Lompat ke konten utama
sorotutama

Investasi Riset Indonesia 0,2% PDB: Terendah ASEAN di Tengah Ambisi Paten 2026

BRIN menargetkan lonjakan paten hingga 2026, namun dana R&D Indonesia tertinggal jauh dari Singapura dan Malaysia.

Oleh Dr. Sari Lestari7 menit baca
BRIN — riset dan paten Indonesia 2026
Foto: www.kaboompics.com via Pexels

Ringkasan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dibentuk melalui Perpres 78/2021 menargetkan peningkatan paten granted dan publikasi ilmiah hingga 2026. Namun investasi riset Indonesia hanya 0,2-0,3% dari PDB—terendah di ASEAN—dibandingkan Singapura 1,9% dan Malaysia 1,0% menurut UNESCO Institute of Statistics. Fokus riset meliputi bioteknologi, geothermal, maritim, dan AI lokal, sementara tantangan brain drain, keterbatasan laboratorium, dan lemahnya kolaborasi industri-akademis masih menghambat daya saing regional.

Daftar isi▶ buka

Lima tahun setelah reorganisasi besar-besaran lembaga riset nasional melalui Perpres 78/2021, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menghadapi ujian nyata: membuktikan bahwa konsolidasi puluhan lembaga penelitian—dari LIPI hingga BPPT—mampu mengakselerasi output inovasi Indonesia. Target ambisius hingga 2026 meliputi peningkatan jumlah paten yang terdaftar di World Intellectual Property Organization (WIPO), publikasi ilmiah terindeks internasional, serta penguatan kerjasama riset lintas negara. Namun di balik optimisme tersebut, satu angka mengkhawatirkan: investasi riset dan pengembangan (R&D) Indonesia masih stagnan di kisaran 0,2-0,3% dari Produk Domestik Bruto (PDB), menjadikannya yang terendah di kawasan ASEAN menurut data UNESCO Institute of Statistics.

Kesenjangan ini bukan sekadar statistik. Singapura mengalokasikan 1,9% PDB untuk R&D, Malaysia 1,0%, bahkan Thailand mencapai 0,6%—semuanya jauh melampaui Indonesia. Implikasinya terasa langsung: jumlah peneliti per satu juta penduduk Indonesia hanya sekitar 200 orang, sementara Malaysia memiliki lebih dari 2.000 peneliti per satu juta penduduk berdasarkan laporan UNESCO. Disparitas ini mempertanyakan apakah reformasi kelembagaan BRIN cukup tanpa disertai komitmen fiskal yang memadai, terutama ketika negara-negara tetangga berlomba menjadi innovation hub regional.

Apa yang berubah setelah BRIN dibentuk?

Perpres 78/2021 mengintegrasikan 49 lembaga penelitian pemerintah di bawah satu atap BRIN, termasuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Tujuan utamanya: menghilangkan tumpang tindih program, mempercepat alih teknologi, dan memperkuat tata kelola riset nasional. Kepala BRIN Laksana Tri Handoko dalam berbagai kesempatan publik menyatakan bahwa konsolidasi ini memungkinkan sinergi antar-disiplin ilmu yang sebelumnya terfragmentasi, serta mempermudah koordinasi dengan Kementerian/Lembaga dan industri.

Dalam roadmap BRIN 2021-2024 yang dipublikasikan di situs resmi brin.go.id, tercatat empat pilar riset prioritas: (1) ketahanan pangan dan bioenergi, (2) energi baru terbarukan termasuk geothermal dan hidrogen, (3) kesehatan dan farmasi, serta (4) teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) lokal. Organisasi Riset Kebumian dan Maritim BRIN, misalnya, menargetkan pemetaan potensi geothermal di 30 lokasi baru hingga 2025, sementara Organisasi Riset Informatika dan Komputasi mengembangkan large language model bahasa Indonesia untuk aplikasi pemerintahan dan pendidikan.

Berapa output paten dan publikasi Indonesia saat ini?

Data WIPO IP Statistics menunjukkan Indonesia mengajukan sekitar 10.000-11.000 permohonan paten per tahun pada periode 2021-2023, namun jumlah paten granted (yang benar-benar dikabulkan) jauh lebih kecil—hanya sekitar 1.200-1.500 paten per tahun. Sebagai perbandingan, Singapura mencatatkan lebih dari 10.000 paten granted per tahun, Malaysia sekitar 3.500 paten. Lebih memprihatinkan lagi, mayoritas paten granted di Indonesia berasal dari pemohon asing (sekitar 70%), menandakan lemahnya kapasitas inovasi domestik yang siap dikomersialkan.

Di sisi publikasi ilmiah, Indonesia mengalami pertumbuhan signifikan. Berdasarkan Scimago Journal & Country Rank, jumlah dokumen ilmiah terindeks Scopus dari afiliasi Indonesia meningkat dari sekitar 18.000 dokumen pada 2018 menjadi lebih dari 35.000 dokumen pada 2023. BRIN menyumbang porsi besar dari angka ini, terutama di bidang material science, earth sciences, dan agricultural sciences. Namun citation impact Indonesia masih rendah—rata-rata sitasi per dokumen sekitar 3,5, dibandingkan rata-rata global 6-7, menunjukkan bahwa riset Indonesia belum banyak menjadi rujukan komunitas ilmiah internasional.

Mengapa investasi R&D Indonesia tertinggal?

Menurut dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 yang diterbitkan Bappenas, target investasi R&D Indonesia adalah 1,0% dari PDB pada akhir periode. Kenyataannya, realisasi anggaran riset pemerintah dan swasta gabungan tidak pernah melampaui 0,3% PDB. Bappenas dalam laporan evaluasi tengah periode mencatat bahwa kontribusi sektor swasta terhadap R&D nasional hanya sekitar 20%, sementara di negara maju angka ini mencapai 60-70%. Sebagian besar perusahaan Indonesia lebih memilih membeli teknologi jadi ketimbang berinvestasi pada riset internal.

Struktur ekonomi Indonesia yang masih berbasis komoditas—batubara, kelapa sawit, nikel—juga mengurangi insentif industri untuk berinovasi. Padahal, negara seperti Malaysia dan Thailand berhasil menarik investasi R&D multinasional dengan menawarkan tax holiday hingga 15 tahun untuk pusat riset korporat. Indonesia baru memiliki skema super deduction 300% untuk biaya R&D sejak 2020, namun uptake-nya rendah karena prosedur klaim yang kompleks dan kurangnya sosialisasi, menurut evaluasi Kementerian Keuangan yang dirilis 2023.

Apa saja bidang riset andalan BRIN?

BRIN menetapkan empat sektor strategis dengan potensi hilirisasi tinggi:

  • Bioteknologi: pengembangan varietas padi tahan kekeringan, vaksin ternak, serta enzim industri. Pusat Riset Bioteknologi BRIN di Cibinong telah menghasilkan 12 varietas unggul tanaman pangan yang dirilis Kementerian Pertanian sejak 2021.
  • Geothermal: Indonesia memiliki 40% cadangan panas bumi dunia (sekitar 24 GW), namun pemanfaatannya baru 2,2 GW. BRIN menargetkan teknologi Enhanced Geothermal System (EGS) untuk lapangan non-konvensional, dengan pilot project di Jawa Barat dan Sumatera Utara.
  • Maritim: riset akuakultur, bioprospecting laut dalam, dan autonomous underwater vehicle (AUV). Organisasi Riset Oseanografi BRIN mengoperasikan kapal riset Baruna Jaya untuk ekspedisi biodiversitas laut, dengan publikasi 200+ spesies baru sejak 2020.
  • AI dan Digital: BRIN mengembangkan BahasaGPT, model bahasa besar berbasis transformer dengan 1,5 miliar parameter, dilatih menggunakan korpus 100 juta kalimat bahasa Indonesia. Model ini ditargetkan untuk aplikasi chatbot layanan publik dan analisis sentimen media sosial.

Keempat bidang ini dipilih berdasarkan keunggulan komparatif Indonesia—kekayaan biodiversitas, posisi geologis Ring of Fire, serta pasar digital domestik terbesar di Asia Tenggara. Namun tantangan hilirisasi tetap besar: dari ratusan prototipe yang dihasilkan BRIN, hanya sedikit yang mencapai tahap komersialisasi karena lemahnya ekosistem venture capital dan regulatory sandbox untuk produk inovatif.

Tantangan apa yang masih menghambat riset Indonesia?

Brain drain menjadi masalah kronis. Data Kementerian Riset dan Teknologi (sebelum bergabung dengan BRIN) menunjukkan sekitar 3.000 lulusan doktor Indonesia bekerja di luar negeri, terutama di Amerika Serikat, Eropa, dan Australia. Gaji peneliti BRIN—rata-rata Rp 8-15 juta per bulan untuk doktor—tidak kompetitif dibandingkan universitas riset di Singapura atau Malaysia yang menawarkan USD 5.000-8.000 per bulan. Akibatnya, BRIN kesulitan merekrut dan mempertahankan talenta terbaik, terutama di bidang komputasi dan biomedis.

Infrastruktur laboratorium juga menjadi kendala. Survei internal BRIN 2023 [sumber perlu dikonfirmasi redaksi] mencatat bahwa 40% peralatan riset berusia lebih dari 15 tahun dan memerlukan penggantian. Untuk riset tingkat lanjut seperti genomics atau nanomaterial, peneliti Indonesia sering harus mengirim sampel ke Singapura atau Jepang karena ketiadaan fasilitas sequencing generasi terbaru atau transmission electron microscope (TEM) beresolusi atomik di dalam negeri.

Kolaborasi industri-akademis masih lemah. Berbeda dengan model triple helix di negara maju, di mana universitas, industri, dan pemerintah bekerja erat, di Indonesia masih ada gap besar antara riset dasar dan kebutuhan industri. Sebuah studi Bappenas 2022 menemukan bahwa hanya 15% perusahaan manufaktur Indonesia pernah bermitra dengan lembaga riset publik dalam lima tahun terakhir. Budaya risk-averse di kalangan industri dan kurangnya mekanisme IP sharing yang jelas menjadi hambatan utama.

Bagaimana peran BRIDA daerah dalam ekosistem riset?

BRIN mendirikan Balai Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) di 34 provinsi sebagai perpanjangan tangan untuk riset berbasis kebutuhan lokal. BRIDA Papua, misalnya, fokus pada etnobotani dan pemanfaatan tanaman obat endemik, sementara BRIDA Kalimantan Timur mengembangkan teknologi rehabilitasi lahan bekas tambang. Model ini diharapkan mengurangi sentralisasi riset di Jawa dan mendorong inovasi yang relevan dengan potensi daerah.

Namun efektivitas BRIDA masih terbatas. Anggaran rata-rata BRIDA hanya Rp 5-10 miliar per tahun, jauh lebih kecil dibandingkan unit riset pusat. Koordinasi dengan pemerintah daerah juga tidak selalu mulus—beberapa kepala daerah melihat BRIDA sebagai beban APBD ketimbang aset strategis. Untuk memaksimalkan peran BRIDA, BRIN sedang menyusun skema co-funding dengan pemda dan sektor swasta, serta melatih peneliti lokal agar mampu mengakses dana hibah internasional seperti Horizon Europe atau ASEAN STI Fund.

Apa prospek riset Indonesia hingga 2026?

BRIN menargetkan peningkatan paten granted menjadi 2.500 per tahun pada 2026, serta publikasi ilmiah terindeks mencapai 50.000 dokumen per tahun. Untuk mencapai ini, BRIN mengandalkan tiga strategi: (1) intensifikasi kerjasama internasional melalui joint lab dengan Jerman (Fraunhofer), Jepang (AIST), dan Korea Selatan (KIST); (2) program fast-track commercialization yang menghubungkan peneliti dengan inkubator startup dan venture capital; (3) skema publikasi insentif hingga Rp 50 juta per artikel di jurnal Q1.

Sementara itu, Bappenas dalam draft RPJMN 2025-2029 [sumber perlu dikonfirmasi redaksi] mengusulkan peningkatan investasi R&D nasional menjadi 0,5% PDB pada 2029, dengan penekanan pada matching grant industri-akademis dan pembangunan science park di lima kota besar. Namun tanpa political will yang kuat—tercermin dalam alokasi APBN yang konsisten—target ini berisiko menjadi sekadar retorika. Pengalaman RPJMN sebelumnya menunjukkan bahwa komitmen fiskal terhadap riset sering kali menjadi korban pertama saat terjadi tekanan anggaran.

Yang jelas, Indonesia tidak bisa lagi menunda investasi serius di riset dan inovasi. Di era ekonomi berbasis pengetahuan, negara yang tidak berinvestasi pada R&D akan terjebak sebagai pemasok komoditas mentah dan pasar bagi produk inovatif negara lain. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia mampu, melainkan apakah Indonesia mau—dan apakah reorganisasi BRIN cukup kuat untuk mengubah budaya riset nasional dari yang birokratis menjadi entrepreneurial, dari yang terisolasi menjadi kolaboratif, dari yang risk-averse menjadi risk-intelligent.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa anggaran BRIN per tahun?
Anggaran BRIN sekitar Rp 4-5 triliun per tahun (2022-2024), mencakup gaji pegawai, operasional laboratorium, dan program riset. Angka ini setara 0,2% dari APBN, masih jauh dari rekomendasi UNESCO 1% untuk negara berkembang.
Apakah hasil riset BRIN bisa diakses publik?
Sebagian publikasi ilmiah BRIN tersedia open access melalui repositori digital di brin.go.id. Namun untuk data riset mentah dan prototipe teknologi, akses masih terbatas karena pertimbangan IP dan keamanan nasional.
Bagaimana cara industri berkolaborasi dengan BRIN?
Industri dapat mengajukan proposal kerjasama melalui Direktorat Kemitraan dan Pengelolaan Kekayaan Intelektual BRIN. Skema yang tersedia meliputi contract research, joint development, dan technology licensing dengan mekanisme bagi hasil yang dinegosiasikan.
Apakah BRIN menerima peneliti asing?
Ya, BRIN membuka program visiting researcher dan postdoctoral fellowship untuk warga negara asing, terutama dalam kerangka kerjasama bilateral atau multilateral. Prosedur dan persyaratan dapat dilihat di portal karir BRIN.
Apa bedanya BRIN dengan LIPI atau BPPT dulu?
BRIN mengintegrasikan fungsi riset dasar (LIPI), riset terapan (BPPT), serta riset sektoral (BATAN, LAPAN, dll.) di bawah satu struktur governance. Tujuannya menghilangkan silo antar-lembaga dan mempercepat alih teknologi dari lab ke industri.

Sumber

  1. BRIN
  2. WIPO — Indonesia Patent Statistics
  3. Bappenas — RPJMN
  4. UNESCO Institute of Statistics — R&D
#brin#riset-indonesia#paten#inovasi#investasi-rd#Asean

Tentang penulis

Dr. Sari Lestari — Reviewer Sains Sorot Utama (PhD biologi laut)
Dr. Sari Lestari

Reviewer Sains · Ph.D. Biologi Laut, Universitas Indonesia, M.Sc. Marine Biology, University of Queensland, Anggota Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII)

Dr. Sari Lestari adalah peneliti biologi laut dengan PhD dari Universitas Indonesia. Bertindak sebagai reviewer artikel sains di Sorot Utama untuk memastikan akurasi metodologi dan interpretasi temuan riset. Tidak menulis sebagai byline utama; perannya memvalidasi konten YMYL sains.

Baca juga