Lompat ke konten utama
sorotutama

Angklung: Sejarah, Cara Kerja, dan Pengakuan UNESCO 2010

Alat musik bambu khas Sunda yang berbunyi saat digoyang ini ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2010.

Oleh Redaksi Sorot Utama4 menit baca
Ilustrasi: Angklung: Sejarah, Cara Kerja, dan Pengakuan UNESCO 2010
Foto: quang vinh via Pexels

Ringkasan

Angklung adalah alat musik tradisional Sunda dari Jawa Barat yang dibunyikan dengan digoyang; tabung-tabung bambu beradu menghasilkan satu nada, sehingga sebuah lagu butuh banyak pemain yang bekerja sama. Daeng Soetigna menciptakan angklung diatonis (angklung padaeng) pada 1938 agar bisa memainkan lagu modern, dan Udjo Ngalagena mendirikan Saung Angklung Udjo pada 1966. UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2010.

Daftar isi▶ buka

Angklung adalah alat musik tradisional dari tanah Sunda, Jawa Barat, yang dibunyikan dengan cara digoyang. Setiap angklung terbuat dari beberapa tabung bambu yang digantung pada bingkai bambu dan diikat tali rotan; ketika bingkai digoyang atau ditepuk, tabung-tabung itu beradu dan menghasilkan satu nada tertentu. Karena satu angklung umumnya hanya membunyikan satu nada, memainkan sebuah lagu menuntut banyak orang bekerja sama secara serempak. Pada 2010, UNESCO menetapkan Angklung Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.

Inilah ringkasan asal-usul, cara kerja, tokoh pengembang, hingga makna pengakuan dunia atas angklung, dirangkum dari catatan resmi UNESCO dan sumber budaya kredibel.

Dari mana angklung berasal?

Angklung berakar pada budaya Sunda di Jawa Barat dan dikenal sejak masa kerajaan Sunda. Pada masa itu angklung dimainkan dalam ritual agraria yang dipersembahkan kepada Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri, lambang dewi padi dan kesuburan, dengan harapan tanaman padi tumbuh subur. Jadi sejak awal angklung tidak sekadar hiburan, melainkan bagian dari kehidupan komunal dan upacara masyarakat agraris Sunda.

Dalam catatan UNESCO, angklung dimainkan pada beragam upacara adat, antara lain saat menanam padi, panen, dan khitanan. Pewarisannya berlangsung secara lisan dari generasi ke generasi, dan kini makin banyak diajarkan lewat lembaga pendidikan formal.

Bagaimana angklung bekerja?

Prinsip kerja angklung sederhana namun cerdik. Pengrajin membentuk tabung bambu dengan teliti agar menghasilkan nada tertentu ketika bingkainya digoyang. Cara memainkannya pun khas: pemain memegang bingkai, lalu menggoyangkannya sehingga tabung bambu beradu dan berbunyi.

  1. Setiap angklung umumnya hanya menghasilkan satu nada atau akor, bukan satu rangkaian melodi.
  2. Untuk memainkan sebuah lagu, dibutuhkan banyak pemain yang masing-masing memegang nada berbeda.
  3. Pemain harus masuk tepat pada gilirannya, mengikuti aba-aba pemimpin, sehingga rangkaian nada tersusun menjadi melodi utuh.
  4. Hasilnya adalah harmoni yang hanya bisa terbentuk melalui kerja sama, bukan permainan solo.

Karakter inilah yang membuat angklung kerap disebut sebagai alat musik gotong royong: keindahan musiknya lahir dari kolaborasi, kedisiplinan, dan saling mendengar antarpemain.

Siapa Daeng Soetigna dan apa itu angklung diatonis?

Secara tradisional, angklung Sunda menggunakan tangga nada pentatonis seperti laras pelog dan salendro, sehingga repertoarnya terbatas pada lagu-lagu daerah. Terobosan besar datang dari Daeng Soetigna. Pada 1938 ia menciptakan angklung bertangga nada diatonis-kromatis, varian yang dikenal sebagai angklung padaeng.

Penguasaan Daeng Soetigna atas instrumen Barat seperti gitar dan piano menjadi dasar inovasinya. Dengan tangga nada diatonis, angklung mampu memainkan lagu-lagu modern, berpadu dengan alat musik Barat, bahkan tampil dalam format orkestra. Berkat sumbangsih itu, Daeng Soetigna - lahir di Garut pada 13 Mei 1908 dan wafat di Bandung pada 8 April 1984 - dikenang sebagai Bapak Angklung Diatonis-Kromatis Indonesia.

Apa peran Saung Angklung Udjo?

Estafet pelestarian dilanjutkan oleh Udjo Ngalagena, murid Daeng Soetigna. Bersama istrinya, Uum Sumiati, Udjo mendirikan Saung Angklung Udjo pada 1966 di kawasan Padasuka, Bandung, Jawa Barat. Tempat ini sekaligus berfungsi sebagai panggung pertunjukan, pusat kerajinan bambu, bengkel pembuatan alat musik, dan laboratorium pendidikan budaya Sunda.

Udjo mengembangkan teknik permainan berbasis laras pelog dan salendro sekaligus merawat warisan diatonis gurunya. Hingga kini Saung Angklung Udjo menjadi salah satu pusat kreativitas dan wisata budaya angklung yang dikenal luas, tempat pengunjung dapat menonton pertunjukan sekaligus belajar memainkan angklung.

Mengapa angklung diakui UNESCO?

Pada sesi kelima Komite Antarpemerintah (5.COM) yang digelar di Nairobi, Kenya, pada November 2010, UNESCO menetapkan Angklung Indonesia masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan melalui Keputusan 5.COM 6.18. Penetapan ini menempatkan angklung sebagai bagian dari kekayaan budaya dunia yang wajib dijaga.

Menurut pertimbangan komite, angklung dinilai penting bagi identitas budaya masyarakat Jawa Barat dan Banten karena menumbuhkan kerja sama tim, saling menghormati, dan harmoni sosial. UNESCO juga mencatat bahwa memainkan angklung memupuk disiplin, tanggung jawab, konsentrasi, daya imajinasi dan ingatan, serta kepekaan seni dan musik. Pengakuan itu disertai rencana pelestarian, termasuk pendidikan formal maupun informal dan budidaya bambu yang berkelanjutan.

Catatan: sebagian sumber sekunder keliru menyebut tahun penetapan sebagai 2011. Berdasarkan dokumen resmi UNESCO sendiri, inskripsi angklung dilakukan pada 2010 melalui Keputusan 5.COM 6.18.

Mengapa angklung penting hari ini?

Lebih dari sekadar alat musik, angklung adalah simbol kebersamaan. Bunyinya hanya utuh ketika banyak orang bersedia memainkan bagian kecil masing-masing dengan tertib dan saling percaya. Nilai itulah - gotong royong, disiplin, dan harmoni - yang membuat angklung tetap relevan dan terus diajarkan di sekolah-sekolah serta sanggar di seluruh Indonesia. Bagi yang ingin mengenal langsung, pusat budaya seperti Saung Angklung Udjo di Bandung menyediakan pertunjukan dan kelas bermain angklung untuk umum.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Kapan UNESCO menetapkan angklung sebagai warisan budaya dunia?
UNESCO menetapkan Angklung Indonesia masuk Daftar Representatif Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2010, melalui Keputusan 5.COM 6.18 dalam sidang komite di Nairobi, Kenya, pada November 2010. Sebagian sumber keliru menyebut 2011, tetapi dokumen resmi UNESCO mencantumkan tahun 2010.
Bagaimana cara kerja angklung sehingga menghasilkan nada?
Setiap angklung terdiri atas dua hingga empat tabung bambu yang digantung pada bingkai bambu dan diikat tali rotan. Tabung dibentuk khusus agar menghasilkan nada tertentu ketika bingkai digoyang atau ditepuk. Karena satu angklung umumnya hanya membunyikan satu nada, memainkan lagu memerlukan banyak pemain yang bekerja sama.
Siapa Daeng Soetigna dan apa kontribusinya?
Daeng Soetigna (1908-1984) adalah tokoh yang pada 1938 menciptakan angklung bertangga nada diatonis-kromatis, dikenal sebagai angklung padaeng. Inovasi ini membuat angklung dapat memainkan lagu modern dan berpadu dengan alat musik Barat, sehingga ia dijuluki Bapak Angklung Diatonis-Kromatis Indonesia.
Apa itu Saung Angklung Udjo?
Saung Angklung Udjo adalah pusat budaya dan wisata angklung di Padasuka, Bandung, Jawa Barat, yang didirikan pada 1966 oleh Udjo Ngalagena, murid Daeng Soetigna, bersama istrinya Uum Sumiati. Tempat ini menjadi panggung pertunjukan, bengkel kerajinan bambu, dan laboratorium pendidikan budaya Sunda.

Sumber

  1. UNESCO ICH - Indonesian Angklung (Representative List)
  2. UNESCO - Keputusan Komite 5.COM 6.18 (Nairobi, 2010)
  3. Indonesia.travel - Indonesian Angklung: Bamboo Harmony
  4. Wikipedia - Saung Angklung Udjo
#Warisan Budaya#Unesco

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga