Lompat ke konten utama
sorotutama

Gencatan Senjata AS-Iran Goyah Usai Serangan Baru di Selat Hormuz

Komando Pusat militer AS menyatakan menggempur situs rudal, drone, dan radar pantai Iran setelah Washington menuduh Teheran melanggar gencatan senjata. IRGC mengeklaim telah membalas dengan menyerang posisi militer AS di kawasan.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
Kapal tanker melintasi jalur laut, ilustrasi pelayaran di Selat Hormuz
Foto: Zifeng Xiong via Pexels

Ringkasan

Per 26 Juni 2026, gencatan senjata 60 hari AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz berada di ujung tanduk. Militer AS (CENTCOM) menyatakan menggempur situs rudal, drone, dan radar pantai Iran setelah Presiden Donald Trump menuduh Teheran melanggar kesepakatan lewat serangan drone ke kapal kargo. IRGC lewat media pemerintah Iran mengeklaim telah membalas dengan menyerang posisi militer AS di kawasan, dan mengancam respons lebih keras bila AS kembali menyerang.

Daftar isi▶ buka

Gencatan senjata 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran yang sempat membuka kembali Selat Hormuz kembali rapuh. Per Jumat, 26 Juni 2026, militer AS menggempur sejumlah situs militer Iran, sementara Iran mengeklaim telah melancarkan serangan balasan ke posisi pasukan AS di kawasan Teluk.

Apa yang terjadi

Komando Pusat militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pesawat-pesawatnya menggempur lokasi penyimpanan rudal dan drone serta situs radar pantai milik Iran. Serangan itu dilancarkan setelah Presiden AS Donald Trump menuduh Teheran melanggar gencatan senjata lewat serangan drone terhadap sebuah kapal kargo berbendera Singapura yang melintasi Selat Hormuz. Washington menegaskan langkah itu sebagai respons atas insiden keamanan di selat tersebut.

Latar belakang: dari penutupan selat hingga gencatan senjata

Ketegangan di Selat Hormuz sudah memanas sejak awal Juni 2026. Menurut laporan media, militer AS sempat menggempur situs radar pengawasan pantai Iran di kawasan Goruk dan Pulau Qeshm di sepanjang selat, dan tidak lama kemudian Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk aktivitas pelayaran.

Pada pertengahan Juni 2026, AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) gencatan senjata 60 hari yang ditengahi Pakistan. MoU yang diteken Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian itu ditujukan untuk merintis kesepakatan damai permanen sekaligus meredakan rangkaian konflik bersenjata kedua negara sepanjang 2026. Kesepakatan tersebut membuka kembali Selat Hormuz tanpa biaya transit selama dua bulan dan melonggarkan sebagian sanksi, sementara Iran tetap mempertahankan program rudalnya. Pembukaan kembali jalur ini sempat memunculkan optimisme bahwa harga minyak dunia akan mereda.

Namun gencatan itu sejak awal rapuh. Kedua pihak beberapa kali saling baku tembak, dan menurut kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, Teheran sempat menegaskan tidak akan membuka penuh Selat Hormuz selama perang di Lebanon belum diakhiri dan integritas wilayah Lebanon belum dijamin.

Klaim serangan balasan Iran

IRGC, melalui media pemerintah Iran, mengeklaim bahwa Angkatan Laut Garda Revolusi telah menyerang posisi militer AS di kawasan sebagai respons atas serangan Washington. IRGC merujuk pada klausul dalam nota kesepahaman yang menyebut pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz menjadi kewenangan Iran.

Garda Revolusi juga memperingatkan bahwa apabila AS kembali menyerang, respons balasan berikutnya akan dilakukan dalam skala lebih luas dan lebih keras. Sampai laporan ini disusun, klaim serangan balasan Iran tersebut belum dikonfirmasi secara independen oleh pihak AS, dan kedua negara saling menuduh memicu pelanggaran kesepakatan.

Dampak ke harga minyak dan pelayaran

Selat Hormuz adalah jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan laut lepas, dan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewatinya. Karena itu, eskalasi militer atau penutupan selat berisiko mengerek harga energi global serta mengganggu rantai pasok dan jalur pelayaran strategis. Pembukaan kembali selat lewat gencatan senjata sebelumnya sempat menenangkan pasar, sehingga kembalinya konflik berpotensi membalik sentimen tersebut.

Yang masih belum pasti

Situasi di kawasan Teluk masih sangat dinamis. Jumlah korban, cakupan persis serangan kedua pihak, serta nasib gencatan senjata belum dapat dipastikan secara independen. Pemerintah AS menyatakan siap merespons bila Iran kembali melakukan eskalasi, sementara komunitas internasional menyerukan deeskalasi dan menjaga kebebasan navigasi di salah satu jalur energi tersibuk dunia.

Sorot Utama akan memperbarui laporan ini seiring perkembangan dan verifikasi dari sumber resmi kedua negara serta lembaga internasional.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah gencatan senjata AS-Iran sudah batal?
Belum dibatalkan secara resmi, tetapi sangat rapuh per 26 Juni 2026 setelah kedua pihak saling menyerang dan saling menuduh melanggar kesepakatan.
Apa pemicu serangan terbaru AS ke Iran?
AS menuduh Iran melanggar gencatan senjata lewat serangan drone terhadap kapal kargo di Selat Hormuz, lalu menggempur situs rudal, drone, dan radar pantai Iran.
Mengapa Selat Hormuz penting bagi dunia?
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi Selat Hormuz, sehingga gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga energi global.

Sumber

  1. ANTARA News - Selat Hormuz dan gencatan senjata Iran-AS (via Tasnim/Xinhua)
  2. CNBC - U.S. strikes Iran after Trump accuses Tehran of ceasefire violation
  3. TIME - U.S. Carries Out Strikes Against Iran in Strait of Hormuz
  4. Wikipedia - 2026 Strait of Hormuz crisis
#Iran#Amerika Serikat#Selat Hormuz#IRGC

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga