IHSG Tertekan ke 5.789, Rupiah Melemah Imbas Ketegangan Hormuz
Indeks Harga Saham Gabungan ditutup melemah di level 5.789 pada sesi I perdagangan Kamis (11/6), sementara rupiah terkoreksi ke Rp 17.974 per dolar AS di tengah memanasnya situasi Selat Hormuz.

Ringkasan
IHSG yang sempat menyentuh level 5.900-an di awal perdagangan akhirnya ditutup melemah di 5.789 pada sesi I Kamis (11/6/2026). Rupiah juga terkoreksi ke Rp 17.974 per dolar AS. Di sisi komoditas, harga batu bara menembus level tertinggi sejak September 2023 di USD 150 per ton, sementara emas stabil di kisaran USD 4.000 per ons.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Pasar modal Indonesia mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (11/6/2026), dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 5.789 pada akhir sesi I. Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat dan menyentuh level 5.900-an di awal perdagangan. Bersamaan dengan itu, nilai tukar rupiah juga kembali masuk zona koreksi, melemah ke posisi Rp 17.974 per dolar AS.
Sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia, pergerakan negatif di pasar saham dan valuta asing domestik ini terjadi di tengah memanasnya kembali situasi geopolitik di Selat Hormuz. Ketegangan di kawasan strategis jalur minyak dunia tersebut memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan regional, termasuk Indonesia.
Dinamika Pasar Komoditas
Di sisi komoditas, harga batu bara justru menunjukkan penguatan signifikan. Harga batu bara kembali naik dan menembus level tertinggi sejak September 2023, mencapai USD 150 per ton. Kenaikan ini mencerminkan tingginya permintaan energi global serta kekhawatiran pasokan akibat ketegangan geopolitik.
Sementara itu, harga emas relatif stabil di kisaran USD 4.000 per ons. Stabilitas harga logam mulia ini menunjukkan investor masih mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian pasar, meski belum terjadi lonjakan signifikan sebagai respons terhadap ketegangan Hormuz.
Konteks Geopolitik dan Implikasi Pasar
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar sepertiga dari perdagangan minyak dunia melalui laut. Secara umum, ketegangan di kawasan ini kerap memicu volatilitas di pasar energi global dan memberikan tekanan pada pasar keuangan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor energi untuk sebagian kebutuhannya.
Implikasinya, pelemahan IHSG dan rupiah perlu dicermati sebagai respons pasar terhadap risiko geopolitik eksternal. Meski Indonesia merupakan eksportir batu bara dan berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas energi, sentimen negatif dari ketidakpastian global cenderung mendorong investor asing melakukan aksi wait and see atau bahkan penarikan dana dari pasar emerging market.
Outlook Jangka Pendek
Pergerakan IHSG dan rupiah dalam beberapa sesi ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Selat Hormuz serta respons kebijakan dari negara-negara terkait. Pelaku pasar perlu memantau dinamika harga minyak dunia, pernyataan resmi dari pemerintah terkait, serta data ekonomi domestik yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Dari sisi komoditas, kenaikan harga batu bara dapat memberikan dukungan bagi emiten sektor pertambangan di bursa, meski tekanan indeks secara keseluruhan masih dipengaruhi sentimen risiko global. Investor disarankan untuk tetap waspada dan diversifikasi portofolio mengingat volatilitas yang masih tinggi.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa level penutupan IHSG pada sesi I perdagangan 11 Juni 2026?
- IHSG ditutup melemah di level 5.789 pada sesi I perdagangan Kamis (11/6/2026), setelah sempat dibuka menguat dan menyentuh level 5.900-an di awal perdagangan.
- Bagaimana pergerakan rupiah dan harga komoditas pada 11 Juni 2026?
- Rupiah melemah ke posisi Rp 17.974 per dolar AS. Di sisi komoditas, harga batu bara naik ke level tertinggi sejak September 2023 di USD 150 per ton, sementara harga emas stabil di kisaran USD 4.000 per ons.
- Apa penyebab pelemahan IHSG dan rupiah?
- Pelemahan IHSG dan rupiah terjadi di tengah memanasnya kembali situasi geopolitik di Selat Hormuz, yang memberikan sentimen negatif bagi pasar keuangan regional termasuk Indonesia.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Rupiah Menguat 0,61% ke Rp17.865 per Dolar AS, Jauh dari Level Rp18.000
Mata uang Garuda ditutup menguat pada Jumat (12/6/2026) seiring melemahnya dolar AS di pasar global, meski di tengah aksi demonstrasi mahasiswa di Jakarta.
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.865/US$, BI Sebut Respons Positif Pasar
Bank Indonesia mencatat rupiah terapresiasi 0,61% ke posisi Rp 17.865 per dolar AS pada penutupan Jumat (12/6/2026), didorong respons positif pasar terhadap kebijakan moneter termasuk kenaikan BI Rate menjadi 5,50%.
BI Catat Aliran Modal Asing Rp19,02 Triliun dalam Dua Hari
Bank Indonesia mencatat inflows modal asing signifikan pasca kenaikan BI Rate 50 bps, memperkuat posisi rupiah terhadap dolar AS.
Bank Dunia Soroti Dampak Isu MSCI terhadap Pasar Modal Indonesia
Pembekuan saham Indonesia dari indeks MSCI pada Januari 2026 memicu outflow asing USD 600 juta dan melemahkan rupiah, menurut laporan Bank Dunia.
IHSG Tembus 6.000, Dony Oskaria Ajak Jaga Optimisme
Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria menyambut positif penguatan IHSG ke level 6.000, menyebutnya bukti kepercayaan investor pada fundamental ekonomi Indonesia.




