Lompat ke konten utama
sorotutama

Dampak Kenaikan Dolar AS ke Sektor Perumahan Mulai Terasa

REI dan Appernas memperingatkan dampak pelemahan rupiah akan makin terasa dalam 3-6 bulan ke depan, terutama pada segmen perumahan rakyat dan bahan bangunan.

Oleh Redaksi Sorot Utama2 menit baca
Dampak Kenaikan Dolar AS ke Sektor Perumahan Mulai Terasa
Foto: Loifotos via Pexels

Ringkasan

Asosiasi pengembang perumahan memperingatkan dampak kenaikan dolar AS terhadap industri perumahan Indonesia. Pelemahan rupiah diprediksi berdampak signifikan dalam 3-6 bulan mendatang, terutama pada perumahan rakyat dan harga bahan bangunan impor.

Daftar isi▶ buka

Asosiasi pengembang perumahan Indonesia memperingatkan dampak pelemahan rupiah terhadap sektor perumahan nasional. Ketua Umum Real Estat Indonesia (REI) Joko Suranto menyatakan dampak kenaikan dolar AS baru akan terasa signifikan dalam tiga hingga enam bulan ke depan, terutama pada industri manufaktur padat karya yang memiliki pinjaman dalam dolar AS atau bergantung pada bahan baku impor.

Dampak Tertunda pada Industri Perumahan

"Yang jelas itu dampak negatif atas kondisi kita. Kalau pada batas tertentu, ya 3 sampai 6 bulan kan mungkin mereka masih bisa nahan. Tapi kalau setelah itu bakal menjadi sesuatu yang agak bahaya," ujar Joko Suranto. Menurutnya, industri manufaktur yang terkait dengan bahan bangunan akan merasakan tekanan paling besar, yang kemudian berdampak pada industri perumahan dan pendukungnya.

Joko menjelaskan bahwa segmen perumahan rakyat, termasuk rumah bersubsidi, akan paling terdampak dari kondisi ini. Sebaliknya, sektor perumahan mewah diprediksi tidak terlalu terpengaruh karena segmentasinya masih cukup tahan. "Kalau komersil bisa berdampak, kalau yang tidak terdampak itu adalah mereka yang di level atas ya, rumah mewah ya. Sedangkan kelas menengah kan tidak punya pilihan," terangnya.

Kenaikan Harga Bahan Bangunan Sudah Mulai Terasa

Ketua Umum Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Andriliwan Muhammad atau Andre Bangsawan menyatakan dampak kenaikan dolar AS sudah dirasakan oleh sebagian besar kontraktor perumahan dan pengusaha bahan bangunan, meskipun belum terlalu besar. "Oh udah terasa. Sudah terasa kenaikan bahan-bahan bangunan. Tapi itu masih sebagian ya, belum terasa banget lah," kata Andre.

Andre memperingatkan jika pemerintah tidak mengantisipasi kenaikan dolar AS dalam tiga bulan ke depan, dampaknya bisa lebih besar lagi. Menurutnya, persediaan bahan bangunan yang masih cukup saat ini menunda dampak signifikan. "Saat ini dampaknya belum signifikan. Karena kenapa? Persediaan bahan-bahan di kami itu masih banyak, apalagi kami akan bangun 1.000 rumah gitu kan. Mungkin ini akan berdampak serius dalam 2-3 bulan akan datang. Kenaikannya bisa lebih tinggi," jelasnya.

Komitmen pada Program 3 Juta Rumah

Meskipun menghadapi tekanan dari kenaikan dolar AS, Andre menegaskan komitmen industri untuk tetap mendukung program pemerintah membangun 3 juta rumah. "Tapi bagi kami, dengan kenaikan dolar itu tidak akan mempengaruhi semangat kami untuk mendukung program 3 juta rumah. Apalagi dengan adanya tenor 40 tahun. Kami berupaya untuk memenuhi program pemerintah tersebut," ujarnya.

Analisis: Tekanan Ganda pada Perumahan Terjangkau

Pernyataan kedua asosiasi pengembang ini menggarisbawahi kerentanan sektor perumahan Indonesia terhadap fluktuasi nilai tukar. Secara umum di sektor konstruksi, ketergantungan pada bahan baku impor atau komponen yang harganya mengikuti dolar AS membuat industri rentan terhadap pelemahan rupiah. Implikasinya, segmen perumahan terjangkau yang menjadi target program pemerintah akan menghadapi tekanan ganda: kenaikan biaya produksi dari sisi pengembang, dan penurunan daya beli dari sisi konsumen kelas menengah yang juga terdampak kondisi ekonomi.

Perlu dicermati bahwa jeda waktu 3-6 bulan yang disebutkan kedua pimpinan asosiasi memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengambil langkah antisipatif, baik melalui kebijakan stabilisasi nilai tukar maupun dukungan khusus untuk sektor perumahan rakyat agar program pembangunan 3 juta rumah tetap dapat berjalan tanpa membebani konsumen secara berlebihan.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Kapan dampak kenaikan dolar AS akan terasa signifikan pada sektor perumahan?
Menurut Ketua Umum REI Joko Suranto, dampak kenaikan dolar AS atau pelemahan rupiah akan terasa signifikan dalam 3 hingga 6 bulan ke depan. Ketua Umum Appernas Andre Bangsawan menyebutkan dampak serius bisa terjadi dalam 2-3 bulan mendatang jika tidak ada antisipasi.
Segmen perumahan mana yang paling terdampak kenaikan dolar AS?
Segmen perumahan rakyat, termasuk rumah bersubsidi dan kelas menengah, akan paling terdampak. Sebaliknya, perumahan mewah diprediksi tidak terlalu terpengaruh karena segmentasinya masih cukup tahan dan memiliki daya dukung tinggi.
Apa yang menyebabkan sektor perumahan terdampak kenaikan dolar AS?
Dampak terjadi karena industri manufaktur padat karya yang terkait perumahan memiliki pinjaman dalam dolar AS atau bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan dolar AS menyebabkan kenaikan harga bahan bangunan, yang kemudian berdampak pada biaya pembangunan perumahan.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#dolar AS#Rupiah#sektor perumahan#REI#Appernas#bahan bangunan

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga