Eskalasi AS-Iran: IRGC Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain
Eskalasi AS-Iran meluas ke kawasan Teluk. Komando Pusat AS menggempur infrastruktur militer Iran, sementara Garda Revolusi mengeklaim membalas dengan menyerang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain. Gencatan senjata 18 Juni kian rapuh. Di sisi lain, jalur diplomasi lewat mediasi Qatar masih berjalan.

Ringkasan
Gencatan senjata AS-Iran yang disepakati 18 Juni 2026 kian rapuh. Militer AS (CENTCOM) menyatakan menggempur infrastruktur pengawasan, sistem komunikasi, pertahanan udara, penyimpanan drone, dan kemampuan penebar ranjau Iran, sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian mengeklaim membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem dan markas Armada Kelima AS. Klaim itu belum dikonfirmasi independen, dan risiko konflik meluas meningkat.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Catatan redaksi (27 Juni 2026): Artikel ini melaporkan situasi yang sedang berkembang pada saat itu. Rangkaian peristiwa setelah tanggal tersebut dapat berbeda dari yang tercatat di sini; artikel dipertahankan sebagai catatan pada waktu kejadian.
Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran meluas ke kawasan Teluk dan membuat gencatan senjata yang disepakati 18 Juni 2026 kian rapuh. Militer AS menggempur sejumlah situs militer Iran, sementara Garda Revolusi Iran mengeklaim telah membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.
Apa yang terjadi
Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pesawat-pesawatnya menargetkan infrastruktur pengawasan militer, sistem komunikasi, situs pertahanan udara, fasilitas penyimpanan drone, serta kemampuan penebar ranjau (minelayer) milik Iran. Serangan itu disebut sebagai respons atas serangan drone terhadap kapal tanker komersial berbendera Panama, M/T Kiku, yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Presiden AS Donald Trump, lewat unggahan di platform Truth Social, menyatakan pesawat AS menggempur situs penyimpanan rudal dan drone serta radar pesisir Iran karena Teheran kembali melanggar perjanjian gencatan senjata. Ia memperingatkan kemungkinan langkah militer yang jauh lebih luas apabila Iran terus melakukan eskalasi.
Mungkin akan tiba saatnya kami tidak lagi bisa bersikap masuk akal, dan akan terpaksa menuntaskan secara militer pekerjaan yang telah kami mulai dengan sangat sukses. Jika itu terjadi, Republik Islam Iran tidak akan ada lagi. - Donald Trump, via Truth Social
Klaim serangan balasan Iran ke Kuwait dan Bahrain
Garda Revolusi Iran (IRGC), melalui media pemerintah Iran, mengeklaim telah melancarkan operasi gabungan rudal dan drone yang menghancurkan delapan infrastruktur militer AS di kawasan Teluk, termasuk di Kuwait dan Bahrain. IRGC menyebut menyerang Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait dan markas Armada Kelima AS di Bahrain, dua fasilitas yang penting bagi kehadiran militer AS di kawasan.
IRGC menyatakan serangan itu sebagai balasan atas gempuran AS ke posisi pesisir Iran, dan menuduh Washington melanggar nota kesepahaman damai 18 Juni. Sampai laporan ini disusun, klaim kerusakan dan korban dari serangan balasan tersebut belum dapat dikonfirmasi secara independen oleh pihak AS, Kuwait, maupun Bahrain.
Latar belakang: gencatan senjata 18 Juni
Pada 18 Juni 2026, AS dan Iran menyepakati nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata yang ditengahi Pakistan untuk mengakhiri rangkaian permusuhan di kawasan. Kesepakatan yang disebut memuat 14 poin itu antara lain membuka kembali Selat Hormuz dan melonggarkan sebagian sanksi, sementara Iran tetap mempertahankan program rudalnya. Namun gencatan itu rapuh sejak awal, dengan kedua pihak beberapa kali saling serang.
Gencatan ini merupakan kesepakatan interim untuk meredakan rangkaian konflik bersenjata antara kedua negara sepanjang 2026. Ketegangan sempat memuncak pada awal Juni, ketika menurut laporan media AS menggempur situs radar pesisir Iran dan Iran sempat mengumumkan penutupan Selat Hormuz, sebelum kedua pihak menyepakati gencatan pada pertengahan bulan.
Kenapa kawasan ini krusial
Selat Hormuz adalah jalur laut sempit penghubung Teluk Persia dengan laut lepas, dan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewatinya. Eskalasi militer atau gangguan di selat ini berisiko mengerek harga energi global dan mengganggu jalur pelayaran strategis. Kehadiran pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk markas Armada Kelima, membuat negara-negara Teluk rentan terseret konflik yang lebih luas.
Pembukaan kembali selat lewat gencatan senjata sebelumnya sempat menenangkan pasar dan memunculkan harapan harga minyak mereda. Kembalinya eskalasi berpotensi membalik sentimen tersebut dan menambah ketidakpastian bagi rantai pasok energi global, mengingat posisi Selat Hormuz sebagai salah satu titik tersempit lalu lintas minyak dunia.
Yang masih belum pasti
Situasi di kawasan Teluk sangat dinamis. Cakupan persis serangan kedua pihak, jumlah korban, serta nasib gencatan senjata belum dapat dipastikan secara independen. AS dan Iran saling menuduh lebih dulu melanggar kesepakatan, sementara komunitas internasional mengkhawatirkan potensi meluasnya konflik dan menyerukan deeskalasi.
Jalur diplomasi lewat Qatar tetap berjalan
Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi untuk menyelamatkan gencatan senjata tetap berjalan. Gencatan 18 Juni 2026 yang dikenal sebagai Islamabad MOU dan ditengahi Qatar serta Pakistan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya transit selama 60 hari, pembersihan ranjau oleh Iran, pencabutan blokade laut, pemberian keringanan sanksi dan pencairan aset Iran yang dibekukan, penarikan pasukan AS, serta jendela negosiasi nuklir selama 60 hari.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan Iran dan AS belum memasuki tahap perundingan kesepakatan final. Menurutnya, sesuai klausul dalam nota kesepahaman, pembicaraan menuju kesepakatan akhir baru bisa dimulai setelah sejumlah klausul awal benar-benar dilaksanakan. Baghaei juga menyebut saluran komunikasi antara Iran dan AS bersifat politis, bukan militer, dan menegaskan Teheran bertekad mempertahankan haknya atas pengelolaan Selat Hormuz tanpa campur tangan pihak luar.
Delegasi Iran dijadwalkan menindaklanjuti implementasi nota kesepahaman tersebut, sementara Utusan Khusus AS, Steve Witkoff, dilaporkan menuju Doha, Qatar, yang menjadi salah satu lokasi mediasi. Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski terjadi pertukaran serangan, kedua pihak masih membuka ruang penyelesaian lewat perundingan.
Sorot Utama akan terus memperbarui laporan ini seiring perkembangan dan verifikasi dari sumber resmi pihak-pihak terkait serta lembaga internasional.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa yang memicu serangan terbaru AS ke Iran?
- AS menyebut serangannya sebagai respons atas serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, yang dinilai Washington sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Iran.
- Benarkah Iran menyerang pangkalan AS di Kuwait dan Bahrain?
- Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeklaim menyerang pangkalan militer AS di Kuwait (Pangkalan Udara Ali Al Salem) dan Bahrain (markas Armada Kelima). Klaim ini belum dikonfirmasi secara independen per laporan ini disusun.
- Apa isi gencatan senjata AS-Iran?
- Nota kesepahaman 18 Juni 2026 yang ditengahi Pakistan disebut memuat 14 poin, termasuk membuka kembali Selat Hormuz dan pelonggaran sebagian sanksi, sementara Iran mempertahankan program rudalnya.
- Mengapa Selat Hormuz penting bagi dunia?
- Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga energi global.
Sumber
- NPR - U.S. and Iran each announce retaliatory strikes in Iran, Kuwait and Bahrain
- PBS NewsHour - U.S. strikes Iran in response to drone attack on cargo ship that Trump says violated ceasefire
- CNN - US launches more strikes on Iranian sites (live updates, 27 Jun 2026)
- Gulf News - US Strikes Iran After Tanker Attack as IRGC Hits Kuwait, Bahrain
- Wikipedia - 2026 Iran war
- CNN - Iran war live updates (US envoy Witkoff en route to Doha), 29 Jun 2026
Tentang penulis
Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
ASEAN: Sejarah, Negara Anggota, dan Perannya bagi Indonesia
Dari lima negara pendiri pada 1967 hingga kini 11 anggota setelah Timor-Leste bergabung, ASEAN menjadi panggung diplomasi utama Indonesia.
Putin Akui Rusia Kekurangan BBM Akibat Serangan Drone Ukraina
Untuk pertama kalinya, Presiden Vladimir Putin mengakui Rusia menghadapi defisit bahan bakar setelah gelombang serangan drone Ukraina menghantam kilang-kilang minyaknya. Moskow telah melarang ekspor bensin dan mempertimbangkan larangan ekspor solar.
Panduan Lengkap Kerja ke Luar Negeri Resmi: SIAPkerja, Dokumen Wajib, dan Modus Calo Ilegal
Sistem satu kanal BP2MI kini wajib untuk semua pekerja migran Indonesia, pahami alur resmi, dokumen yang diperlukan, dan modus penipuan yang mengancam keselamatan dan hak Anda.
Panduan Lengkap Bekerja ke Luar Negeri: Prosedur Resmi dan Cara Hindari Calo Ilegal
Dari pendaftaran SIAPkerja hingga perlindungan hukum di negara tujuan, semua yang perlu diketahui calon pekerja migran Indonesia.
Aksesi Indonesia ke OECD: Jalan Panjang Menuju Klub Negara Maju
Proses keanggotaan OECD membuka peluang investasi dan kredibilitas global, namun menuntut reformasi struktural yang tidak mudah.




