadap politik luar negeri bebas-aktif, ASEAN centrality, dan kepentingan nasional yang kompleks — mulai dari kedaulatan Laut China Selatan hingga hubungan ekonomi dengan Tiongkok. Sebagai gantinya, Indonesia mendorong ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP) sebagai kerangka inklusif yang tidak memaksa negara memilih blok.

Daftar isi▶ buka

Ketika Presiden Joe Biden mengundang pemimpin Quad — AS, Jepang, India, dan Australia — ke pertemuan puncak di Wilmington, Delaware, Mei 2023, Jakarta menyaksikan dari kejauhan. Indonesia, kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, secara sadar memilih tidak terlibat dalam aliansi keamanan yang kian vokal menghadapi pengaruh Tiongkok di Indo-Pasifik. Posisi ini bukan tanpa perhitungan: di tengah rivalitas geopolitik yang memanas, Indonesia mempertahankan jalan tengah yang mencerminkan warisan politik luar negeri bebas-aktif dan realitas kepentingan nasional yang kompleks.

Apa Itu Quad dan Mengapa Aliansi Ini Penting?

Quadrilateral Security Dialogue (Quad) adalah forum konsultasi strategis informal yang menghimpun Amerika Serikat, Jepang, India, dan Australia. Meski akar historisnya dapat dilacak ke kerja sama kemanusiaan pasca-tsunami 2004, Quad dalam format modernnya dihidupkan kembali pada 2017 di tengah kekhawatiran bersama terhadap ekspansi maritim Tiongkok. Menurut Departemen Luar Negeri AS, Quad berfokus pada kerja sama di bidang keamanan maritim, infrastruktur berkualitas, teknologi bersih, kesehatan global, dan konektivitas digital.

Meski para anggotanya berulang kali menyatakan Quad bukan aliansi militer, aktivitas gabungan seperti latihan maritim Malabar — yang melibatkan angkatan laut keempat negara — dan pernyataan bersama tentang kebebasan navigasi di Laut China Selatan mengirimkan sinyal geopolitik yang jelas. Bagi Beijing, Quad adalah upaya 'pembendungan Tiongkok' gaya Perang Dingin. Bagi Washington dan sekutunya, ini adalah mekanisme untuk menjaga tatanan berbasis aturan di kawasan Indo-Pasifik.

Bagaimana Konteks Rivalitas AS-Tiongkok Membentuk Lanskap Regional?

Kawasan Indo-Pasifik telah menjadi arena utama kompetisi strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Tiongkok mengklaim hampir seluruh Laut China Selatan berdasarkan 'nine-dash line', membangun pulau buatan dan fasilitas militer di wilayah sengketa, serta meningkatkan patroli maritim. Sementara itu, AS memperkuat kehadiran militernya melalui Freedom of Navigation Operations (FONOPs), memperdalam aliansi dengan Jepang dan Australia, serta membangun kemitraan keamanan baru seperti AUKUS.

Bagi negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, rivalitas ini menciptakan dilema: bagaimana menjaga hubungan ekonomi vital dengan Tiongkok — mitra dagang terbesar ASEAN sejak 2009 menurut data ASEAN Secretariat — sambil memastikan kedaulatan dan keamanan maritim tidak terganggu oleh klaim sepihak atau intimidasi. Tekanan untuk 'memilih pihak' kian terasa, namun Jakarta secara konsisten menolak dikotomi tersebut.

Apa Prinsip Dasar Politik Luar Negeri Indonesia?

Indonesia mendasarkan kebijakan luar negerinya pada prinsip 'bebas-aktif' yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. Kementerian Luar Negeri RI mendefinisikan bebas-aktif sebagai kebijakan yang tidak memihak pada kekuatan besar mana pun, sambil secara aktif berkontribusi pada perdamaian dunia. Prinsip ini berakar pada pengalaman Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, di mana Indonesia memainkan peran sentral dalam Gerakan Non-Blok.

Selain bebas-aktif, Indonesia menjadikan 'ASEAN centrality' sebagai pilar utama diplomasi regionalnya. Konsep ini menempatkan ASEAN sebagai penggerak utama arsitektur keamanan dan ekonomi di Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai primus inter pares. Dalam dokumen resmi Kemlu, ASEAN centrality berarti menolak format yang dapat memecah-belah solidaritas regional atau memaksa negara anggota memilih antara kekuatan besar.

Mengapa Indonesia Tidak Bergabung dengan Quad?

Penolakan Indonesia terhadap Quad bersifat prinsipil dan pragmatis. Pertama, bergabung dengan Quad akan bertentangan langsung dengan prinsip bebas-aktif. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dalam berbagai forum, menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menjadi bagian dari aliansi yang dapat dipersepsikan sebagai anti-Tiongkok atau pro-blok tertentu. Kedua, keanggotaan Quad berpotensi merusak ASEAN centrality — jika Indonesia, negara terbesar di ASEAN, bergabung dengan mekanisme keamanan di luar ASEAN, ini akan melemahkan kohesi regional.

Ketiga, ada pertimbangan ekonomi konkret. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Indonesia dengan nilai perdagangan bilateral mencapai 124,4 miliar dolar AS pada 2022 menurut data Badan Pusat Statistik. Tiongkok juga merupakan sumber utama investasi infrastruktur, termasuk proyek kereta cepat Jakarta-Bandung dan pembangkit listrik. Bergabung dengan Quad dapat memicu respons ekonomi dari Beijing yang merugikan kepentingan Indonesia.

Apa Kepentingan Nasional Indonesia yang Harus Dijaga?

Indonesia memiliki kepentingan vital di Laut China Selatan, khususnya di perairan Natuna Utara. Meski Indonesia secara resmi tidak terlibat dalam sengketa teritorial Laut China Selatan, klaim nine-dash line Tiongkok tumpang-tindih dengan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna. Sejak 2016, insiden pelanggaran oleh kapal ikan Tiongkok yang dikawal Coast Guard meningkat. Pemerintah Indonesia merespons dengan meningkatkan patroli maritim, membangun pangkalan militer di Natuna, dan secara diplomatik menolak klaim historis Tiongkok yang tidak memiliki dasar hukum internasional menurut Putusan Mahkamah Arbitrase Permanen 2016.

Di sisi lain, Indonesia membutuhkan stabilitas ekonomi regional. Tiongkok bukan hanya mitra dagang, tetapi juga pasar ekspor utama untuk komoditas seperti batu bara, minyak kelapa sawit, dan nikel — sektor yang menyerap jutaan tenaga kerja Indonesia. Selain itu, Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok menyediakan pembiayaan infrastruktur yang sulit diperoleh dari sumber lain. Lemhannas RI dalam kajian 2023 menekankan bahwa kepentingan Indonesia adalah menjaga keseimbangan: kedaulatan maritim tanpa mengorbankan akses ekonomi.

Apa Alternatif yang Ditawarkan Indonesia?

Alih-alih bergabung dengan Quad, Indonesia memimpin upaya ASEAN untuk merumuskan ASEAN Outlook on Indo-Pacific (AOIP), yang diadopsi pada KTT ASEAN di Bangkok, Juni 2019. AOIP adalah visi regional yang menekankan inklusivitas, keterbukaan, transparansi, dan penghormatan terhadap hukum internasional. Berbeda dengan Quad yang eksklusif, AOIP mengundang semua pihak — termasuk AS, Tiongkok, India, Jepang, dan Australia — untuk bekerja sama dalam empat area prioritas: kerja sama maritim, konektivitas, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), dan ekonomi.

Menurut dokumen resmi ASEAN Secretariat, AOIP dirancang untuk memastikan ASEAN tetap menjadi subjek, bukan objek, dalam dinamika geopolitik Indo-Pasifik. Indonesia, sebagai arsitek utama AOIP, berupaya menawarkan 'jalan ketiga' yang tidak memaksa negara memilih antara Washington dan Beijing. Kementerian Luar Negeri RI secara aktif mempromosikan AOIP dalam dialog dengan mitra eksternal, termasuk Quad countries, sebagai kerangka kolaborasi yang lebih inklusif.

Bagaimana Indonesia Menjalankan Balancing Act Diplomatik?

Diplomasi Indonesia di Indo-Pasifik dapat digambarkan sebagai balancing act yang hati-hati. Jakarta mempertahankan hubungan pertahanan dengan AS — termasuk latihan bersama Garuda Shield dan pembelian peralatan militer — sambil menolak basis militer asing di wilayahnya sesuai konstitusi. Indonesia juga memperdalam kerja sama maritim dengan Jepang dan Australia, dua anggota Quad, melalui mekanisme bilateral yang tidak melibatkan komitmen keamanan kolektif.

Dengan Tiongkok, Indonesia mengelola hubungan melalui jalur ekonomi dan diplomatik. Jakarta berpartisipasi dalam BRI dengan syarat transparansi dan kepatuhan terhadap standar lingkungan, sambil tegas menolak klaim maritim Tiongkok di Natuna. Menurut analisis CSIS Indonesia, strategi ini mencerminkan pragmatisme: mengambil manfaat ekonomi dari semua pihak tanpa terikat secara eksklusif pada satu blok.

Namun balancing act ini bukan tanpa risiko. Tekanan dari kedua kubu untuk menunjukkan keberpihakan yang lebih jelas terus meningkat. AS dan sekutunya mendesak Indonesia untuk lebih vokal mengkritik tindakan Tiongkok di Laut China Selatan, sementara Beijing memperingatkan Jakarta agar tidak terlalu dekat dengan 'kekuatan luar' yang ingin mendestabilisasi kawasan. Dalam konteks ini, AOIP berfungsi sebagai perisai diplomatik — memberikan Indonesia legitimasi untuk menolak tekanan sambil menawarkan platform konstruktif.

Apa Tantangan dan Prospek ke Depan?

Tantangan terbesar Indonesia adalah mempertahankan kredibilitas politik bebas-aktif di tengah polarisasi yang semakin tajam. Seiring kompetisi AS-Tiongkok memasuki domain teknologi, rantai pasok, dan standar digital, ruang untuk netralitas menyempit. Indonesia harus membuat pilihan sulit — misalnya, dalam adopsi teknologi 5G atau partisipasi dalam inisiatif seperti Indo-Pacific Economic Framework (IPEF) yang dipimpin AS.

Di sisi lain, ada peluang bagi Indonesia untuk memperkuat peran sebagai 'honest broker' regional. Dengan rotasi Presidensi ASEAN, Indonesia dapat menggunakan platform tersebut untuk mempromosikan dialog inklusif dan manajemen konflik. Keberhasilan AOIP bergantung pada kemampuan ASEAN membuktikan bahwa kerja sama multilateral yang tidak eksklusif dapat menghasilkan manfaat konkret — dari keamanan maritim hingga konektivitas infrastruktur.

Untuk pembaca yang ingin memahami posisi resmi Indonesia lebih lanjut, Kementerian Luar Negeri RI menyediakan dokumen kebijakan di https://kemlu.go.id/, sementara teks lengkap AOIP dapat diakses melalui ASEAN Secretariat di https://asean.org/. Analisis mendalam tentang dinamika geopolitik regional tersedia di laman CSIS Indonesia (https://www.csis.or.id/) dan Lemhannas RI (https://www.lemhannas.go.id/). Memahami kompleksitas ini penting bagi siapa pun yang ingin mengikuti perkembangan hubungan internasional Indonesia di era persaingan strategis Indo-Pasifik.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah Indonesia akan bergabung dengan Quad di masa depan?
Tidak ada indikasi Indonesia akan mengubah posisinya. Pemerintah secara konsisten menyatakan komitmen terhadap politik bebas-aktif dan ASEAN centrality, yang bertentangan dengan keanggotaan dalam aliansi keamanan eksklusif seperti Quad.
Apa bedanya AOIP dengan Quad?
AOIP adalah kerangka inklusif yang mengundang semua pihak untuk bekerja sama tanpa memaksa negara memilih blok, fokus pada kerja sama ekonomi dan maritim. Quad adalah forum konsultasi strategis empat negara yang lebih fokus pada keamanan dan dipersepsikan sebagai mekanisme untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok.
Bagaimana Indonesia melindungi kepentingannya di Natuna tanpa bergabung Quad?
Indonesia meningkatkan kapasitas pertahanan mandiri melalui modernisasi TNI AL, pembangunan pangkalan militer di Natuna, dan kerja sama bilateral dengan berbagai negara termasuk AS, Jepang, dan Australia — tanpa komitmen aliansi formal yang dapat melanggar prinsip bebas-aktif.
Apakah politik bebas-aktif masih relevan di era rivalitas AS-Tiongkok?
Pemerintah Indonesia berpendapat prinsip bebas-aktif justru semakin relevan untuk menghindari ketergantungan pada satu blok dan memaksimalkan kepentingan nasional. Namun, kritikus berpendapat ruang untuk netralitas semakin sempit dan Indonesia harus membuat pilihan strategis lebih jelas.
Apa manfaat konkret AOIP bagi Indonesia?
AOIP memberikan Indonesia legitimasi diplomatik untuk menolak tekanan bergabung dengan aliansi eksklusif, memperkuat peran kepemimpinan di ASEAN, dan menawarkan platform untuk menarik investasi infrastruktur serta kerja sama maritim dari berbagai mitra tanpa komitmen geopolitik yang membatasi.

Sumber

  1. Kementerian Luar Negeri RI
  2. ASEAN — AOIP
  3. CSIS Indonesia
  4. Lemhannas
#quad#indo-pasifik#Asean#politik-luar-negeri#bebas-aktif#Geopolitik

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga