Lompat ke konten utama
sorotutama

Bitcoin Depot Ajukan Pailit, 9.276 ATM Kripto Tutup Total

Operator ATM Bitcoin terbesar yang terdaftar di Nasdaq AS mengajukan Chapter 11 setelah pendapatan anjlok 49% dan kerugian bersih mencapai US$ 9,5 juta pada kuartal pertama 2026.

Oleh Redaksi Sorot Utama3 menit baca
Bitcoin Depot Ajukan Pailit, 9.276 ATM Kripto Tutup Total
Foto: Elise via Pexels

Ringkasan

Bitcoin Depot, operator ATM Bitcoin terbesar yang terdaftar di Nasdaq, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11 dan menghentikan seluruh operasional 9.276 ATM di AS, Kanada, dan Australia. Perusahaan mencatat penurunan pendapatan 49% dan kerugian bersih US$ 9,5 juta pada kuartal I-2026, dihantam regulasi ketat dan gugatan hukum terkait penipuan kripto.

Daftar isi▶ buka

Industri aset kripto global kembali diguncang kabar kebangkrutan besar. Bitcoin Depot, operator ATM Bitcoin terbesar yang terdaftar di bursa Nasdaq Amerika Serikat, resmi menghentikan seluruh operasional layanannya dan mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11. Perusahaan berbasis di Atlanta ini secara sukarela mengajukan pailit di Pengadilan Kebangkrutan AS untuk Distrik Selatan Texas pada Senin, 18 Mei 2026 waktu setempat.

Langkah ini diambil untuk melakukan likuidasi dan menjual aset-aset perusahaan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Sebagai konsekuensi langsung, seluruh jaringan mesin ATM Bitcoin milik perusahaan kini terpantau berstatus offline. Hingga tahun lalu, Bitcoin Depot tercatat mengoperasikan setidaknya 9.276 kios ATM yang tersebar di wilayah AS, Kanada, hingga Australia. Fasilitas ini sebelumnya memungkinkan nasabah mengonversi uang tunai secara langsung ke mata uang kripto seperti Bitcoin.

Kinerja Keuangan Anjlok Drastis

Keputusan pailit ini merupakan puncak dari performa keuangan perusahaan yang terus memburuk. Berdasarkan laporan kinerja kuartal I-2026, Bitcoin Depot mencatatkan penurunan pendapatan yang sangat tajam hingga 49% secara tahunan (year-on-year). Perusahaan juga harus membukukan kerugian bersih mencapai US$ 9,5 juta, kontras dengan periode yang sama tahun sebelumnya ketika masih menikmati laba bersih sebesar US$ 12,2 juta.

Sejalan dengan itu, laba kotor perusahaan ikut anjlok hingga 85% menjadi sisa US$ 45 juta saja. Penurunan drastis ini mencerminkan tekanan berat yang dihadapi model bisnis ATM kripto di tengah perubahan lanskap regulasi dan pasar.

Regulasi Ketat Jadi Faktor Utama Kebangkrutan

Manajemen Bitcoin Depot secara tegas menunjuk regulasi pemerintah yang kian ketat dan rumit sebagai faktor utama hancurnya bisnis mereka. CEO Bitcoin Depot, Alex Holmes, dalam siaran pers yang dikutip dari CoinDesk menyatakan, "Negara-negara bagian memberlakukan kewajiban kepatuhan yang makin ketat, termasuk batasan transaksi baru, dan di beberapa yurisdiksi, pembatasan atau larangan langsung terhadap operasi BTM (Bitcoin ATM). Operator menghadapi peningkatan litigasi dan penegakan peraturan."

Holmes menambahkan bahwa dinamika regulasi terbaru ini telah memukul telak aspek operasional maupun finansial Bitcoin Depot. Dalam situasi saat ini, ia menegaskan bahwa model bisnis yang dijalankan perusahaan sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Pernyataan ini menggarisbawahi bagaimana perubahan kebijakan pemerintah dapat secara langsung mengancam kelangsungan bisnis di sektor teknologi finansial yang masih relatif baru.

Gugatan Hukum dan Lonjakan Kasus Penipuan

Selain tekanan regulasi, Bitcoin Depot juga tengah tersangkut masalah hukum besar. Perusahaan menghadapi gugatan tingkat tinggi yang dimotori oleh Jaksa Agung di negara bagian Massachusetts dan Iowa atas dugaan memfasilitasi praktik penipuan berbasis kripto. Gugatan ini menambah beban perusahaan yang sudah terpuruk secara finansial.

Sebagaimana dilaporkan sumber, kasus penipuan yang memanfaatkan ATM kripto secara global memang meroket drastis hingga menyentuh angka kerugian rekor US$ 389 juta pada tahun lalu, melonjak 58% dibanding tahun 2024. Lonjakan kasus kejahatan inilah yang memicu regulator dan aparat penegak hukum bertindak lebih agresif terhadap operator ATM kripto.

Saat ini, entitas anak usaha Bitcoin Depot yang berada di Kanada juga ikut terseret ke dalam proses peradilan kebangkrutan di AS. Sementara itu, entitas non-AS lainnya dipastikan akan ditutup secara bertahap mengikuti regulasi yurisdiksi masing-masing.

Ironi di Tengah Tren Adopsi Institusional

Kejatuhan Bitcoin Depot terjadi di tengah situasi yang cukup ironis. Di satu sisi, tren adopsi institusional terhadap industri kripto sebenarnya tengah meluas, didorong oleh kehadiran produk investasi alternatif seperti ETF (Exchange-Traded Fund) serta kejelasan regulasi dari Clarity Act. Namun di sisi lain, segmen bisnis ATM kripto justru mengalami tekanan berat akibat pengetatan aturan dan maraknya penyalahgunaan untuk kejahatan.

Implikasinya, kebangkrutan ini dapat menjadi sinyal peringatan bagi operator ATM kripto lainnya untuk segera menyesuaikan model bisnis mereka dengan lanskap regulasi yang terus berubah. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa tidak semua segmen dalam ekosistem kripto akan berkembang seiring dengan adopsi institusional yang lebih luas. Regulasi yang lebih ketat di level negara bagian dapat menjadi hambatan serius bagi model bisnis tertentu, bahkan ketika industri secara keseluruhan mengalami pertumbuhan.

Perlu dicermati bahwa kasus Bitcoin Depot menggambarkan tantangan kompleks yang dihadapi perusahaan teknologi finansial: di satu sisi harus memenuhi kepatuhan regulasi yang terus berkembang, di sisi lain harus menjaga profitabilitas di tengah persaingan dan perubahan perilaku konsumen. Bagi regulator, kasus ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara perlindungan konsumen dan ruang inovasi bagi industri kripto.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Mengapa Bitcoin Depot mengajukan kebangkrutan?
Bitcoin Depot mengajukan Chapter 11 setelah mengalami penurunan pendapatan 49% dan kerugian bersih US$ 9,5 juta pada kuartal I-2026. Faktor utamanya adalah regulasi pemerintah yang semakin ketat di berbagai negara bagian AS, termasuk batasan transaksi dan larangan operasi ATM Bitcoin, ditambah gugatan hukum terkait dugaan memfasilitasi penipuan kripto.
Berapa jumlah ATM Bitcoin yang ditutup?
Seluruh jaringan 9.276 kios ATM Bitcoin milik Bitcoin Depot yang tersebar di AS, Kanada, dan Australia kini berstatus offline dan tidak beroperasi menyusul pengajuan kebangkrutan perusahaan.
Apa dampak regulasi terhadap bisnis ATM kripto?
Regulasi yang semakin ketat di level negara bagian memberlakukan kewajiban kepatuhan yang lebih rumit, batasan transaksi, hingga larangan langsung operasi ATM Bitcoin di beberapa yurisdiksi. Hal ini memukul telak aspek operasional dan finansial operator, membuat model bisnis ATM kripto sulit dipertahankan meski adopsi institusional kripto secara umum terus berkembang.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Tech
#Kripto#Kebangkrutan#Regulasi#Teknologi Finansial

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga