Lompat ke konten utama
sorotutama

BI Bidik India, Korsel, UEA, dan Arab Saudi untuk Transaksi Tanpa Dolar

Bank Indonesia menargetkan perluasan kerja sama Local Currency Settlement (LCT) ke India, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi, menyusul kesuksesan transaksi tanpa dolar AS dengan China dan Hong Kong.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
BI Bidik India, Korsel, UEA, dan Arab Saudi untuk Transaksi Tanpa Dolar
Foto: Miguel Cuenca via Pexels

Ringkasan

Bank Indonesia memperluas skema transaksi mata uang lokal (LCT) ke empat negara baru setelah kesuksesan dengan China. Transaksi rupiah-renminbi Januari-Mei 2026 mencapai US$22 miliar, memicu minat India, Korea Selatan, UEA, dan Arab Saudi untuk bergabung dalam skema diversifikasi mata uang.

Daftar isi▶ buka

Bank Indonesia (BI) menargetkan perluasan kerja sama transaksi mata uang lokal atau Local Currency Settlement (LCT) ke sejumlah negara baru, termasuk India, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi. Langkah ini menyusul kesuksesan skema LCT antara Indonesia dengan China dan Hong Kong yang memicu minat luas dari mitra dagang lainnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan reaksi terhadap penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan bank sentral China (People's Bank of China/PBoC) dan bank sentral Hong Kong (Hong Kong Monetary Authority/HKMA) sangat positif. Sejumlah negara mitra dagang Indonesia menunjukkan ketertarikan untuk segera merealisasikan kerja sama serupa.

"Reaksi terhadap LCT itu luar biasa. Kemarin setelah kita tekan MoU dengan PBoC dan HKMA, itu benar-benar hal yang mungkin dari beberapa negara kawasan itu juga surprise dalam artinya, oh ini berarti ada suatu kesepakatan yang besar gitu kan, sehingga ini akhirnya mendorong beberapa negara yang memang juga mereka trading partner kita," kata Destry dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia, sebagaimana dikutip Rabu (24/6/2026).

India dan Korea Selatan dalam Tahap Pembahasan

India menjadi salah satu negara yang paling cepat menunjukkan minat untuk bergabung dalam skema LCT. Saat ini, pembahasan antara BI dan otoritas India sedang berlangsung menuju tahap penandatanganan kerja sama. Destry menjelaskan bahwa proses penyusunan MoU memerlukan waktu karena masing-masing negara memiliki aturan dan pertimbangan implementasi yang berbeda.

Selain India, Korea Selatan juga masuk dalam daftar negara yang sudah mulai membahas kerja sama LCT dengan Indonesia. Destry menyebutkan bahwa proses dengan Korea Selatan terus didorong untuk segera terealisasi, bersama dengan UEA dan Arab Saudi yang juga sedang dalam tahap pembahasan.

"Keberhasilan kita dengan PBoC dan HKMA, ini akhirnya men-trigger beberapa negara lainnya untuk segera merealisasikan kerjasama dengan kita. Jadi ada India, kemudian juga yang dalam pipeline kita kan yang sudah mulai sebenarnya Korea Selatan, tapi ini yang kita juga terus kita dorong juga, kemudian juga Uni Emirat Arab, juga sebenarnya kita juga lagi mau usahakan yang di Arab Saudi, itu juga in the process gitu, jadi kita makin memperluas lah gitu," jelasnya.

Transaksi Rupiah-Renminbi Capai US$22 Miliar

Kesuksesan skema LCT dengan China terlihat dari nilai transaksi yang dicapai. Destry mengungkapkan bahwa pada Mei 2026, nilai LCT antara Indonesia dengan China mencapai US$9 miliar atau sekitar Rp160,52 triliun (dengan asumsi kurs Rp17.835 per dolar AS). Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Mei 2026, total transaksi sudah mencapai US$22 miliar atau sekitar Rp392,37 triliun.

Angka-angka ini menunjukkan momentum yang kuat dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan dan investasi antara kedua negara, mengurangi ketergantungan pada dolar AS sebagai mata uang perantara.

Strategi Diversifikasi Mata Uang

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa penyelesaian perdagangan dan investasi langsung menggunakan rupiah dan renminbi mengurangi kebutuhan dolar AS untuk berbagai transaksi. Strategi diversifikasi ini akan terus diperkuat dengan mendorong perbankan dan pengusaha dalam negeri serta mitra di negara tujuan untuk semakin banyak menggunakan mata uang lokal.

"Kita sebut diversifikasi dan akan terus diperkuat. Untuk kedua terus mendorong perbankan dan pengusaha dalam negeri begitu juga Tiongkok agar semakin banyak menggunakan rupiah-renmimbi dan ini sejalan internasionalisasi renminbi," kata Perry dalam paparan hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis (18/6/2026).

Perluasan skema LCT ke lebih banyak negara mitra dagang diharapkan dapat memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, mengurangi risiko fluktuasi mata uang asing, serta meningkatkan efisiensi biaya transaksi perdagangan internasional. Implikasinya, kebijakan ini berpotensi memperkuat posisi rupiah dalam sistem keuangan regional dan mengurangi eksposur Indonesia terhadap volatilitas dolar AS.

Dengan semakin banyaknya negara yang tertarik bergabung dalam skema LCT, BI optimistis bahwa diversifikasi mata uang dalam transaksi internasional akan menjadi tren yang semakin menguat di kawasan Asia dan Timur Tengah. Keberhasilan implementasi dengan China dan Hong Kong menjadi bukti konsep yang menarik minat negara-negara lain untuk mengikuti jejak serupa.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu Local Currency Settlement (LCT) yang diterapkan Bank Indonesia?
Local Currency Settlement (LCT) adalah skema transaksi perdagangan dan investasi antarnegara menggunakan mata uang lokal masing-masing, tanpa menggunakan dolar AS sebagai perantara. BI telah menerapkan LCT dengan China menggunakan rupiah dan renminbi, yang pada Januari-Mei 2026 mencapai nilai US$22 miliar.
Negara mana saja yang ditargetkan BI untuk kerja sama LCT selanjutnya?
Bank Indonesia menargetkan empat negara untuk perluasan LCT: India (sedang dalam tahap pembahasan menuju penandatanganan), Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Semua negara ini sedang dalam proses pembahasan kerja sama setelah melihat kesuksesan LCT Indonesia dengan China dan Hong Kong.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Bank Indonesia#Rupiah#Perdagangan Internasional#Diversifikasi Mata Uang

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga