Lompat ke konten utama
sorotutama

Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Acuan ke 1%, Tertinggi 31 Tahun

Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% dari 0,75%, level tertinggi sejak 1995, sebagai langkah normalisasi kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi akibat konflik Timur Tengah.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
Bank of Japan Naikkan Suku Bunga Acuan ke 1%, Tertinggi 31 Tahun
Foto: Jimmy Liao via Pexels

Ringkasan

Bank of Japan (BoJ) memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% pada 16 Juni 2026, tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Keputusan ini merupakan langkah normalisasi moneter untuk menjinakkan tekanan inflasi dari guncangan energi akibat konflik AS-Iran, dengan pasar merespons positif.

Daftar isi▶ buka

Bank of Japan (BoJ) memutuskan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% dari sebelumnya 0,75% pada Selasa (16/6/2026), menandai level tertinggi dalam 31 tahun terakhir. Kenaikan ini membawa biaya pinjaman ke tingkat yang tidak terlihat sejak 1995, sebagai langkah penting dalam normalisasi kebijakan moneter di tengah tekanan inflasi.

Sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia, kenaikan ini menjadi yang pertama di tahun 2026, setelah kenaikan terakhir pada Desember 2025. Keputusan ini menyelaraskan BoJ dengan bank sentral lainnya seperti European Central Bank (ECB) yang mulai beralih ke kebijakan suku bunga ketat untuk memerangi inflasi.

Respons terhadap Konflik Timur Tengah

Dalam pernyataan resminya, BoJ mengatakan risiko ekonomi Jepang memburuk tajam akibat konflik Timur Tengah. Namun dampaknya telah berkurang berkat langkah pemerintah untuk mengekang beban rumah tangga dari biaya bahan bakar tinggi dan kemajuan dalam pengadaan pasokan energi alternatif.

BoJ menyoroti prospek harga yang patut diperhatikan karena perusahaan terlihat meneruskan kenaikan biaya minyak satu sama lain dengan kecepatan yang relatif cepat, yang dapat mendorong harga konsumen di berbagai barang. "Mempertimbangkan bahwa ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang juga terus meningkat, ada risiko inflasi yang mendasarinya menyimpang di atas target harga kami," kata BoJ dalam pernyataannya.

Keputusan dan Dinamika Internal

Keputusan kenaikan suku bunga dibuat dengan suara 7-1. Gubernur BoJ Kazuo Ueda melewatkan pertemuan dan tidak memberikan suara karena sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat terinfeksi kista hati. Toichiro Asada, yang bergabung dengan dewan pada April lalu sebagai anggota pertama yang dipilih sendiri oleh Perdana Menteri Sanae Takaichi, tidak setuju dengan pandangan risiko penurunan terhadap pertumbuhan dari konflik Timur Tengah lebih besar daripada risiko inflasi.

Hirofumi Suzuki, kepala strategi FX di SMBC, menilai tidak adanya usulan kenaikan suku bunga 50 basis poin sebagai sinyal positif untuk harga aset berisiko. "Ini menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga yang tajam kemungkinan akan dihindari," ujarnya. Suzuki memproyeksikan BoJ kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga secara bertahap sekitar setiap enam bulan sekali hingga satu tahun.

Respons Pasar

Pasar merespons positif keputusan BoJ. Indeks Nikkei 225 melonjak 1% dan mencetak rekor tertinggi baru. Yen terhadap dolar AS naik 0,1% menjadi 160,215 per dolar AS, sementara imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 2,61%.

Selain menaikkan suku bunga acuan, BoJ juga memutuskan untuk menghentikan program pengurangan obligasinya mulai April 2027 dan terus membeli sekitar 2 triliun yen dalam obligasi pemerintah Jepang per bulan.

Proyeksi dan Konteks Kebijakan

Perhatian pasar tertuju pada petunjuk yang akan disampaikan Wakil Gubernur BoJ Shinichi Uchida pada konferensi pers atas nama Ueda mengenai kecepatan dan waktu kenaikan suku bunga di masa depan. Masato Koike, ekonom senior di Sompo Institute Plus, mengharapkan pesan hawkish namun menilai BoJ tampaknya berniat menghindari komitmen yang kuat.

Konflik Timur Tengah telah mempengaruhi jalur kebijakan BoJ dengan menambahkan tekanan inflasi melalui biaya minyak yang lebih tinggi, sambil merugikan ekonomi yang sangat bergantung pada bahan bakar impor. Sementara kesepakatan damai antara AS dan Iran meredakan kekhawatiran pasar atas tekanan inflasi global.

Analis memperkirakan inflasi konsumen inti akan meningkat kembali di atas target 2% BoJ pada akhir tahun ini, setelah tergelincir di bawah level subsidi pemerintah yang ditujukan untuk mengekang tagihan utilitas. Sebuah survei Reuters menunjukkan para ekonom memproyeksikan BoJ akan kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1,25% pada kuartal IV-2026.

Implikasinya, kebijakan normalisasi moneter BoJ ini perlu dicermati karena dapat mempengaruhi dinamika pasar keuangan global, termasuk aliran modal dan nilai tukar mata uang di kawasan Asia. Secara umum di sektor kebijakan moneter global, langkah BoJ ini menandai pergeseran dari era suku bunga ultra-rendah yang telah berlangsung puluhan tahun di Jepang.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa suku bunga acuan Bank of Japan saat ini?
Bank of Japan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1% dari sebelumnya 0,75% pada 16 Juni 2026. Ini merupakan level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, tidak terlihat sejak 1995.
Mengapa Bank of Japan menaikkan suku bunga?
BoJ menaikkan suku bunga sebagai langkah normalisasi kebijakan moneter untuk menjinakkan tekanan inflasi yang disebabkan oleh guncangan energi akibat konflik AS-Iran di Timur Tengah. BoJ khawatir ekspektasi inflasi jangka menengah dan panjang terus meningkat, dengan risiko inflasi menyimpang di atas target 2%.
Bagaimana respons pasar terhadap keputusan Bank of Japan?
Pasar merespons positif dengan indeks Nikkei 225 melonjak 1% dan mencetak rekor tertinggi baru. Yen terhadap dolar AS naik 0,1% menjadi 160,215 per dolar AS, sementara imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun naik 3,5 basis poin menjadi 2,61%.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Bank of Japan#Suku Bunga#Inflasi#Yen

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga