Perbanas Ungkap Alasan Pengusaha RI Parkir Dana di Luar Negeri
Wakil Ketua Perbanas Nixon L.P. Napitupulu menyebut tiga faktor utama: keamanan penempatan devisa, kerahasiaan transaksi, dan insentif pajak kompetitif dari negara lain.

Ringkasan
Perbanas mengungkapkan hasil studi bahwa pengusaha Indonesia cenderung menempatkan dana di luar negeri karena faktor keamanan terkait aturan DHE, kerahasiaan kepemilikan dan transaksi, serta manfaat pajak yang lebih kompetitif. Nixon Napitupulu menyinggung perlunya integrasi regulasi pasar komoditas dengan otoritas keuangan.
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkapkan sejumlah alasan mengapa para pengusaha Indonesia lebih memilih menempatkan dananya di luar negeri. Temuan ini disampaikan Wakil Ketua Perbanas, Nixon L.P. Napitupulu, dalam Rapat Dengar Pendapat Umum di Komisi XI DPR RI, Selasa (2/6/2026).
Nixon mengatakan bahwa pihaknya pernah mengadakan studi bersama konsultan terkait keberadaan dana para pengusaha yang relatif diparkir di luar negeri. Dari studi tersebut, teridentifikasi tiga faktor utama yang menjadi pertimbangan pelaku usaha.
Tiga Faktor Utama Penempatan Dana di Luar Negeri
Faktor pertama adalah aspek keamanan, terutama terkait aturan penempatan devisa hasil ekspor (DHE). Menurut Nixon, para pengusaha ingin merasa aman menempatkan dananya di Indonesia, namun regulasi yang ada belum sepenuhnya memberikan rasa aman tersebut.
Kedua, aspek kerahasiaan menjadi pertimbangan penting. Nixon menyebut para pengusaha merasa lebih aman jika kepemilikan dan transaksi dana mereka dirahasiakan, yang tampaknya lebih terjamin di yurisdiksi luar negeri.
Ketiga, hasil survei menunjukkan adanya pertimbangan manfaat pajak. "Jadi transaksi itu juga disertai adanya tax benefit kepada pemilik devisa tadi. Ini antar negara ini kan juga kadang-kadang saingannya tax ratio," ungkap Nixon. Ia menjelaskan bahwa negara-negara sering bersaing menarik modal dengan menawarkan rezim pajak yang lebih kompetitif.
Sorotan terhadap Regulasi Bursa Komoditas
Nixon kemudian menyinggung perlunya langkah-langkah untuk menjaga agar dana tetap berada di dalam negeri, di samping keberadaan bursa komoditas di Indonesia. Ia mencatat bahwa banyak transaksi komoditas dan derivatif yang berkaitan dengan devisa, dan instrumen tersebut pada praktiknya sudah sangat dekat dengan instrumen keuangan.
Namun, Nixon menyoroti bahwa regulator bursa komoditas saat ini masih berada di bawah Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), bukan di bawah otoritas keuangan. "Cuma problemnya kan hari ini Bappebti itu dikelola Kementerian Perdagangan, bukan Keuangan atau otoritas keuangan. Sehingga instrumennya kan lebih di sana, padahal kita tahu itu juga instrumen keuangan gitu ya hari ini," papar Nixon.
Integrasi Ekosistem Pasar Keuangan dan Komoditas
Pernyataan Nixon mengisyaratkan bahwa jika Indonesia ingin menarik lebih banyak dana ekspor dan transaksi keuangan kembali ke dalam negeri, maka ekosistem pasar keuangan dan pasar komoditas perlu lebih terintegrasi dengan regulator sektor keuangan. Implikasinya, hal ini mungkin memerlukan penataan ulang kewenangan regulasi agar instrumen yang bersifat keuangan dapat diawasi secara lebih koheren oleh otoritas keuangan.
Secara umum, temuan Perbanas ini menyoroti tantangan struktural dalam menarik kembali dana pengusaha Indonesia yang selama ini mengalir ke luar negeri. Perlu dicermati bahwa selain faktor regulasi domestik, persaingan global dalam hal insentif pajak dan perlindungan kerahasiaan juga menjadi daya tarik bagi pelaku usaha untuk menempatkan dananya di yurisdiksi lain.
Paparan Nixon di hadapan Komisi XI DPR ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan domestik, baik dari sisi keamanan, kerahasiaan, maupun insentif fiskal.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Apa saja faktor yang membuat pengusaha Indonesia menempatkan dana di luar negeri menurut Perbanas?
- Menurut Wakil Ketua Perbanas Nixon L.P. Napitupulu, ada tiga faktor utama: aspek keamanan terkait aturan penempatan devisa hasil ekspor (DHE), aspek kerahasiaan kepemilikan dan transaksi dana, serta pertimbangan manfaat pajak yang lebih kompetitif di negara lain.
- Apa yang disoroti Perbanas terkait regulasi bursa komoditas di Indonesia?
- Perbanas menyoroti bahwa regulator bursa komoditas (Bappebti) saat ini berada di bawah Kementerian Perdagangan, bukan otoritas keuangan. Padahal, instrumen komoditas dan derivatif yang diperdagangkan sudah sangat dekat dengan instrumen keuangan. Perbanas mengisyaratkan perlunya integrasi ekosistem pasar keuangan dan komoditas dengan regulator sektor keuangan agar dapat menarik lebih banyak dana ekspor kembali ke dalam negeri.
Sumber
Tentang penulis
Tim Redaksi Kolektif
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Investasi Emas untuk Pemula: Beda Batangan, Perhiasan, dan Emas Digital
Batangan, perhiasan, atau digital? Ketiganya menyimpan logam yang sama, tetapi biaya, cara menyimpan, dan kemudahan menjualnya kembali jauh berbeda.
Metode Budgeting 50/30/20: Cara Membagi Gaji agar Tidak Habis Sebelum Akhir Bulan
Kerangka sederhana membagi penghasilan bersih ke kebutuhan, keinginan, dan tabungan, lengkap dengan cara menyesuaikannya untuk gaji kecil atau penghasilan tidak tetap.
Cara Kerja Pasar Saham dan Langkah Membeli Saham Pertama di Bursa Indonesia
Panduan dasar bagi pemula: memahami apa itu saham, cara Bursa Efek Indonesia bekerja, peran sekuritas dan RDN, hingga langkah konkret membeli saham pertama dengan aman.
Beasiswa LPDP: Jenis Program, Syarat, dan Tahapan Seleksi Terbaru
Format Beasiswa LPDP berubah mulai 2026: STEM Industri Strategis dan SHARE menggantikan skema Reguler-Targeted-Afirmasi, dengan tiga tahap seleksi dan kewajiban mengabdi di Indonesia setelah lulus.
Resesi: Pengertian, Penyebab, Ciri, dan Dampaknya
Panduan ringkas memahami apa itu resesi, mengapa terjadi, tanda-tandanya, dan bagaimana dampaknya menyentuh kehidupan sehari-hari.




