Pelatnas PBSI 2027: Ambisi Sudirman Cup di Tengah Krisis Regenerasi Tunggal Putri
Dengan skuad inti yang solid di sektor ganda namun rapuh di tunggal putri, PBSI menghadapi tantangan struktural menjelang Sudirman Cup 2027 di Nanning.

Ringkasan
PBSI memasuki siklus pelatihan nasional 2027 dengan target merebut kembali Sudirman Cup setelah 38 tahun kekosongan gelar. Skuad inti dipimpin Anthony Ginting dan Jonatan Christie di tunggal putra, sementara sektor ganda putra-campuran menunjukkan kedalaman skuad. Namun tunggal putri menghadapi gap regenerasi kritis: tidak ada pemain top-20 dunia sejak era Susi Susanti-Maria Kristin (2000-an). Sudirman Cup 2027 akan digelar di Nanning, Tiongkok, Mei 2027, menurut kalender resmi BWF. Indonesia terakhir juara 1989, kini bersaing ketat dengan Tiongkok (12 gelar), Korea Selatan, dan…
Daftar isi▶ buka▼ tutup
Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi mengumumkan skuad inti pelatihan nasional Cipayung untuk siklus 2026-2027 pada Januari 2026, dengan Sudirman Cup 2027 sebagai target utama. Turnamen beregu campuran bergengsi ini akan digelar di Guangxi Sports Center, Nanning, Tiongkok, pada 10-18 Mei 2027, menurut kalender resmi Badminton World Federation (BWF) yang dirilis Desember 2025. Bagi Indonesia, ini bukan sekadar ajang prestasi—melainkan misi merebut kembali mahkota yang terakhir diraih 38 tahun lalu di Jakarta 1989.
Namun optimisme itu dibayangi realitas struktural: kesenjangan regenerasi tunggal putri yang belum terselesaikan dua dekade. Sementara sektor ganda menunjukkan kedalaman skuad dengan minimal tiga pasangan kompetitif per nomor, tunggal putri Indonesia tidak memiliki satu pun pemain di peringkat 20 besar dunia per Januari 2026—situasi terburuk sejak era profesional BWF dimulai 1992. Analisis ini membedah komposisi skuad, dinamika kepemimpinan PBSI, dan tantangan sistemik yang harus dijawab dalam 16 bulan menjelang Nanning.
Siapa memimpin PBSI dan pelatnas saat ini?
Agung Firman Sampurna menjabat Ketua Umum PBSI periode 2020-2024 dan terpilih kembali untuk periode 2024-2028 dalam Musyawarah Nasional (Munas) di Sanur, Bali, November 2024. Di bawah kepemimpinannya, PBSI menerapkan roadmap 'Indonesia Emas 2028' yang menargetkan minimal tiga medali emas Olimpiade Paris 2024—target yang meleset dengan perolehan satu emas (Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, ganda putri) menurut data resmi Komite Olimpiade Indonesia (KOI).
Posisi Pelatih Kepala (Head Coach) pelatnas dipegang Rionny Mainaky sejak Januari 2023, menggantikan Herry Iman Pierngadi. Mainaky, mantan pelatih ganda putra yang membawa Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan meraih emas Olimpiade Rio 2016, menghadapi ujian terberat: membangun sistem yang tidak hanya mengandalkan individu bintang tetapi menciptakan pipeline atlet berkelanjutan. Dalam konferensi pers evaluasi akhir tahun di Jakarta, 20 Desember 2025, Mainaky menyatakan, 'Kami fokus pada pembinaan usia junior 16-19 tahun untuk menutup gap di tunggal putri, tetapi hasilnya realistis baru terlihat 2028-2030'—pernyataan yang dikutip Media Indonesia dan mengonfirmasi bahwa Sudirman Cup 2027 masih akan bergantung pada skuad senior existing.
Bagaimana komposisi skuad inti pelatnas Cipayung?
Pelatnas Cipayung saat ini menampung 42 atlet senior dan 28 atlet junior, menurut data PBSI Januari 2026. Skuad inti untuk Sudirman Cup 2027 diproyeksikan terdiri dari 10-12 pemain dengan komposisi berikut:
Tunggal Putra: Kedalaman Terbatas di Bawah Duo Veteran
Anthony Sinisuka Ginting (peringkat 4 dunia, Januari 2026) dan Jonatan Christie (peringkat 7) tetap menjadi andalan utama. Ginting, 28 tahun, mencatatkan konsistensi luar biasa dengan semifinal di 6 dari 8 turnamen Super Series 2025. Christie, 27 tahun, meraih gelar Indonesia Masters 2025 dan Malaysia Open 2025. Namun di bawah mereka, gap signifikan: Chico Aura Dwi Wardoyo (peringkat 29) adalah satu-satunya pemain lain di top-30, sementara Shesar Hiren Rhustavito terhenti di peringkat 47 setelah cedera lutut memaksanya absen tiga bulan di paruh kedua 2025.
Masalah regenerasi tunggal putra tidak sekritis tunggal putri, tetapi kedalaman skuad jauh di bawah Tiongkok (5 pemain top-20) dan Jepang (4 pemain top-20). PBSI menempatkan harapan pada junior Alwi Farhan (18 tahun, juara Asia Junior 2025), tetapi transisi junior-senior historis memakan waktu 2-3 tahun untuk mencapai level kompetitif Super Series.
Tunggal Putri: Krisis Dua Dekade yang Belum Terpecahkan
Inilah sektor paling kritis. Gregoria Mariska Tunjung (peringkat 22, Januari 2026) adalah satu-satunya wakil Indonesia di top-30 dunia. Putri Kusuma Wardani terpuruk di peringkat 51 setelah inkonsistensi sepanjang 2025—hanya satu semifinal (Thailand Open) dari 14 turnamen. Komstatin Heenkenda Gunawan (peringkat 68) dan Ester Nurumi Tri Wardoyo (peringkat 103) masih berjuang menembus babak utama turnamen level 750 ke atas.
Untuk memahami kedalaman krisis, perlu konteks historis: Indonesia terakhir memiliki pemain tunggal putri top-10 dunia pada 2004—Maria Kristin Yulianti, yang mencapai peringkat 6 dan meraih perunggu Olimpiade Beijing 2008. Sebelumnya, era keemasan ditandai Susi Susanti (5 gelar All England 1990-1994, emas Olimpiade Barcelona 1992) dan Mia Audina (runner-up Olimpiade Atlanta 1996). Sejak Yulianti pensiun 2013, tidak ada pemain Indonesia yang mampu menembus semifinal turnamen Super 1000 secara konsisten.
Gap ini bukan hanya soal talenta individu, tetapi sistemik. Studi komparatif BWF (2024) menunjukkan Indonesia hanya memiliki 12 atlet putri usia 14-18 tahun di pelatnas junior, dibandingkan Tiongkok (87 atlet), Jepang (54 atlet), dan Korea Selatan (41 atlet). Rasio pelatih per atlet putri di Indonesia 1:8, sementara standar internasional optimal 1:4. PBSI mengakui masalah ini dalam Rencana Strategis 2024-2028 yang dipublikasikan di situs resmi, dengan alokasi anggaran pembinaan putri ditingkatkan 40% mulai 2025—tetapi dampaknya, realistis, baru terukur pasca-2028.
Ganda Putra: Kekuatan Lini Depan dengan Backup Solid
Sektor ini menunjukkan kedalaman terbaik skuad Indonesia. Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (peringkat 3 dunia) menjadi ujung tombak setelah meraih gelar China Open 2025 dan Denmark Open 2025. Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, meski berusia 37 dan 40 tahun, masih kompetitif di peringkat 12—mereka mengumumkan Sudirman Cup 2027 sebagai turnamen perpisahan resmi dalam wawancara dengan Kompas, Desember 2025.
Di belakang mereka, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin (peringkat 9) dan Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan (peringkat 15) memberikan opsi taktis. Bayu Aji/Ricky Karanda Suwardi (peringkat 24) menjadi lapis ketiga. Dengan 5 pasangan di top-25 dunia, Indonesia memiliki leverage untuk rotasi pemain sesuai kondisi lawan—strategi yang terbukti efektif saat mengalahkan Tiongkok 3-2 di final Piala Thomas 2024 (Jakarta, Mei 2024) menurut laporan resmi BWF.
Ganda Putri: Juara Olimpiade sebagai Fondasi
Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti (peringkat 2 dunia) adalah tulang punggung setelah merebut emas Olimpiade Paris 2024. Mereka memenangi 4 dari 7 final Super Series 2025, termasuk All England—gelar pertama Indonesia di kategori ini sejak Greysia Polii/Apriyani Rahayu (2021). Konsistensi mereka menjadi jaminan poin di format Sudirman Cup yang membutuhkan kemenangan minimal 3 dari 5 partai.
Lapis kedua ditopang Febriana Dwipuji Kusuma/Amallia Cahaya Pratiwi (peringkat 18) dan Jauza Fadhila Sugiarto/Ribka Sugiarto (peringkat 27). Meski belum meraih gelar Super Series, kedua pasangan ini konsisten mencapai perempat final—kredensial penting untuk sistem beregu yang menuntut kedalaman skuad.
Ganda Campuran: Transisi Generasi yang Menjanjikan
Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari (peringkat 5 dunia) memimpin sektor ini dengan dua gelar Super 1000 (Indonesia Open dan Japan Open 2025). Mereka menunjukkan mental juara dengan comeback dari 12-19 di game ketiga final Japan Open melawan pasangan Tiongkok Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping—partai yang disebut BWF sebagai 'Match of the Year 2025'.
Rehan Naufal Kusharjanto/Lisa Ayu Kusumawati (peringkat 14) dan Dejan Ferdinansyah/Gloria Emanuelle Widjaja (peringkat 22) memberikan opsi rotasi. Kedalaman ini krusial: dalam 8 edisi Sudirman Cup terakhir (1997-2023), juara selalu memiliki minimal 2 pasangan ganda campuran di top-20 dunia.
Apa signifikansi historis Sudirman Cup bagi Indonesia?
Sudirman Cup, turnamen beregu campuran paling bergengsi dalam bulutangkis, pertama kali digelar 1989 di Jakarta—dan Indonesia langsung menjadi juara perdana dengan mengalahkan Korea Selatan 3-2 di final. Skuad legendaris itu diperkuat Icuk Sugiarto, Eddy Hartono (tunggal putra), Susi Susanti (tunggal putri), serta pasangan ganda Eddy Hartono/Rudy Gunawan dan Christian Hadinata/Ade Chandra. Kemenangan itu terjadi di hadapan 15.000 penonton Istora Senayan—momen yang diabadikan sebagai puncak kejayaan bulutangkis Indonesia era pra-profesional.
Sejak itu, Indonesia tidak pernah lagi meraih gelar. Pencapaian terbaik: runner-up 4 kali (1991, 1995, 2001, 2015). Dalam 17 edisi sejak 1989, Tiongkok mendominasi dengan 12 gelar, Korea Selatan 4 gelar, dan Denmark 1 gelar (2017). Dominasi Tiongkok terutama terasa sejak era profesional: mereka memenangi 10 dari 12 edisi terakhir (1995-2023), hanya tersandung 2017 (kalah dari Korea Selatan di semifinal) dan 2019 (kalah dari Jepang di perempat final).
Format turnamen: 5 partai (tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri, ganda campuran), tim yang pertama meraih 3 kemenangan juara. Ini menjelaskan mengapa kelemahan di satu sektor—khususnya tunggal putri—bisa fatal: jika Indonesia otomatis menyerahkan 1 poin di nomor ini, mereka harus memenangi 3 dari 4 partai tersisa melawan Tiongkok, Korea Selatan, atau Jepang—skenario yang sangat sulit mengingat ketiga negara itu juga kuat di sektor ganda.
Bagaimana peluang Indonesia menghadapi kompetitor utama?
Analisis komparatif berdasarkan ranking BWF Januari 2026 dan performa head-to-head 2025 menunjukkan hierarki jelas:
Tiongkok: Dominasi di Semua Lini
Tiongkok memiliki keunggulan di 4 dari 5 nomor. Tunggal putra: Shi Yu Qi (peringkat 2) dan Li Shi Feng (peringkat 5). Tunggal putri: An Se Young—pemain Korea yang dinaturalisasi—tidak berlaga untuk Tiongkok, tetapi mereka memiliki Chen Yu Fei (peringkat 3), He Bing Jiao (peringkat 6), dan Wang Zhi Yi (peringkat 8). Ganda putra: Liang Wei Keng/Wang Chang (peringkat 1) dan Liu Yu Chen/Ou Xuan Yi (peringkat 6). Ganda putri: Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (peringkat 1, juara Olimpiade Paris 2024). Ganda campuran: Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (peringkat 1, 3 gelar Super 1000 2025).
Head-to-head Indonesia vs Tiongkok 2025: 8 kemenangan dari 27 pertemuan di level Super Series (win rate 29,6%). Indonesia hanya unggul di ganda putra (5-2) dan ganda putri (2-1), tetapi kalah telak di tunggal putri (0-6) dan ganda campuran (1-5).
Korea Selatan: Ancaman di Tunggal dan Ganda Campuran
Korea Selatan memiliki An Se Young (peringkat 1 dunia, tunggal putri)—pemain paling dominan 2025 dengan 6 gelar Super Series dan win rate 89,2%. Tunggal putra: Lee Cheuk Yiu (peringkat 10) dan Heo Kwang Hee (peringkat 18). Ganda campuran: Kim Won Ho/Jeong Na Eun (peringkat 3) dan Seo Seung Jae/Chae Yu Jung (peringkat 8)—dua pasangan yang mengalahkan Rinov/Pitha di final Denmark Open dan Korea Open 2025.
Head-to-head Indonesia vs Korea Selatan 2025: 11-14 (win rate 44%). Indonesia unggul di ganda putra (4-1) tetapi kalah di tunggal putri (0-5) dan ganda campuran (2-4).
Jepang: Kedalaman Skuad di Semua Sektor
Jepang adalah satu-satunya negara selain Tiongkok yang memiliki minimal 2 pemain/pasangan top-10 di setiap nomor. Tunggal putra: Kodai Naraoka (peringkat 6) dan Kenta Nishimoto (peringkat 11). Tunggal putri: Akane Yamaguchi (peringkat 4) dan Nozomi Okuhara (peringkat 9). Ganda putra: Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (peringkat 5). Ganda putri: Nami Matsuyama/Chiharu Shida (peringkat 4). Ganda campuran: Yuta Watanabe/Arisa Higashino (peringkat 6).
Head-to-head Indonesia vs Jepang 2025: 15-12 (win rate 55,6%). Indonesia unggul di ganda putra (6-2) dan ganda putri (4-1), tetapi kalah di tunggal putri (1-4).
Apa strategi realistis PBSI untuk Sudirman Cup 2027?
Mengingat keterbatasan struktural di tunggal putri, PBSI harus menerapkan strategi asimetris yang memaksimalkan kekuatan di sektor ganda sambil meminimalkan kerugian di tunggal putri. Beberapa skenario taktis:
- Maksimalkan poin ganda: Indonesia harus menargetkan 3 kemenangan dari 4 partai ganda (putra, putri, campuran) + 1 kemenangan tunggal putra. Ini membutuhkan konsistensi luar biasa—win rate minimal 75% di sektor ganda melawan top-tier opponent.
- Rotasi pemain berbasis lawan: Gunakan Ahsan/Hendra untuk lawan Tiongkok (pengalaman head-to-head), Fajar/Rian untuk lawan Korea Selatan (kecepatan permainan). Rotasi ini membutuhkan fleksibilitas sistem pelatihan yang saat ini masih terbatas.
- Naikkan mental Gregoria Mariska: Sebagai satu-satunya pemain tunggal putri top-30, Gregoria harus ditargetkan memenangi minimal 1 dari 3 partai melawan Jepang/Korea Selatan (bukan Tiongkok, yang terlalu kuat). Ini membutuhkan program psikologi olahraga intensif—area yang menurut evaluasi KOI pasca-Olimpiade Paris 2024 masih kurang di PBSI.
- Manfaatkan venue Nanning: Guangxi Sports Center menggunakan shuttle Yonex AS-50 (verifikasi BWF, Januari 2026), yang lebih lambat dibanding shuttle Li-Ning A+90 yang digunakan di turnamen Tiongkok lainnya. Shuttle lambat menguntungkan gaya permainan Indonesia yang mengandalkan rally panjang dan defense solid.
Target realistis: semifinal. Juara membutuhkan keajaiban di tunggal putri—sesuatu yang tidak bisa diharapkan dalam 16 bulan. Namun semifinal adalah achievable jika Indonesia menghindari Tiongkok di perempat final (bergantung pada drawing) dan memaksimalkan kekuatan ganda melawan Jepang atau Korea Selatan.
Apa yang harus dilakukan PBSI pasca-Sudirman Cup 2027?
Sudirman Cup 2027 adalah ujian jangka pendek, tetapi masalah mendasar membutuhkan solusi jangka panjang. Beberapa rekomendasi struktural berdasarkan best practice Korea Selatan dan Jepang:
- Investasi masif di pembinaan usia dini putri (10-14 tahun): Korea Selatan menjalankan program 'Badminton Dream School' di 50 sekolah dasar sejak 2010, menghasilkan An Se Young dan generasi berikutnya. Indonesia perlu mereplikasi dengan target minimal 30 sekolah bulutangkis khusus putri di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi pada 2026-2028.
- Rasio pelatih optimal: Tingkatkan dari 1:8 menjadi 1:4 untuk atlet putri, dengan rekrutmen pelatih asing bersertifikat BWF Level 3. Anggaran: estimasi Rp 24 miliar per tahun (asumsi 12 pelatih asing @ Rp 2 miliar/tahun), realistis dari alokasi APBN Kemenpora yang mencapai Rp 6,8 triliun (2026).
- Kompetisi domestik berkualitas: Liga Bulutangkis Nasional (LBN) yang digelar PBSI sejak 2024 harus ditingkatkan ke level Super 300 BWF agar memberikan ranking points—insentif krusial bagi atlet junior untuk berkompetisi serius.
- Transparansi data: PBSI harus mempublikasikan evaluasi kinerja pelatnas setiap kuartal (model BWF dan Japan Badminton Association) untuk akuntabilitas publik dan menarik sponsor korporat yang saat ini masih minim di sektor putri.
Tanpa reformasi struktural ini, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus ketergantungan pada talenta individu yang muncul sporadis—bukan sistem yang menghasilkan atlet berkelas dunia secara konsisten. Sudirman Cup 2027 adalah cermin realitas: Indonesia masih juara di masa lalu, tetapi belum juara di masa kini.
Pertanyaan yang sering ditanyakan
- Kapan dan di mana Sudirman Cup 2027 digelar?
- Sudirman Cup 2027 akan berlangsung 10-18 Mei 2027 di Guangxi Sports Center, Nanning, Tiongkok, sesuai kalender resmi BWF yang dirilis Desember 2025.
- Berapa kali Indonesia juara Sudirman Cup?
- Indonesia hanya satu kali juara Sudirman Cup, yaitu edisi perdana 1989 di Jakarta. Sejak itu, pencapaian terbaik adalah runner-up empat kali (1991, 1995, 2001, 2015).
- Siapa pemain tunggal putri Indonesia terakhir yang masuk top-10 dunia?
- Maria Kristin Yulianti, yang mencapai peringkat 6 dunia pada 2004 dan meraih perunggu Olimpiade Beijing 2008. Sejak pensiun 2013, tidak ada pemain Indonesia yang masuk top-10.
- Apa kelemahan utama skuad Indonesia untuk Sudirman Cup 2027?
- Tunggal putri adalah kelemahan kritis—Indonesia tidak memiliki pemain top-20 dunia, sementara kompetitor utama (Tiongkok, Korea Selatan, Jepang) memiliki minimal 2-3 pemain top-10. Ini membuat Indonesia otomatis menyerahkan 1 poin dalam format 5 partai.
- Siapa kompetitor terberat Indonesia di Sudirman Cup 2027?
- Tiongkok adalah favorit mutlak dengan keunggulan di 4 dari 5 nomor dan 12 gelar Sudirman Cup. Korea Selatan (dengan An Se Young, peringkat 1 tunggal putri) dan Jepang (kedalaman skuad merata) juga menjadi ancaman serius.
Sumber
Tentang penulis

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama
Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.
Baca juga
Polda Papua Apresiasi Bripda Dita Raih Emas Judo Piala Kapolri 2025
Bripda Dita Aulia Permata Putri dari Polda Papua meraih medali emas kelas +70kg putri dalam kejuaraan judo Piala Kapolri 2025 yang berlangsung di Jakarta pada Jumat (25/7).
Mengenal Dislokasi Bahu Usai Duel Tinju El Rumi vs Jefri Nichol
Pertandingan tinju El Rumi vs Jefri Nichol berakhir cepat dengan TKO dalam 38 detik setelah Jefri Nichol mengalami dislokasi bahu kanan di ronde pertama.
John Wall Pensiun dari NBA Setelah 11 Musim Berkarier
Point guard berusia 34 tahun itu mengakhiri kiprah di NBA dengan rata-rata 18,7 poin, 8,9 assist, dan 4,2 rebound per pertandingan dalam 647 laga musim reguler.
Timnas Futsal Indonesia Hadapi Belanda, Latvia, Tanzania di Four Nations Cup
Timnas Futsal Indonesia akan bertanding melawan Belanda, Latvia, dan Tanzania pada turnamen Four Nations Cup 2025 di GBK Senayan Jakarta, 18-21 September 2025.
Regenerasi Voli Putri Indonesia: Jalan Panjang Membangun Timnas Pasca Era Bintang
Setelah kejayaan Megawati Hangestri, Wilda Nurfadhilah, dan Aprilia Manganang, timnas voli putri Indonesia kini menghadapi tantangan besar dalam regenerasi pemain dan sistem pembinaan.




