Harga Minyak Dunia Turun ke US$96,63 Usai Gencatan Senjata Israel-Lebanon
Brent terkoreksi 1,21% ke US$96,63 per barel dan WTI turun 1,10% ke US$94,96 per barel seiring berkurangnya premi risiko geopolitik pascakesepakatan gencatan senjata.

Ringkasan
Harga minyak dunia melemah pada Kamis pagi (4/6/2026) dengan Brent turun ke US$96,63 per barel dan WTI ke US$94,96 per barel. Pelaku pasar mengurangi premi risiko geopolitik menyusul gencatan senjata Lebanon-Israel dan harapan kesepakatan lebih luas antara AS, Israel, dan Iran, meski fundamental pasar masih ketat dengan stok AS turun 8 juta barel.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Harga minyak dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis pagi (4/6/2026) setelah mengalami reli tajam dalam beberapa hari terakhir. Pelaku pasar mulai mengurangi premi risiko geopolitik menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel yang memunculkan harapan tercapainya kesepakatan lebih luas untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Menurut data Refinitiv pada pukul 09.15 WIB, kontrak Brent berada di level US$96,63 per barel, turun 1,21% dibandingkan penutupan sebelumnya di US$97,81 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) tercatat US$94,96 per barel atau terkoreksi 1,10% dari posisi penutupan Rabu yang mencapai US$96,02 per barel.
Pelemahan ini terjadi sehari setelah kedua acuan melonjak sekitar 2% dan memperpanjang penguatan yang sudah berlangsung sejak awal pekan. Meski terkoreksi pagi ini, harga minyak masih berada jauh di atas level akhir Mei. Brent telah menguat sekitar 5% dibandingkan posisi 29 Mei yang berada di US$92,05 per barel. WTI bahkan melonjak lebih dari 8% dari US$87,36 per barel pada periode yang sama.
Ketegangan Geopolitik Timur Tengah Mereda
Kenaikan harga minyak dalam beberapa hari terakhir dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, termasuk serangan Iran ke Kuwait serta operasi militer AS di sekitar Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling strategis di dunia yang mengalirkan hampir seperlima perdagangan minyak global.
Namun, sentimen pasar mulai bergeser. Kesepakatan gencatan senjata Lebanon-Israel memberi ruang bagi optimisme diplomatik. Presiden AS Donald Trump menyatakan kemajuan dalam negosiasi dengan Iran berpotensi tercapai akhir pekan ini. Dari pihak Iran, Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi mengungkapkan komunikasi dengan Washington masih berlangsung meski belum menghasilkan terobosan.
Pasar membaca perkembangan tersebut sebagai peluang berkurangnya risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah, yang mendorong pelaku pasar mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendongkrak harga.
Fundamental Pasar Masih Ketat
Di sisi lain, fundamental pasar minyak masih relatif ketat. Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun 8 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei menjadi 433,7 juta barel. Angka tersebut dua kali lebih besar dibanding ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 4 juta barel.
Penurunan stok yang lebih dalam dari perkiraan mengindikasikan pasokan global masih belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan konsumsi. Kondisi tersebut membuat ruang penurunan harga minyak masih terbatas meski tensi geopolitik mereda.
Outlook Pasar: Harga Bertahan di Area Atas
Haitong Futures dalam catatannya menilai harga minyak berpotensi tetap bergerak di area atas kisaran perdagangannya karena ketidakseimbangan pasokan dan permintaan masih berlangsung. Persediaan minyak global yang terus menyusut menjadi faktor yang menjaga pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik maupun gangguan pasokan baru.
Implikasinya, meski gencatan senjata dan upaya diplomatik memberikan sentimen positif jangka pendek, fundamental pasar yang ketat—ditandai penurunan stok signifikan—tetap menjadi penopang harga. Pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS-Iran serta dinamika pasokan dan permintaan global.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa harga minyak Brent dan WTI pada 4 Juni 2026?
- Pada Kamis pagi 4 Juni 2026 pukul 09.15 WIB, harga minyak Brent berada di level US$96,63 per barel (turun 1,21%) dan WTI tercatat US$94,96 per barel (turun 1,10%) menurut data Refinitiv.
- Apa penyebab penurunan harga minyak dunia pada 4 Juni 2026?
- Penurunan harga minyak dipicu berkurangnya premi risiko geopolitik setelah kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel, serta harapan tercapainya kesepakatan lebih luas antara AS, Israel, dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
- Bagaimana kondisi persediaan minyak AS menurut data EIA terbaru?
- Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 8 juta barel pada pekan yang berakhir 29 Mei menjadi 433,7 juta barel, dua kali lebih besar dari ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sekitar 4 juta barel.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
BI Rate Naik 25 Bps Jadi 5,50%, Rupiah Menguat ke Rp 18.080/USD
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026). Pasar merespons positif dengan penguatan rupiah dan IHSG.
SLIK OJK: Panduan Lengkap Cek dan Perbaiki Skor Kredit Anda
Sistem Layanan Informasi Keuangan menentukan persetujuan pinjaman Anda — begini cara mengaksesnya secara gratis dan legal.
Rupiah Tembus Level Terlemah, Bank Jual Dolar AS Rp18.415
Rupiah melemah ke Rp18.100 per dolar AS pada Senin pagi, mencatatkan level terlemah sepanjang masa. Sejumlah bank memasang kurs jual hingga Rp18.415.
Panduan Lengkap Lapor SPT Tahunan 2025 via Coretax dan DJP Online
Tenggat 31 Maret mendekat — simak langkah lengkap, dokumen wajib, dan jenis formulir yang sesuai kategori penghasilan Anda.
Archipelago International Hengkang dari Kuba Patuhi Sanksi AS
Jaringan hotel Indonesia mengakhiri operasional enam hotel merek Aston di Kuba menyusul tenggat waktu pemutusan hubungan dengan konglomerat militer GAESA yang disanksi Washington.




