Lompat ke konten utama
sorotutama

BI Rate Naik 25 Bps Jadi 5,50%, Rupiah Menguat ke Rp 18.080/USD

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026). Pasar merespons positif dengan penguatan rupiah dan IHSG.

Oleh Redaksi Sorot Utama2 menit baca
BI Rate Naik 25 Bps Jadi 5,50%, Rupiah Menguat ke Rp 18.080/USD
Foto: Atlantic Ambience via Pexels

Ringkasan

Bank Indonesia menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,50%, suku bunga deposit facility menjadi 4,50%, dan lending facility menjadi 6,25% pada 9 Juni 2026. Rupiah menguat ke Rp 18.080 per dolar AS dan IHSG naik 4,82% ke level 5.599.

Daftar isi▶ buka

Jakarta — Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026). Keputusan ini diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dan direspons positif oleh pasar keuangan domestik dengan penguatan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Bersamaan dengan kenaikan BI Rate, bank sentral juga menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,50% dan suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Ketiga instrumen suku bunga kebijakan ini merupakan koridor operasional kebijakan moneter BI dalam mengendalikan likuiditas dan inflasi.

Respons Pasar: Rupiah dan IHSG Menguat

Pasar keuangan merespons positif keputusan Bank Indonesia tersebut. Nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat pada pukul 12:41 WIB, sebagaimana dilaporkan CNBC Indonesia. Penguatan rupiah ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap langkah kebijakan moneter yang diambil bank sentral.

Sementara itu, IHSG juga mencatat kenaikan signifikan sebesar 4,82% ke level 5.599 pada hari yang sama. Penguatan indeks saham ini mencerminkan sentimen positif pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi makro dan langkah antisipatif BI dalam menjaga daya tarik aset domestik.

Konteks Kebijakan Moneter

Kenaikan suku bunga acuan biasanya merupakan respons bank sentral terhadap dinamika ekonomi, baik domestik maupun global. Secara umum, kebijakan pengetatan moneter bertujuan mengendalikan inflasi, menjaga stabilitas nilai tukar, dan meningkatkan daya tarik investasi di instrumen rupiah. Langkah ini juga dapat menjadi sinyal kehati-hatian bank sentral dalam mengantisipasi risiko ekonomi ke depan.

Implikasinya, kenaikan BI Rate dapat memengaruhi biaya pinjaman di sektor perbankan, yang pada gilirannya berdampak pada konsumsi dan investasi. Namun, di sisi lain, suku bunga yang lebih tinggi dapat menarik aliran modal masuk (capital inflow) dan mendukung stabilitas rupiah, sebagaimana terlihat dari respons pasar pada hari pengumuman.

Catatan untuk Pelaku Pasar

Perlu dicermati bahwa respons pasar pada hari pengumuman belum tentu mencerminkan tren jangka panjang. Pelaku pasar dan analis ekonomi biasanya akan menunggu rilis data ekonomi lanjutan serta pernyataan resmi Bank Indonesia mengenai outlook inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan risiko eksternal untuk menilai konsistensi kebijakan ke depan.

Keputusan Bank Indonesia ini menjadi salah satu indikator penting bagi investor, pelaku usaha, dan masyarakat dalam merencanakan strategi keuangan dan investasi di tengah dinamika ekonomi domestik dan global.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa kenaikan BI Rate yang diumumkan Bank Indonesia pada 9 Juni 2026?
Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Suku bunga deposit facility naik menjadi 4,50% dan lending facility menjadi 6,25%.
Bagaimana respons pasar terhadap kenaikan BI Rate tersebut?
Pasar merespons positif dengan penguatan rupiah ke Rp 18.080 per dolar AS pada pukul 12:41 WIB dan kenaikan IHSG sebesar 4,82% ke level 5.599 pada hari yang sama.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Bank Indonesia#Bi Rate#Rupiah#IHSG#Suku Bunga#Kebijakan Moneter

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga