Lompat ke konten utama
sorotutama

Saron, bonang, gambang: peran gamelan dalam komposisi musik kontemporer Indonesia

Dari ruang konser dunia hingga studio elektronik di Yogyakarta, bunyi metalofon gamelan terus menemukan bentuk baru tanpa kehilangan akarnya.

Oleh Redaksi Sorot Utama4 menit baca
Alat musik gamelan tradisional Jawa · ilustrasi musik kontemporer Indonesia
Foto: Gusti Mega via Pexels · BUDAYA · MUSIK(Foto: Gusti Mega via Pexels)

Ringkasan

Gamelan, ansambel perkusi logam dari Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2021, telah lama menjadi sumber inspirasi musik kontemporer. Pengaruhnya terlihat sejak Debussy mendengar gamelan Jawa di Paris pada 1889, berlanjut ke gerakan American gamelan, hingga komposer Indonesia seperti Slamet Abdul Sjukur dan generasi eksperimental masa kini yang mengolah idiom tradisional ke dalam bahasa musik modern.

Daftar isi▶ buka

Gamelan bukan sekadar warisan masa lalu yang dipajang di museum. Ansambel perkusi logam dari Indonesia ini sudah lebih dari satu abad menjadi sumber bahasa bagi musik kontemporer - mulai dari ruang konser Eropa, panggung eksperimental Amerika, hingga studio komposer dan produser di Indonesia sendiri. Pada 2021, UNESCO menetapkan gamelan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, sebuah pengakuan global yang menegaskan posisinya bukan hanya sebagai tradisi yang dilestarikan, tetapi juga sebagai praktik hidup yang terus berkembang.

Apa itu gamelan dan mengapa diakui UNESCO

Gamelan adalah ansambel yang sebagian besar terdiri dari instrumen perkusi bernada dari logam tempa, seperti metalofon (saron, gender), gong, gong berpencu (bonang), kendang, serta instrumen pelengkap seperti gambang, rebab, dan suling bambu. Menurut UNESCO, gamelan biasanya dimainkan dalam ritual keagamaan, upacara, teater tradisional, festival, dan konser, serta digunakan untuk terapi musik dan dipandang sebagai sarana menghubungkan manusia dengan alam semesta.

UNESCO mencatat bahwa gamelan adalah bagian tak terpisahkan dari identitas Indonesia yang berusia berabad-abad - bukti arkeologisnya bahkan ditemukan pada relief Candi Borobudur dari abad ke-8. Gamelan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada sesi ke-16 Komite Antarpemerintah UNESCO pada Desember 2021.

Jejak gamelan di musik klasik Barat

Pengaruh gamelan terhadap musik kontemporer dunia bermula jauh sebelum istilah "world music" lahir. Pada Pameran Dunia (Exposition Universelle) di Paris tahun 1889, komposer Prancis Claude Debussy mendengar gamelan Jawa dimainkan secara langsung. Yang memikatnya bukan kesan eksotis di permukaan, melainkan struktur, tekstur, dan modalitasnya. Jejak itu kemudian terasa pada karya-karya kematangan Debussy yang mengeksplorasi skala pentatonik, lapisan pola yang berulang, dan resonansi dengung yang menyerupai bunyi gamelan.

Setelah Debussy, ketertarikan terhadap gamelan berkembang menjadi studi yang lebih serius di Amerika Utara. Komposer dan etnomusikolog Colin McPhee tinggal di Bali pada 1930-an, mempelajari serta menuliskan musiknya secara mendalam; karyanya, Music in Bali, terbit pada 1966 dan menjadi rujukan penting. Sementara itu, komposer Lou Harrison bersama William Colvig membangun instrumen mereka sendiri dan menjadi tokoh sentral gerakan yang dikenal sebagai American gamelan, yang memadukan estetika gamelan dengan praktik komposisi Barat.

Komposer Indonesia: dari tradisi ke avant-garde

Di Indonesia, gamelan menjadi titik berangkat bagi para komposer yang ingin menjelajah idiom baru tanpa memutus akar. Salah satu nama paling berpengaruh adalah Slamet Abdul Sjukur (1935-2015), yang kerap disebut sebagai pelopor musik kontemporer Indonesia. Ia belajar di Paris dan sempat berada di lingkungan tokoh seperti Olivier Messiaen dan Henri Dutilleux, lalu mengembangkan gagasan "minimax" - menghasilkan kemungkinan maksimal dari materi bunyi yang minimal, sebuah pendekatan yang resonan dengan logika tekstur gamelan.

Generasi berikutnya melanjutkan eksplorasi ini ke ranah teater, film, dan seni rupa. Komposer Rahayu Supanggah, misalnya, dikenal lewat penggarapan gamelan untuk produksi lintas-media berskala besar, termasuk musik untuk film Opera Jawa dan Setan Jawa karya sutradara Garin Nugroho. Karya-karya semacam ini memperlihatkan bahwa gamelan sanggup menopang narasi kontemporer, bukan sekadar menjadi latar bernuansa etnik.

Gelombang baru: elektronik, film, dan panggung global

Pada dekade 2010-an dan 2020-an, generasi musisi muda Indonesia membawa idiom tradisional ke wilayah eksperimental dan elektronik. Duo Senyawa dari Yogyakarta, yang terbentuk pada 2010, adalah contoh menonjol: Wukir Suryadi membangun instrumen sendiri dari bambu dan perkakas pertanian, sementara Rully Shabara mengolah teknik vokal ekstended. Walau Senyawa tidak memainkan set gamelan konvensional, sound mereka secara luas dipuji karena berhasil menyerap "rasa" musik Jawa sambil mendorong batas musik eksperimental - menandai bagaimana sensibilitas gamelan hidup di luar instrumen aslinya.

Pergeseran ini penting karena memindahkan gamelan dari posisi ornamen ke posisi fondasi. Bunyi saron, bonang, dan gambang kini muncul sebagai elemen utama dalam skor film, produksi panggung internasional, hingga komposisi elektronik - menjadi pintu masuk bagi audiens muda yang mungkin belum pernah menonton pertunjukan karawitan tradisional.

Mengapa ini penting untuk masa depan gamelan

Pengakuan UNESCO membawa rekognisi sekaligus tanggung jawab pelestarian. Salah satu bentuk pelestarian paling sehat justru adalah relevansi: ketika sebuah tradisi terus dipakai, ditafsir ulang, dan dipertaruhkan dalam karya baru, ia tidak membeku menjadi artefak. Kolaborasi antara karawitan tradisional dan musik kontemporer memberi gamelan dua kehidupan sekaligus - sebagai pusaka yang dijaga keasliannya di keraton dan kampus seni, dan sebagai bahasa hidup yang terus tumbuh di tangan komposer baru.

Bagi pembaca yang ingin menelusuri lebih jauh, jalur paling tepercaya adalah merujuk pada catatan resmi UNESCO untuk konteks pengakuan dan deskripsi tradisi, serta institusi seni seperti ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, dan ISI Bali yang mendokumentasikan praktik dan penelitian gamelan kontemporer. Rekaman para komposer dan ansambel yang disebut di atas juga tersedia luas untuk didengarkan langsung.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Kapan gamelan diakui UNESCO?
Gamelan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan oleh UNESCO pada Desember 2021, dalam sesi ke-16 Komite Antarpemerintah. Pengakuan ini menjadikannya salah satu dari sederet warisan budaya Indonesia yang masuk Daftar Representatif UNESCO.
Bagaimana gamelan memengaruhi musik klasik Barat?
Komposer Prancis Claude Debussy mendengar gamelan Jawa di Pameran Dunia Paris 1889. Ia tertarik pada struktur, tekstur, dan modalitasnya, dan unsur-unsur seperti skala pentatonik serta pola berulang kemudian terasa pada karya-karya kematangannya. Di Amerika Utara, etnomusikolog Colin McPhee dan komposer Lou Harrison melanjutkan ketertarikan ini hingga melahirkan gerakan American gamelan.
Siapa komposer Indonesia yang mengembangkan gamelan ke arah kontemporer?
Slamet Abdul Sjukur (1935-2015) kerap disebut pelopor musik kontemporer Indonesia, dengan gagasan minimax-nya. Rahayu Supanggah dikenal menggarap gamelan untuk produksi lintas-media, termasuk skor film Opera Jawa dan Setan Jawa karya Garin Nugroho. Generasi terbaru, seperti duo Senyawa dari Yogyakarta, membawa sensibilitas musik Jawa ke ranah eksperimental dan elektronik.
Apa beda gamelan Jawa dan Bali?
Secara umum, gamelan Jawa cenderung bertempo lebih pelan dan kontemplatif dengan dinamika halus, sementara gamelan Bali lebih cepat dan energetik dengan kontras dinamika yang tajam, cocok untuk mengiringi upacara dan tarian. Namun keduanya hanyalah dua dari banyak tradisi gamelan daerah di Indonesia, dan karakter spesifiknya bisa bervariasi antar wilayah dan keraton.

Sumber

  1. UNESCO - Gamelan, Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan (RL/gamelan-01607)
  2. UNESCO - Gamelan, another Indonesian tradition on the Representative List of Intangible Cultural Heritage
  3. Wikipedia - Slamet Abdul Sjukur (pelopor musik kontemporer Indonesia)
  4. Wikipedia - Colin McPhee (etnomusikolog dan gerakan American gamelan)
#Budaya Jawa

Tentang penulis

R
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga