Allo Bank Ungkap Strategi Bisnis di Tengah Kenaikan BI-Rate
Bank digital BBHI memilih tidak langsung menaikkan bunga simpanan meski BI-Rate naik 100 bps sejak Mei 2026, dan fokus pada ekspansi kemitraan bisnis untuk menekan risiko kredit.

Ringkasan
Allo Bank Indonesia (BBHI) mengungkapkan strategi bisnisnya merespons kenaikan BI-Rate menjadi 5,75% dan penyesuaian TBP LPS menjadi 3,75%. Komisaris Utama Aviliani menegaskan bank tidak otomatis menaikkan bunga simpanan, melainkan fokus pada efisiensi biaya dan perluasan kemitraan untuk menekan NPL.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) mengungkapkan strategi yang ditempuh untuk menjaga kinerja bisnis di tengah tren kenaikan suku bunga acuan. Langkah ini merespons keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur pada 17-18 Juni 2026. Secara kumulatif, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026, termasuk kenaikan di luar jadwal yang dilakukan pada 9 Juni 2026.
Komisaris Utama Independen Allo Bank Aviliani menegaskan bahwa kenaikan BI-Rate tidak serta merta membuat perseroan langsung menaikkan bunga yang ditawarkan kepada nasabah. Keputusan tersebut tetap mempertimbangkan struktur biaya yang dimiliki bank. "Dengan BI Rate, tidak otomatis kita menaikkan, tapi tetap melihat cost yang kita keluarkan. Jadi kalau kita lihat sebenarnya cost kita luar biasa sangat efektif, BOPO kita kan cukup rendah," ujar Aviliani usai RUPS Allo Bank di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Respons terhadap Kenaikan TBP LPS
Selain kenaikan BI-Rate, industri perbankan juga menghadapi penyesuaian tingkat bunga penjaminan (TBP) oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). LPS memutuskan menaikkan TBP menjadi 3,75% untuk simpanan rupiah di bank umum yang berlaku pada periode 1 Juli hingga 30 September 2026.
Menanggapi hal tersebut, Aviliani menilai setiap bank memiliki kebijakan yang berbeda dalam menyesuaikan bunga simpanan. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan antara penyaluran kredit dan penghimpunan dana, namun tetap harus berada dalam batas yang ditetapkan LPS. "Kita kan untuk bank digital itu biasanya diberikan lebih tinggi dibandingkan bank umum biasa. Paling tidak, bukan diberikan keleluasaan, tapi paling tidak kita melihat berapa kredit yang kita berikan tentunya disesuaikan dengan dana," tambahnya.
Strategi Perluasan Kemitraan Bisnis
Untuk tahun 2026, Allo Bank menetapkan strategi utama berupa perluasan kerja sama dengan mitra bisnis. Perseroan menilai model bisnis berbasis kemitraan lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan penyaluran pinjaman langsung kepada individu. Menurut Aviliani, penyaluran pembiayaan kepada nasabah melalui ekosistem mitra bisnis juga berpotensi menekan risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).
Di tengah tantangan daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah, Allo Bank tetap berkomitmen melakukan ekspansi bisnis secara selektif. Perseroan menegaskan akan tetap berhati-hati dalam menyalurkan pembiayaan dengan mempertimbangkan profil risiko setiap nasabah.
Aviliani menjelaskan bahwa kerja sama dengan mitra bisnis memungkinkan bank memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai pola belanja dan perilaku transaksi nasabah. Dengan demikian, keputusan pemberian fasilitas paylater dapat dilakukan berdasarkan data transaksi yang lebih terukur.
Pengembangan Layanan Digital
Selain memperkuat bisnis paylater, Allo Bank juga terus mengembangkan layanan transaksi digital lainnya. Perseroan tengah memperluas fitur transaksi valuta asing, pembayaran tagihan, serta berbagai layanan transaksi harian guna memperluas jaringan dan meningkatkan aktivitas nasabah di platform Allo Bank.
Sebagai gambaran kinerja, Allo Bank mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp104 miliar pada kuartal I-2026. Angka ini ditopang pendapatan operasional Allo Bank yang naik 23% secara tahunan menjadi Rp474 miliar.
Implikasi bagi Industri Perbankan Digital
Perlu dicermati bahwa strategi Allo Bank mencerminkan pendekatan bank digital dalam menghadapi lingkungan suku bunga yang lebih tinggi. Fokus pada efisiensi operasional, sebagaimana tercermin dari rasio BOPO yang rendah, memberikan ruang gerak bagi bank untuk tidak terlalu agresif menaikkan bunga simpanan meski BI-Rate dan TBP LPS meningkat.
Implikasinya, strategi berbasis kemitraan dan ekosistem digital dapat menjadi model yang lebih berkelanjutan bagi bank digital dibandingkan kompetisi berbasis bunga simpanan tinggi. Pendekatan ini juga sejalan dengan upaya menjaga kualitas kredit di tengah tekanan daya beli masyarakat, meskipun efektivitas strategi ini dalam jangka panjang masih perlu diamati lebih lanjut.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa BI-Rate terkini dan berapa kenaikan kumulatifnya sejak Mei 2026?
- Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni 2026. Secara kumulatif, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026, termasuk kenaikan di luar jadwal pada 9 Juni 2026.
- Apa strategi utama Allo Bank di tahun 2026?
- Allo Bank menetapkan strategi perluasan kerja sama dengan mitra bisnis sebagai fokus utama. Perseroan menilai model bisnis berbasis kemitraan lebih efektif untuk menekan risiko NPL dibandingkan penyaluran pinjaman langsung, sambil mengembangkan layanan paylater dan transaksi digital lainnya.
- Bagaimana kinerja Allo Bank di kuartal I-2026?
- Allo Bank mencatat laba bersih setelah pajak sebesar Rp104 miliar pada kuartal I-2026, ditopang pendapatan operasional yang naik 23% secara tahunan menjadi Rp474 miliar.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Cara Kerja Rujukan BPJS Kesehatan: Dari Faskes 1 ke Rumah Sakit
Sistem rujukan berjenjang BPJS Kesehatan mewajibkan peserta berobat ke FKTP dulu, kecuali kondisi gawat darurat.
Bank Mandiri Cetak Laba Rp23,3 Triliun per Mei 2026, Naik 18,6% YoY
Laba bersih Bank Mandiri periode Januari-Mei 2026 mencapai Rp23,3 triliun, tumbuh 18,6% secara tahunan dengan ROE stabil di kisaran 20%.
Inflasi, Deflasi, dan Stagflasi: Perbedaan, Penyebab, dan Dampaknya
Tiga kondisi ekonomi yang berbeda ini memiliki karakteristik, penyebab, dan konsekuensi yang perlu dipahami masyarakat dan pengambil kebijakan.
Kemenkeu Pastikan APBN 2026 Aman Meski Rupiah Melemah
Kementerian Keuangan menegaskan APBN 2026 tetap terjaga dengan defisit 0,70% terhadap PDB per Mei, ditopang pertumbuhan pajak 22,1% yoy meski rupiah tertekan dan harga minyak global naik.
Panda Bond: Strategi Indonesia Kurangi Ketergantungan Dolar AS
Kementerian Keuangan akan menerbitkan Panda Bond berdenominasi yuan sebagai upaya diversifikasi pembiayaan untuk mengurangi dampak fluktuasi dolar AS terhadap APBN dan memperkuat stabilitas rupiah.




