Harga Minyak Dunia Anjlok 4% Usai AS-Iran Sepakat Buka Selat Hormuz
Harga minyak Brent dan WTI turun tajam setelah pengumuman kesepakatan damai AS-Iran yang membuka kembali Selat Hormuz, menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang menopang harga energi selama beberapa pekan terakhir.

Ringkasan
Harga minyak dunia merosot lebih dari 4% pada awal pekan setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan yang membuka Selat Hormuz. Minyak Brent turun ke US$83,92 per barel dan WTI ke US$80,99 per barel, meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan mengubah ekspektasi kebijakan bank sentral dunia.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Harga minyak dunia ambruk pada awal perdagangan pekan ini setelah Amerika Serikat dan Iran dikabarkan mencapai kesepakatan damai yang membuka jalan bagi kembali normalnya lalu lintas energi di Selat Hormuz. Sentimen tersebut langsung menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang selama beberapa pekan terakhir menopang harga minyak di level tinggi.
Berdasarkan data Refinitiv hingga Senin (15/6/2026) pukul 08.00 WIB, harga minyak Brent berada di US$83,92 per barel, merosot 3,91% dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di US$87,33 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dalam, yakni 4,58%, ke posisi US$80,99 per barel dari sebelumnya US$84,88 per barel.
Penurunan ini memperpanjang koreksi tajam yang telah berlangsung sejak awal Juni. Brent yang sempat diperdagangkan di level US$97,81 per barel pada 3 Juni kini telah kehilangan hampir 14% nilainya. WTI bahkan terkoreksi lebih dari 15% dari posisi puncak US$96,02 per barel yang tercatat pada periode yang sama.
Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz
Sebagaimana dilaporkan Reuters, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa kesepakatan telah dicapai antara Washington dan Teheran. Presiden Donald Trump turut menyatakan bahwa kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi urat nadi perdagangan energi global.
Pasar selama ini menjadikan Selat Hormuz sebagai sumber kekhawatiran utama. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut. Ancaman gangguan pasokan dari kawasan Teluk membuat harga energi sempat melonjak tajam sepanjang konflik berlangsung. Ketika risiko itu mulai mereda, investor segera mengurangi posisi spekulatif yang sebelumnya dibangun untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan.
Meski demikian, rincian kesepakatan masih menjadi tanda tanya. Iran menyebut pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz akan dilakukan bersama Oman. Pernyataan ini memunculkan pertanyaan baru mengenai mekanisme pelayaran dan potensi biaya tambahan yang mungkin dikenakan terhadap kapal-kapal yang melintas.
Analis pasar valuta asing ITC Markets Sean Callow menilai minimnya detail terkait kebebasan pelayaran memang masih menyisakan ketidakpastian. Namun, implikasinya, pasar saat ini lebih fokus pada membaiknya selera risiko global dan peluang turunnya harga energi dalam jangka menengah.
Dampak terhadap Kebijakan Bank Sentral
Penurunan harga minyak segera mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan bank sentral dunia. Selama beberapa bulan terakhir, lonjakan energi menjadi salah satu faktor yang dikhawatirkan dapat memicu tekanan inflasi baru. Ketika harga minyak turun tajam, ancaman tersebut ikut mereda.
Dampaknya terlihat pada pasar obligasi Amerika Serikat. Imbal hasil obligasi pemerintah tenor dua tahun turun menjadi 4,02%, sementara pelaku pasar mengurangi taruhan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan tahun ini. Bank sentral utama dunia, mulai dari Federal Reserve, Bank of England, Bank of Japan hingga Reserve Bank of Australia dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada pekan ini.
Respons Pasar Asia
Bagi negara-negara pengimpor energi, koreksi harga minyak menjadi kabar baik. Jepang yang sangat bergantung pada impor energi mencatat reli pasar saham hingga 3%, sedangkan indeks saham Korea Selatan melonjak lebih dari 4%. Investor memandang biaya energi yang lebih rendah berpotensi memperbaiki prospek pertumbuhan ekonomi sekaligus meredakan tekanan harga.
Meski harga minyak anjlok, level saat ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum konflik pecah. WTI masih berada di kisaran US$81 per barel, lebih tinggi dari sekitar US$67 per barel sebelum perang dimulai. Artinya, sebagian premi risiko geopolitik masih tersisa di pasar.
Proyeksi Harga ke Depan
Commonwealth Bank of Australia (CBA) memperkirakan Brent dapat turun menuju US$80 per barel pada akhir tahun apabila Selat Hormuz tetap terbuka dan ekspor minyak dari kawasan Teluk kembali berjalan normal. Namun, proyeksi tersebut tetap dibayangi ketidakpastian terkait kondisi fasilitas produksi dan kilang yang terdampak konflik sebelumnya.
Perlu dicermati, jika beberapa pekan lalu perhatian tertuju pada ancaman gangguan pasokan, pekan ini investor mulai menghitung seberapa cepat aliran minyak global dapat kembali normal. Selama tidak ada kejutan baru dari kawasan Timur Tengah, tekanan turun terhadap harga minyak masih berpotensi berlanjut.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Mengapa harga minyak dunia turun tajam pada 15 Juni 2026?
- Harga minyak turun lebih dari 4% setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan damai yang membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan ini menghapus sebagian premi risiko geopolitik yang selama ini menopang harga minyak di level tinggi, karena Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran untuk sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
- Berapa harga minyak Brent dan WTI setelah pengumuman kesepakatan AS-Iran?
- Harga minyak Brent turun 3,91% menjadi US$83,92 per barel dari US$87,33 per barel. Minyak WTI turun lebih dalam, yakni 4,58%, menjadi US$80,99 per barel dari US$84,88 per barel. Sejak puncaknya awal Juni, Brent telah turun hampir 14% dan WTI lebih dari 15%.
- Bagaimana dampak penurunan harga minyak terhadap kebijakan bank sentral?
- Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran tekanan inflasi baru, sehingga mengubah ekspektasi investor terhadap kebijakan bank sentral. Imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun turun ke 4,02%, dan pelaku pasar mengurangi taruhan kenaikan suku bunga. Bank sentral utama seperti Federal Reserve, Bank of England, dan Bank of Japan dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pekan ini.
- Apa proyeksi harga minyak ke depan menurut analis?
- Commonwealth Bank of Australia memperkirakan harga minyak Brent dapat turun menuju US$80 per barel pada akhir tahun jika Selat Hormuz tetap terbuka dan ekspor minyak dari kawasan Teluk kembali normal. Namun proyeksi ini masih dibayangi ketidakpastian terkait kondisi fasilitas produksi yang terdampak konflik sebelumnya.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
BEI Suspensi Perdagangan Saham FORU Akibat Kenaikan Harga Signifikan
Bursa Efek Indonesia menghentikan sementara perdagangan saham PT Fortune Indonesia Tbk mulai 15 Juni 2026 sebagai bentuk perlindungan investor menyusul lonjakan harga kumulatif yang dinilai tidak wajar.
Bagaimana BUMN Menyumbang Rp600-700 Triliun ke Kas Negara Setiap Tahun?
Dividen, pajak, dan PNBP dari perusahaan pelat merah menjadi salah satu pilar utama pendapatan negara dalam APBN.
Danantara Pastikan Tak Ada PHK dalam Perampingan 1.077 BUMN
BPI Danantara menegaskan tidak akan ada PHK massal meski jumlah entitas BUMN dipangkas dari 1.077 menjadi sekitar 254 perusahaan. Langkah ini ditargetkan menghemat Rp50 triliun per tahun.
Panduan Alokasi Reksadana Defensif Saat Pasar Bergejolak
Memahami karakteristik reksadana pasar uang, pendapatan tetap, dan terproteksi sebagai strategi mitigasi risiko di tengah volatilitas pasar.
Standard Chartered Pangkas 7.000 Karyawan, AI Jadi Pengganti
Bank raksasa berbasis London ini akan memangkas 15% posisi korporat hingga 2030 seiring masifnya penggunaan kecerdasan buatan untuk efisiensi operasional.




