SRBI Serap Rp105 Triliun Dana Asing, Strategi BI Rate Berbuah Hasil
Bank Indonesia mencatat inflow dana asing mencapai Rp103-105 triliun melalui SRBI hingga Juni 2026, setelah menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

Ringkasan
Kebijakan Bank Indonesia menaikkan suku bunga mulai membuahkan hasil dengan masuknya dana asing Rp103-105 triliun ke instrumen SRBI per Juni 2026. Langkah ini diambil untuk menarik investor asing dan menjaga stabilitas rupiah di tengah fenomena fly to quality akibat ketegangan geopolitik global.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Bank Indonesia (BI) mencatat keberhasilan menarik aliran modal asing ke Indonesia melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Hingga Juni 2026, dana asing yang masuk ke SRBI mencapai Rp103-105 triliun, menandai efektivitas kebijakan suku bunga yang telah diterapkan.
"Sampai Juni ini, kita sudah melihat inflow masuk, apakah itu di SBN sudah mulai masuk per Juni ini net inflownya. Kemudian di SRBI sendiri, yaitu sertifikat Rupiah Bank Indonesia yang kami issue itu, itu sudah di atas 103 triliun masuk, sekitar Rp103-105 triliun itu di posisi bulan Juni," ungkap Deputi Gubernur Senior BI, Destry, kepada CNBC Indonesia, Rabu (23/6/2026).
Respons terhadap Tekanan Global
Capaian ini terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang penuh tantangan. Investor dunia cenderung memilih instrumen yang lebih aman seperti dolar Amerika Serikat, fenomena yang dikenal sebagai fly to quality, akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menyebabkan harga minyak mentah dunia melonjak hingga tembus US$100 per barel.
"Kita menghadapi situasi di mana fly to quality itu akan terjadi ke US dollar capital outflow juga akan terjadi dan itu sudah kita alami," jelas Destry. Situasi ini mendorong penguatan dolar AS yang tercermin dari indeks DXY yang menembus level di atas 100, sementara mata uang berbagai negara termasuk rupiah mengalami tekanan.
Strategi Suku Bunga untuk Stabilitas Rupiah
Merespons kondisi tersebut, BI menaikkan suku bunga untuk memberikan yield yang menarik bagi investor asing. "Kebijakan yang kami lakukan dengan menaikkan suku bunga itu sebenarnya adalah satu memang itu untuk arah kita adalah bagaimana menjaga stabilitas dari rupiah dalam hal ini adalah nilai tukar rupiah," ujar Destry.
Berdasarkan data BI per 17 Juni 2026, bunga SRBI untuk tenor 6 bulan berada di kisaran 7,12%-8,00%, tenor 9 bulan sebesar 7,33%-8,10%, dan tenor 12 bulan sebesar 7,39%-8,25%. Tingkat suku bunga yang kompetitif ini dirancang untuk meningkatkan daya tarik instrumen rupiah di mata investor asing.
BI berharap dengan suku bunga yang meningkat, investor asing akan melihat return yang lebih baik meskipun persepsi risiko (risk premium) di negara berkembang meningkat. "Oleh karena itu, mereka kalau mau investasi di negara tersebut, mereka pasti akan minta earnings yang lebih baik, return yang lebih baik. Ini kita cerminkan di suku bunga yang meningkat, sehingga kita berharap inflow itu akan masuk," tambah Destry.
Implikasi bagi Stabilitas Ekonomi
Masuknya dana asing dalam jumlah signifikan ini menunjukkan bahwa strategi kebijakan moneter BI mulai berhasil menarik kembali kepercayaan investor di tengah volatilitas pasar global. Secara umum, aliran modal masuk ke instrumen domestik seperti SRBI dan SBN dapat membantu menstabilkan nilai tukar rupiah dan memberikan likuiditas yang diperlukan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perlu dicermati bahwa kebijakan suku bunga yang lebih tinggi juga membawa konsekuensi bagi sektor riil, termasuk potensi kenaikan biaya kredit bagi pelaku usaha. Namun, dalam konteks saat ini, BI tampaknya memprioritaskan stabilitas nilai tukar sebagai fondasi untuk menjaga kepercayaan investor dan mencegah tekanan inflasi yang lebih besar akibat pelemahan rupiah.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa dana asing yang masuk ke SRBI hingga Juni 2026?
- Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry, dana asing yang masuk ke SRBI mencapai Rp103-105 triliun hingga posisi Juni 2026. Selain itu, SBN juga mulai mencatat net inflow pada periode yang sama.
- Mengapa Bank Indonesia menaikkan suku bunga?
- Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan meningkatkan daya tarik instrumen rupiah bagi investor asing. Kebijakan ini merespons fenomena fly to quality di mana investor global cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan geopolitik.
- Berapa tingkat bunga SRBI saat ini?
- Per 17 Juni 2026, bunga SRBI untuk tenor 6 bulan berkisar 7,12% hingga 8,00%, tenor 9 bulan sebesar 7,33% hingga 8,10%, dan tenor 12 bulan sebesar 7,39% hingga 8,25%. Tingkat bunga ini dirancang untuk memberikan return yang menarik bagi investor asing.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Transaksi LCT Indonesia-China Tembus Rp161,5 T pada Mei 2026
Bank Indonesia mencatat transaksi perdagangan Indonesia-China menggunakan mata uang lokal mencapai USD 9 miliar pada Mei 2026, menandai akselerasi pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS.
BEI Pantau Ketat Saham MSJA karena Pergerakan Harga Tak Wajar
Bursa Efek Indonesia mengumumkan pengawasan Unusual Market Activity (UMA) atas saham PT Multi Spunindo Jaya Tbk mulai Selasa, 24 Juni 2026, menyusul kenaikan harga yang tidak wajar.
Bank Indonesia Naikkan BI Rate 100 Bps, Destry Ungkap Alasannya
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menjelaskan kenaikan BI Rate 100 Bps sejak Mei 2026 menjadi 5,75% sebagai langkah prioritas menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah tekanan global dan ketidakpastian geopolitik.
Panda Bond Dipastikan Perkuat Rupiah, Purbaya Akui Ada Pihak Tak Suka
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan penerbitan Panda Bond berdenominasi yuan China akan memperkuat nilai tukar rupiah melalui skema Local Currency Transaction tanpa konversi ke dolar AS.
BI Rate Naik 5,75%, Purbaya Ungkap Strategi Kejar Pertumbuhan 6%
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjamin pemerintah akan menjaga likuiditas perekonomian dan memanfaatkan Pusat Investasi Pemerintah untuk pembiayaan UMKM guna mengejar target pertumbuhan ekonomi 6% di 2026 meski BI Rate terus naik.




