Lompat ke konten utama
sorotutama

Harga Emas Menuju Kuartal Terburuk Sejak 2013, Ini Pemicunya

Harga emas anjlok dan berada di jalur penurunan kuartalan terburuk dalam 13 tahun. Ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan menguatnya dolar AS menekan logam mulia yang biasanya menjadi aset aman.

Oleh Vina Maharani3 menit baca
Ilustrasi emas batangan dan pasar logam mulia
Foto: yun zhu via Pexels

Ringkasan

Harga emas tengah menuju kuartal terburuknya sejak kuartal kedua 2013. Logam mulia ini diperkirakan turun sekitar 14 persen sepanjang kuartal ini dan lebih dari 11 persen pada Juni saja, penurunan bulanan keempat berturut-turut, dan sempat menyentuh level terendah tujuh bulan di kisaran 4.026 dolar AS per ons. Pemicunya: ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, dolar AS yang kuat, serta melemahnya permintaan aset aman seiring meredanya sebagian ketegangan geopolitik.

Daftar isi▶ buka

Harga emas tengah berada di jalur penurunan kuartalan terburuk dalam 13 tahun, atau sejak kuartal kedua 2013. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset aman justru tertekan oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve, bank sentral Amerika Serikat, serta menguatnya dolar AS.

Seberapa dalam penurunannya

Menurut laporan media keuangan, emas diperkirakan turun sekitar 14 persen sepanjang kuartal ini dan lebih dari 11 persen pada Juni saja, menandai penurunan bulanan keempat secara berturut-turut. Harga emas spot sempat bertahan di dekat level terendah tujuh bulan, di kisaran 4.026 dolar AS per ons. Penurunan kuartalan ini menjadi salah satu yang paling tajam dalam lebih dari satu dekade.

Apa yang menekan harga emas

Pemicu utama pelemahan ini adalah ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan, bahkan menaikkan, suku bunga lebih lama untuk meredam inflasi. Pasar mulai memperhitungkan beberapa kali kenaikan suku bunga tahun ini. Bersamaan dengan itu, dolar AS yang menguat membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli yang memegang mata uang lain.

Faktor lain adalah meredanya sebagian permintaan aset aman. Ketika ketegangan geopolitik mereda dan harga energi melandai, daya tarik emas sebagai pelindung nilai ikut berkurang. Kombinasi inflasi yang masih tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan dolar yang tangguh disebut analis akan terus menekan emas dalam waktu dekat.

Kenapa suku bunga dan dolar menggerakkan emas

Emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga atau dividen. Karena itu, ketika suku bunga tinggi, instrumen seperti obligasi pemerintah menjadi relatif lebih menarik dibanding menyimpan emas, sehingga sebagian investor beralih. Penguatan dolar juga berperan: karena emas global diperdagangkan dalam dolar, dolar yang kuat menekan permintaan dari luar AS dan menahan laju harga.

Apa artinya bagi investor di Indonesia

Emas merupakan salah satu instrumen investasi dan tabungan paling populer di Indonesia. Pergerakan harga emas global menjadi acuan utama harga emas batangan di dalam negeri, sehingga koreksi tajam di pasar dunia umumnya ikut menyeret turun harga emas lokal. Bagi sebagian investor, penurunan harga dapat dilihat sebagai peluang akumulasi jangka panjang, sementara bagi yang lain menjadi pengingat bahwa emas pun memiliki risiko fluktuasi.

Pembalikan tajam dari reli aset aman

Penurunan ini menandai pembalikan tajam dari reli emas sebelumnya, ketika logam mulia ini sempat mencetak rekor tertinggi sebagai aset pelindung di tengah ketegangan geopolitik. Beberapa laporan bahkan menyebut penurunan bulanan emas pada Juni 2026 sebagai yang terbesar sejak akhir 2008. Pergerakan ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen pasar berbalik ketika arah kebijakan moneter berubah.

Inflasi AS yang masih jauh di atas target bank sentral membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga yang sebelumnya dinanti pasar ikut memudar. Ketika peluang suku bunga turun mengecil, daya tarik emas yang tidak memberi imbal hasil semakin meredup. Hubungan terbalik antara emas dan suku bunga riil ini merupakan salah satu pola paling konsisten di pasar keuangan.

Bagi pemilik tabungan emas atau emas batangan, penurunan harga global ini dapat menggerus nilai investasi dalam jangka pendek. Namun, banyak perencana keuangan menekankan bahwa emas idealnya diposisikan sebagai instrumen diversifikasi jangka panjang, bukan alat spekulasi jangka pendek, sehingga fluktuasi seperti ini merupakan bagian dari dinamika yang wajar.

Sejumlah analis memperingatkan bahwa selama dolar tetap kuat dan The Fed mempertahankan sikap ketat, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut. Meski begitu, arah harga ke depan tetap bergantung pada data inflasi dan keputusan suku bunga yang akan datang.

Catatan: artikel ini merupakan rangkuman perkembangan pasar dan bukan rekomendasi investasi. Keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Kenapa harga emas turun tajam?
Terutama karena ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan menguatnya dolar AS, ditambah meredanya permintaan aset aman seiring melandainya ketegangan geopolitik.
Seberapa besar penurunannya?
Emas diperkirakan turun sekitar 14 persen pada kuartal ini, penurunan kuartalan terburuk sejak 2013, dan sempat menyentuh level terendah tujuh bulan di kisaran 4.026 dolar AS per ons.
Kenapa suku bunga tinggi menekan emas?
Karena emas tidak memberi imbal hasil, suku bunga tinggi membuat instrumen seperti obligasi lebih menarik, sehingga sebagian investor beralih dari emas.
Apa dampaknya bagi harga emas di Indonesia?
Harga emas global menjadi acuan harga emas batangan domestik, sehingga koreksi di pasar dunia umumnya ikut menyeret turun harga emas lokal.

Sumber

  1. CNBC - Gold heads for worst quarter in 13 years on strong dollar, Fed hike bets
  2. Reuters via Zawya - Gold heads for worst quarter in 13 years on strong dollar, Fed hike bets
  3. Business Today - Gold Set For Worst Quarterly Drop Since 2013 As Fed Rate Bets Weigh On Prices
#Emas#Harga Emas#The Fed#Suku Bunga

Tentang penulis

Vina Maharani · Redaktur Ekonomi Sorot Utama
Vina Maharani

Redaktur Ekonomi

Vina Maharani menulis tentang ekonomi makro, kebijakan moneter, dan dampaknya terhadap keuangan rumah tangga, dengan rujukan utama data resmi Bank Indonesia, BPS, dan OJK.

Baca juga