Lompat ke konten utama
sorotutama

Penemuan spesies udang mantis baru di Sulawesi: arti penting bagi peta biodiversitas laut Indonesia

Tim peneliti LIPI mengidentifikasi spesies baru *Lysiosquillina* di perairan Sulawesi Tenggara — bukti hidup bahwa Segitiga Karang masih menyimpan penemuan besar.

Oleh Redaksi Sorot UtamaDireview oleh Dr. Sari Lestari2 menit baca
Terumbu karang kawasan Wakatobi — ilustrasi biodiversitas laut Segitiga Karang
Foto: Stephan Ernst via Pexels · SAINS · BIODIVERSITAS LAUT(Foto: Stephan Ernst via Pexels)

Ringkasan

Tim peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN mengidentifikasi spesies udang mantis baru di kedalaman 18 meter di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Penemuan ini menambah satu spesies *Lysiosquillina* yang baru bagi sains dunia, sekaligus memperkuat status Indonesia sebagai pusat global biodiversitas laut. Bagi konservasi, temuan ini menambah urgensi perlindungan ekosistem Segitiga Karang.

Daftar isi▶ buka

Pada awal Mei 2026, jurnal ZooKeys menerbitkan deskripsi resmi spesies baru udang mantis (mantis shrimp) dari genus *Lysiosquillina*, ditemukan di perairan Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tim peneliti dipimpin Dr. Yusli Wardiatno dari Pusat Riset Oseanografi BRIN.

Penemuan ini tidak sekadar menambah daftar spesies dunia. Ia mempertegas posisi Indonesia sebagai jantung Segitiga Karang (Coral Triangle) — kawasan yang menyimpan keragaman hayati laut tertinggi di planet ini.

Apa itu udang mantis?

Udang mantis (Stomatopoda) bukan udang dalam pengertian taksonomi sempit — mereka kelompok krustasea sendiri. Mantis shrimp dikenal karena dua hal:

  • Pukulan supersonik mereka — sebagian spesies dapat memukul mangsa dengan kecepatan setara peluru kaliber 22, menghasilkan kavitasi air yang menyebar gelombang kejut.
  • Sistem mata 16-kanal — mata mereka memiliki 12 fotoreseptor warna dan dapat mendeteksi polarisasi cahaya, jauh melampaui kemampuan visual manusia.

Mereka adalah predator soliter yang biasanya menempati liang di dasar laut dangkal.

Mengapa Wakatobi?

Kepulauan Wakatobi terletak di pusat geografis Segitiga Karang — kawasan seluas 5,7 juta km² yang membentang dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, hingga Kepulauan Solomon. Kawasan ini menjadi rumah bagi 76% spesies karang dunia yang terkonfirmasi (sekitar 605 spesies).

Kombinasi arus laut dalam yang membawa nutrisi, suhu air stabil, dan habitat heterogen (dari terumbu hingga sea grass) menciptakan kondisi ideal bagi spesiasi laut. Banyak spesies endemik — termasuk udang mantis baru ini — baru ditemukan ketika tim riset turun ke kedalaman menengah (10-30 meter).

Apa yang membedakan spesies baru ini?

Tim mengidentifikasi spesies ini sebagai berbeda dari kerabatnya berdasarkan beberapa karakter morfologi:

  1. Pola warna karapas — bercak gelap dengan margin oranye yang unik.
  2. Bentuk telson (segmen ekor) — dengan duri postero-lateral yang berbeda proporsinya.
  3. Analisis DNA mitokondria — divergensi genetik konsisten dengan status spesies baru.

Triangulasi morfologi + genetik menjadi standar emas identifikasi spesies modern. Tanpa keduanya, klaim "spesies baru" rentan terbantahkan.

Apa arti penemuan ini bagi konservasi?

1. Argumen perlindungan kawasan menguat

Setiap spesies baru yang ditemukan di Segitiga Karang menambah bobot argumen untuk melindungi kawasan ini secara ketat. Saat ini sebagian Wakatobi sudah berstatus Taman Nasional, tetapi tekanan dari penangkapan ikan ilegal (illegal, unreported, unregulated atau IUU fishing) dan pemutihan karang akibat pemanasan laut tetap signifikan.

2. Indikator kesehatan ekosistem

Spesies udang mantis sensitif terhadap kualitas habitat. Mereka membutuhkan substrat yang relatif stabil dan air berkualitas baik. Adanya populasi cukup besar untuk menjadi spesies independen menunjukkan ekosistem dasar laut Wakatobi masih relatif sehat — meskipun terancam.

3. Ekonomi sains untuk Indonesia

Indonesia menjadi tujuan utama riset biodiversitas laut. Setiap penemuan spesies baru memperkuat posisi negara dalam diplomasi sains dan kerjasama riset internasional, yang berdampak pada akses pendanaan dan kerjasama teknologi.

Tantangan ke depan

Diperkirakan masih ribuan spesies laut Indonesia yang belum dideskripsikan secara formal. Hambatan utama:

  • Jumlah taksonomis aktif Indonesia masih jauh dari ideal untuk negara dengan biodiversitas setinggi ini.
  • Akses ke perairan dalam (>50 m) memerlukan peralatan mahal yang masih terbatas.
  • Penemuan harus dipublikasikan di jurnal internasional terindeks — proses peer-review yang panjang.

Komitmen jangka panjang ke pendidikan taksonomis muda dan kerjasama riset bilateral menjadi kunci.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Spesies baru ini berbahaya bagi manusia?
Tidak. Udang mantis umumnya menghindari manusia. Kecuali ditangani langsung, pukulan mereka tidak menjadi ancaman bagi penyelam atau nelayan.
Apakah udang mantis dimakan?
Spesies tertentu seperti *Squilla mantis* dikonsumsi di banyak daerah Indonesia (dikenal sebagai "udang lipan" atau "rece"). Namun spesies baru ini belum dievaluasi sebagai sumber pangan dan kemungkinan akan masuk daftar perlindungan.
Bagaimana spesies baru diberi nama resmi?
Penemu mempublikasikan deskripsi formal di jurnal ilmiah dengan nama Latin baru. Nama harus mengikuti aturan International Code of Zoological Nomenclature dan dapat berisi nama lokasi penemuan, penghormatan kepada peneliti, atau ciri morfologi.
Mengapa Wakatobi sering jadi lokasi penemuan spesies baru?
Wakatobi terletak di pusat Segitiga Karang dengan kondisi oseanografi unik. Selama 20 tahun terakhir, puluhan spesies baru — dari karang, moluska, ikan, hingga krustasea — dideskripsikan dari perairan ini.

Sumber

  1. ZooKeys — Description of new Lysiosquillina species
  2. BRIN Pusat Riset Oseanografi
  3. WWF — Coral Triangle Initiative
#Biodiversitas#Biologi Laut#Sulawesi

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga