Rupiah Tembus Rp18.050/USD, BI Siapkan 7 Amunisi Stabilisasi
Bank Indonesia menegaskan memiliki tujuh instrumen kebijakan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah ke level Rp18.050 per dolar AS, rekor terlemah sepanjang sejarah.

Ringkasan
Rupiah dibuka melemah 0,17% ke level Rp18.050/USD pada Jumat (5/6/2026), posisi terlemah sepanjang sejarah. Bank Indonesia menegaskan memiliki tujuh amunisi stabilisasi, termasuk intervensi valas, optimalisasi SRBI, pembelian SBN hingga Rp140,57 triliun (termasuk Rp73,28 triliun di pasar sekunder per 19 Mei 2026), dan penguatan pengawasan transaksi valas.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Jumat (5 Juni 2026), melemah 0,17% ke level Rp18.050 per dolar Amerika Serikat. Posisi ini sekaligus menjadi level terlemah sepanjang sejarah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menurut data Refinitiv yang dikutip Bank Indonesia (BI).
Menanggapi tekanan besar terhadap rupiah, Bank Indonesia menegaskan bahwa bank sentral masih memiliki tujuh instrumen kebijakan (amunisi) untuk menstabilkan nilai tukar. Langkah-langkah ini diumumkan melalui laman Instagram resmi @bank_indonesia pada hari yang sama.
Tujuh Instrumen Stabilisasi Nilai Tukar
Amunisi pertama adalah penguatan intervensi di pasar valas, baik di dalam maupun luar negeri. Intervensi dilakukan melalui transaksi spot dan Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri di pusat keuangan global secara berkelanjutan (around the clock).
Kedua, BI mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) agar aset rupiah tetap menarik. "Bank Indonesia juga menaikkan suku bunga SRBI dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan ini dinilai berhasil mendorong kembali aliran modal asing masuk (portfolio inflow) ke pasar keuangan domestik setelah sebelumnya sempat terjadi outflow," tulis BI. Masuknya aliran modal tersebut membantu memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung kecukupan pasokan valas di dalam negeri.
Ketiga adalah pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bentuk sinergi fiskal dan moneter. Hingga 19 Mei 2026, Bank Indonesia telah membeli SBN senilai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Keempat, BI akan menjaga kecukupan likuiditas di perbankan dan pasar uang dengan menjaga pertumbuhan uang primer (M0) lebih dari 10% sesuai dengan ekspansi moneter. "Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian dan mempertahankan kredibilitas kebijakan moneter," tegas BI.
Kelima, BI memperkuat kebijakan transaksi pasar valas melalui implementasi penurunan threshold tunai beli valas terhadap rupiah tanpa underlying menjadi USD25.000 per pelaku per bulan yang mulai berlaku Juni 2026. Langkah ini juga mencakup perluasan transaksi Yuan dan Rupiah di dalam negeri dalam rangka Local Currency Transaction (LCT).
Keenam adalah penguatan intervensi di pasar offshore NDF. BI memperluas keikutsertaan perbankan dalam transaksi offshore NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri bagi Dealer Utama PUVA yang memenuhi persyaratan dari Bank Indonesia.
Terakhir, BI akan memperkuat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi melalui koordinasi erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Langkah Pendukung Pertumbuhan Ekonomi
Selain stabilisasi nilai tukar, BI mengklaim tetap mendorong pertumbuhan ekonomi melalui lima langkah. Pertama, menjaga kecukupan likuiditas antara lain melalui pembelian SBN di pasar sekunder dan menjaga pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi.
Kedua, memperkuat insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit dan pembiayaan perbankan ke sektor prioritas, seperti pertanian, industri dan hilirisasi, jasa termasuk ekonomi kreatif, konstruksi, real estate dan perumahan, serta UMKM, koperasi, inklusi, dan sektor berkelanjutan.
Ketiga, melonggarkan kebijakan intermediasi perbankan dengan memperluas cakupan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) agar bank memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menghimpun dan menyalurkan dana per 1 Juli 2026.
Keempat, memperkuat sinergi melalui Program Percepatan Intermediasi Nasional (PINISI). BI bersama Pemerintah, OJK, perbankan, dan dunia usaha terus memperkuat koordinasi agar pembiayaan ekonomi dapat tumbuh lebih optimal.
Kelima, mendorong digitalisasi ekonomi dan sistem pembayaran. BI terus memperluas digitalisasi ekonomi melalui penguatan QRIS, termasuk QRIS Antarnegara, serta pengembangan wirausaha digital melalui program Pusat Inovasi Digitalisasi Indonesia (PIDI).
Konteks dan Implikasi
Pelemahan rupiah ke level Rp18.050 per dolar AS mencerminkan tekanan signifikan pada nilai tukar domestik di tengah dinamika pasar keuangan global. Secara umum, pelemahan mata uang dapat berdampak pada inflasi impor, biaya utang luar negeri, dan daya beli masyarakat terhadap barang-barang impor.
Respons komprehensif Bank Indonesia dengan tujuh instrumen stabilisasi menunjukkan keseriusan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Perlu dicermati bahwa efektivitas kebijakan-kebijakan ini akan bergantung pada kondisi pasar global, sentimen investor, serta koordinasi dengan kebijakan fiskal dan pengawasan sektor keuangan. Kombinasi langkah stabilisasi dan pendorong pertumbuhan ekonomi mencerminkan upaya menyeimbangkan antara menjaga stabilitas makroekonomi dan mendukung pemulihan ekonomi domestik.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Berapa level terlemah rupiah terhadap dolar AS yang tercatat pada 5 Juni 2026?
- Rupiah dibuka melemah 0,17% ke level Rp18.050 per dolar AS pada Jumat (5 Juni 2026), yang merupakan posisi terlemah sepanjang sejarah rupiah terhadap dolar AS menurut data Refinitiv.
- Apa saja tujuh amunisi Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah?
- Tujuh amunisi BI meliputi: (1) penguatan intervensi valas di dalam dan luar negeri; (2) optimalisasi SRBI; (3) pembelian SBN di pasar sekunder; (4) menjaga kecukupan likuiditas dan pertumbuhan uang primer di atas 10%; (5) penurunan threshold tunai beli valas menjadi USD25.000 per pelaku per bulan mulai Juni 2026 dan perluasan transaksi Yuan-Rupiah; (6) penguatan intervensi di pasar offshore NDF; (7) penguatan pengawasan bank dan korporasi dengan pembelian dolar AS tinggi melalui koordinasi dengan OJK.
- Berapa nilai pembelian SBN oleh Bank Indonesia hingga 19 Mei 2026?
- Hingga 19 Mei 2026, Bank Indonesia telah membeli SBN senilai Rp140,57 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp73,28 triliun, sebagai bagian dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
BI Rate Naik 25 Bps Jadi 5,50%, Rupiah Menguat ke Rp 18.080/USD
Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 5,50% pada Selasa (9/6/2026). Pasar merespons positif dengan penguatan rupiah dan IHSG.
SLIK OJK: Panduan Lengkap Cek dan Perbaiki Skor Kredit Anda
Sistem Layanan Informasi Keuangan menentukan persetujuan pinjaman Anda — begini cara mengaksesnya secara gratis dan legal.
Rupiah Tembus Level Terlemah, Bank Jual Dolar AS Rp18.415
Rupiah melemah ke Rp18.100 per dolar AS pada Senin pagi, mencatatkan level terlemah sepanjang masa. Sejumlah bank memasang kurs jual hingga Rp18.415.
Panduan Lengkap Lapor SPT Tahunan 2025 via Coretax dan DJP Online
Tenggat 31 Maret mendekat — simak langkah lengkap, dokumen wajib, dan jenis formulir yang sesuai kategori penghasilan Anda.
Archipelago International Hengkang dari Kuba Patuhi Sanksi AS
Jaringan hotel Indonesia mengakhiri operasional enam hotel merek Aston di Kuba menyusul tenggat waktu pemutusan hubungan dengan konglomerat militer GAESA yang disanksi Washington.




