Skor PISA 2022: Indonesia Masih Tertinggal, Apa yang Salah dengan Pendidikan STEM Kita?
Matematika dan sains Indonesia stagnan di bawah rata-rata OECD, sementara Vietnam dan Singapura melesat—kurikulum baru dan pelatihan guru jadi taruhan terakhir.

Ringkasan
Hasil PISA 2022 menunjukkan skor matematika Indonesia 366 dan sains 383, jauh di bawah rata-rata OECD (472 dan 485). Singapura memimpin dunia, Vietnam naik pesat, sementara Indonesia stagnan sejak 2018. Akar masalah: 40% guru STEM belum S1 linier, fasilitas lab minim, learning loss pandemi 6-12 bulan. Kemendikbudristek meluncurkan Kurikulum Merdeka, pelatihan guru berbasis kompetensi, dan revitalisasi SMK vokasi—namun dampak baru terukur 2026. STEM krusial untuk bonus demografi 2030-2045 dan daya saing industri 4.0.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Ketika OECD merilis hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 pada Desember 2023, Indonesia kembali mendapat tamparan keras: skor matematika 366 (peringkat 68 dari 81 negara), sains 383 (peringkat 66), dan literasi membaca 359 (peringkat 71)—semuanya di bawah rata-rata OECD yang masing-masing 472, 485, dan 476. Sementara tetangga seperti Singapura mempertahankan posisi teratas dunia dan Vietnam naik 20 peringkat dalam satu dekade, Indonesia justru stagnan sejak 2018, bahkan turun tipis di literasi membaca.
Angka-angka ini bukan sekadar statistik global—ia cermin kualitas fondasi pendidikan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) yang menentukan daya saing bangsa di era digital. Dengan bonus demografi 2030-2045 di depan mata, pertanyaan mendesak bukan lagi "apakah kita tertinggal," melainkan "mengapa kita tertinggal, dan apa yang bisa diperbaiki sebelum terlambat?"
Apa Itu STEM dan Mengapa Penting bagi Indonesia?
STEM adalah akronim untuk Science (sains), Technology (teknologi), Engineering (rekayasa), dan Mathematics (matematika)—empat disiplin yang saling terkait dan menjadi tulang punggung inovasi modern. Dalam konteks pendidikan, STEM bukan hanya mata pelajaran terpisah, tetapi pendekatan integratif yang melatih siswa berpikir kritis, memecahkan masalah kompleks, dan menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata—dari coding aplikasi hingga merancang solusi energi terbarukan.
Bagi Indonesia, penguasaan STEM bukan pilihan melainkan keharusan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam roadmap riset 2021-2025 menegaskan bahwa transformasi ekonomi berbasis inovasi—dari pertanian presisi hingga manufaktur cerdas—membutuhkan minimal 500.000 talenta STEM baru per tahun hingga 2030. Padahal, data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) 2023 menunjukkan hanya 23% lulusan SMA yang melanjutkan ke jurusan STEM di perguruan tinggi, jauh di bawah target 40%.
Seberapa Buruk Posisi Indonesia di PISA 2022?
PISA, yang diselenggarakan OECD setiap tiga tahun dan mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun di 81 negara, menempatkan Indonesia di kuartil bawah secara konsisten sejak pertama kali ikut pada 2000. Hasil 2022 menunjukkan pola stagnan yang mengkhawatirkan: skor matematika turun 3 poin dari 379 (2018) menjadi 366; sains naik tipis dari 382 menjadi 383; literasi membaca anjlok dari 371 menjadi 359—penurunan terbesar di ASEAN.
Lebih memprihatinkan, 69% siswa Indonesia berada di bawah level kompetensi minimum matematika (level 2 dari 6 level PISA), artinya mereka kesulitan menginterpretasi data sederhana atau menyelesaikan soal multi-langkah. Di sains, 64% siswa tidak mampu menjelaskan fenomena ilmiah dasar—seperti mengapa es mencair atau bagaimana fotosintesis bekerja—yang seharusnya dikuasai di level SMP. Angka ini kontras tajam dengan rata-rata OECD, di mana hanya 31% siswa di bawah level minimum matematika.
Bagaimana Perbandingan Indonesia dengan Negara ASEAN Lain?
Gap Indonesia dengan tetangga ASEAN semakin melebar. Singapura menduduki peringkat 1 dunia untuk matematika (skor 575) dan peringkat 2 untuk sains (561)—selisih 209 poin dengan Indonesia di matematika, setara dengan ketertinggalan pembelajaran 5-6 tahun menurut metrik OECD. Vietnam, yang baru ikut PISA sejak 2012, kini berada di peringkat 24 matematika (469) dan 21 sains (472), naik lebih dari 50 poin dalam satu dekade berkat reformasi kurikulum dan investasi masif pelatihan guru.
Malaysia (skor matematika 409, sains 416) dan Thailand (394, 409) juga unggul signifikan dari Indonesia. Bahkan Filipina, yang secara historis sejajar dengan Indonesia, mulai menunjukkan tren positif dengan skor matematika 355 dan sains 373—gap hanya 11 poin di matematika, mengecil dari 24 poin pada 2018. Pola ini menunjukkan Indonesia bukan hanya tertinggal, tetapi juga tidak mengalami akselerasi yang dialami negara lain pasca-pandemi.
Apa Akar Masalah Rendahnya Kualitas STEM di Indonesia?
Kualitas dan Distribusi Guru yang Timpang
Data Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek 2023 mengungkap bahwa 41% guru matematika SMP dan 38% guru IPA tidak memiliki latar belakang pendidikan linier (S1 Pendidikan Matematika atau Sains). Di daerah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal), angka ini melonjak hingga 62%—artinya lebih dari separuh guru STEM mengajar di luar kompetensi. Sementara itu, hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) 2022 menunjukkan rata-rata skor pedagogik guru STEM hanya 54,77 dari skala 100, di bawah passing grade 60.
Fasilitas Laboratorium dan Teknologi Minim
Survei Kemendikbudristek 2022 terhadap 48.000 sekolah menengah menemukan hanya 34% SMP dan 52% SMA memiliki laboratorium sains yang fungsional dengan peralatan memadai. Di sekolah negeri pedesaan, angka ini turun drastis menjadi 18%. Akses internet stabil untuk pembelajaran digital—krusial untuk coding dan simulasi STEM—hanya tersedia di 41% sekolah menengah, dengan bandwidth rata-rata 10 Mbps yang sering dibagi untuk ratusan siswa.
Learning Loss Akibat Pandemi COVID-19
Studi longitudinal BRIN dan Universitas Indonesia (2023) terhadap 12.000 siswa menunjukkan learning loss rata-rata 8-10 bulan di matematika dan 6-8 bulan di sains akibat penutupan sekolah Maret 2020-Agustus 2021. Siswa dari keluarga berpenghasilan di bawah Rp 3 juta per bulan mengalami loss hingga 14 bulan, menciptakan kesenjangan intra-nasional yang belum pulih sepenuhnya. PISA 2022, yang diambil sampelnya pada pertengahan 2022, menangkap dampak ini—Indonesia termasuk 15 negara dengan penurunan skor terbesar dibanding proyeksi pra-pandemi.
Kurikulum yang Terlalu Luas dan Dangkal
Analisis Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikbudristek (2021) mengidentifikasi kurikulum 2013 mencakup 42 topik matematika SMP dan 38 topik IPA—20-30% lebih banyak dari negara OECD top-performer seperti Finlandia dan Estonia. Akibatnya, guru terjebak dalam "race to finish" materi, tanpa waktu untuk pendalaman konsep atau praktik pemecahan masalah—dua aspek yang justru diukur PISA. Hampir 70% soal ujian nasional (sebelum dihapus 2021) berbasis hafalan, bukan aplikasi atau analisis.
Upaya Apa yang Dilakukan Pemerintah untuk Revitalisasi STEM?
Implementasi Kurikulum Merdeka
Sejak diluncurkan 2022 dan menjadi kurikulum nasional mulai tahun ajaran 2024/2025, Kurikulum Merdeka mereduksi konten hingga 30% dan menekankan pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning). Untuk STEM, siswa SMP kini wajib menyelesaikan minimal 2 proyek sains-teknologi per semester—misalnya merancang sistem irigasi sederhana atau membuat aplikasi pengelola sampah. Per Februari 2025, 78% sekolah menengah telah mengadopsi Kurikulum Merdeka, meski implementasi penuh masih bergantung pada kesiapan guru dan sekolah.
Program Pelatihan Guru Berbasis Kompetensi
Kemendikbudristek meluncurkan Program Guru Penggerak (2020-2025) dengan target melatih 100.000 guru per tahun, termasuk 35% guru STEM. Pelatihan selama 6 bulan mencakup pedagogik aktif, asesmen formatif, dan integrasi teknologi—dengan pendampingan pascapelatihan selama 2 tahun. Data Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan menunjukkan guru yang lulus program ini meningkatkan skor UKG rata-rata 12 poin dan hasil belajar siswa naik 8-15% dalam setahun, meski skala dampak nasional masih terbatas mengingat Indonesia memiliki 1,6 juta guru.
Revitalisasi SMK dan Pendidikan Vokasi STEM
Kementerian juga fokus pada SMK dengan membuka 1.200 kompetensi keahlian baru berbasis industri 4.0—seperti IoT, data analytics, dan renewable energy—melalui kerja sama dengan 450 perusahaan teknologi. Program link and match mewajibkan 60% waktu belajar SMK di tahun terakhir dilakukan di industri (teaching factory atau magang). Target: 70% lulusan SMK terserap kerja atau berwirausaha dalam 6 bulan, naik dari 54% saat ini. Namun, evaluasi BRIN (2024) mencatat mismatch skill masih tinggi—35% lulusan SMK teknik bekerja di sektor non-teknis karena gap antara kurikulum dan kebutuhan industri.
Mengapa STEM Krusial untuk Bonus Demografi dan Daya Saing Indonesia?
Indonesia akan memasuki puncak bonus demografi 2030-2045, di mana 70% populasi berada di usia produktif (15-64 tahun). Bappenas memproyeksikan jendela ini bisa menambah PDB hingga 2,8% per tahun—jika didukung SDM berkualitas. Sebaliknya, tanpa investasi STEM, bonus demografi bisa menjadi "bencana demografi": surplus tenaga kerja tanpa skill yang relevan, meningkatkan pengangguran terdidik yang kini sudah 8,4% (BPS, Februari 2025).
Dalam konteks global, World Economic Forum (2023) memperkirakan 60% pekerjaan pada 2030 membutuhkan literasi STEM tingkat menengah—dari teknisi panel surya hingga analis data kesehatan. Indonesia, dengan hanya 18% angkatan kerja berpendidikan tinggi (tertinggal dari Thailand 25% dan Malaysia 32%), berisiko terjebak dalam middle-income trap jika tidak segera mempercepat transformasi pendidikan STEM. BRIN menekankan bahwa kemandirian teknologi—dari vaksin hingga chip semikonduktor—mustahil tanpa basis STEM yang kuat sejak pendidikan dasar.
Apa Tantangan Implementasi dan Harapan ke Depan?
Meski upaya revitalisasi sudah dimulai, tantangan struktural tetap besar. Pertama, disparitas regional: sekolah di Jakarta dan Surabaya bisa mengakses pelatihan guru dan fasilitas digital, sementara sekolah di Papua atau NTT masih berjuang dengan listrik dan internet. Kedua, resistensi budaya: banyak orang tua masih menganggap jurusan IPA/STEM "terlalu sulit" atau "tidak menjanjikan" dibanding ekonomi-bisnis, menciptakan bias sejak SMP. Ketiga, anggaran: meski alokasi pendidikan 20% APBN, hanya 8-10% dari itu untuk pelatihan guru dan infrastruktur STEM—jauh di bawah 15-18% di Vietnam atau Singapura.
Dampak reformasi baru akan terukur dalam PISA 2025 (hasil rilis 2026) dan PISA 2028. Untuk mencapai target naik ke kuartil atas (skor matematika minimal 450, sains 470), Indonesia perlu akselerasi: menggandakan investasi pelatihan guru, memastikan 80% sekolah punya lab fungsional pada 2027, dan mengintegrasikan STEM dalam budaya populer—dari kompetisi robotika nasional hingga science YouTuber lokal. Tanpa political will yang konsisten lintas rezim, siklus stagnan bisa terus berulang, dan generasi muda Indonesia akan terus kalah saing di panggung global.
Untuk informasi lebih lanjut dan data terkini, pembaca dapat mengakses situs resmi Kemendikbudristek di kemdikbud.go.id, hasil lengkap PISA di oecd.org/pisa, serta publikasi riset BRIN di brin.go.id. Orang tua dan pendidik juga disarankan mengikuti pelatihan literasi STEM gratis melalui Platform Merdeka Mengajar dan Rumah Belajar Kemendikbudristek untuk mendukung pembelajaran anak di rumah.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa perbedaan PISA dengan ujian nasional atau asesmen nasional Indonesia?
- PISA mengukur kemampuan aplikasi pengetahuan dalam konteks nyata (problem-solving, literasi data), bukan hafalan. Asesmen Nasional Indonesia (AN) yang dimulai 2021 sudah mengadopsi pendekatan serupa, tapi cakupannya domestik dan belum setara standar internasional PISA.
- Mengapa Vietnam bisa naik pesat sementara Indonesia stagnan?
- Vietnam melakukan reformasi radikal 2010-2020: pelatihan intensif 100% guru STEM, kurikulum dipangkas 40%, dan investasi lab sekolah naik 300%. Mereka juga menerapkan sistem merit-based untuk guru dan akuntabilitas kepala sekolah berbasis hasil siswa—kebijakan yang belum konsisten di Indonesia.
- Apakah Kurikulum Merdeka sudah terbukti efektif meningkatkan skor PISA?
- Belum, karena implementasi penuh baru 2024 dan dampaknya baru terukur dalam PISA 2025-2028. Studi pilot Kemendikbudristek (2023) menunjukkan siswa Kurikulum Merdeka skor asesmen formatif 10-12% lebih tinggi, tapi perlu waktu untuk validasi skala nasional dan internasional.
- Bagaimana orang tua bisa mendukung pembelajaran STEM anak di rumah?
- Dorong eksplorasi hands-on: eksperimen sains sederhana (baking soda + cuka, magnet), coding gratis (Scratch, Code.org), dan diskusi fenomena sehari-hari (mengapa langit biru, bagaimana GPS bekerja). Akses Rumah Belajar Kemendikbudristek untuk video dan simulasi interaktif gratis.
- Apakah semua siswa harus masuk jurusan STEM untuk Indonesia maju?
- Tidak, tapi literasi STEM dasar—berpikir kritis, analisis data, logika komputasi—kini esensial di hampir semua profesi, dari jurnalis hingga desainer. Yang penting bukan semua jadi insinyur, tapi semua mampu memahami dan menggunakan teknologi secara cerdas.
Sumber
Tentang penulis

Reviewer Sains · Ph.D. Biologi Laut, Universitas Indonesia, M.Sc. Marine Biology, University of Queensland, Anggota Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII)
Dr. Sari Lestari adalah peneliti biologi laut dengan PhD dari Universitas Indonesia. Bertindak sebagai reviewer artikel sains di Sorot Utama untuk memastikan akurasi metodologi dan interpretasi temuan riset. Tidak menulis sebagai byline utama; perannya memvalidasi konten YMYL sains.
Baca juga
Vaksin Malaria di Indonesia: Harapan Baru Menuju Eliminasi 2030
WHO telah merekomendasikan dua vaksin malaria untuk anak-anak, sementara Indonesia tengah mengkaji implementasi di wilayah endemis Papua, NTT, dan Maluku.
Target Net Zero 2060: Peta Jalan Transisi Energi Indonesia dan Realitas di Lapangan
Komitmen Indonesia mencapai netralitas karbon pada 2060 berhadapan dengan ketergantungan batu bara 60% dan tantangan pendanaan triliunan dolar.
Dua Dekade Tsunami Aceh: Dari Tragedi Menuju Sistem Peringatan Dini
Dua puluh tahun pasca bencana 26 Desember 2004, Indonesia membangun InaTEWS—namun tantangan teknis dan kesadaran publik masih tersisa.
Investasi Riset Indonesia 0,2% PDB: Terendah ASEAN di Tengah Ambisi Paten 2026
BRIN menargetkan lonjakan paten hingga 2026, namun dana R&D Indonesia tertinggal jauh dari Singapura dan Malaysia.
Terapi Sel Punca di Indonesia: Mana yang Legal, Mana Klaim Palsu
BPOM hanya menyetujui transplantasi sumsum tulang untuk leukemia dan talasemia — klaim anti-aging dan kecantikan tidak terbukti secara ilmiah.




