Lompat ke konten utama
sorotutama

BI Rate Naik 5,50%, Bank Digital Bersiap Sesuaikan Bunga Deposito

Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50%. Bank digital merespons dengan membuka potensi kenaikan bunga deposito dan memperkuat struktur dana murah.

Oleh Redaksi Sorot Utama2 menit baca
BI Rate Naik 5,50%, Bank Digital Bersiap Sesuaikan Bunga Deposito
Foto: Nataliya Vaitkevich via Pexels

Ringkasan

Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan. Bank-bank digital merespons dengan membuka kemungkinan menaikkan bunga deposito secara bertahap, sementara sebagian fokus memperkuat struktur dana murah (CASA) untuk mengantisipasi kenaikan biaya pendanaan.

Daftar isi▶ buka

Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mingguan yang digelar pada Selasa (9/6/2026). Keputusan ini mendorong bank-bank digital untuk menyesuaikan strategi pendanaan mereka, termasuk membuka potensi kenaikan suku bunga deposito.

Merespons kebijakan moneter tersebut, sejumlah bank digital menyatakan kesiapan mereka menghadapi era suku bunga yang naik. Strategi yang diambil beragam, mulai dari penyesuaian bunga deposito hingga penguatan struktur dana murah.

Bank Jago: Kenaikan Bunga Deposito Bertahap

Komisaris Utama PT Bank Jago Tbk. (ARTO), Anika Faisal, menyatakan bahwa kenaikan BI Rate akan mendorong naiknya biaya pendanaan (cost of fund/CoF) secara bertahap. Kondisi ini biasanya diikuti dengan penyesuaian bunga deposito bank, meskipun keputusan tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut.

"Kita kan harus kaji, kita lihat juga. Mungkin juga nggak immediate. Tapi pasti harus secara bertahap akan ada. Ini udah kita masuk pada era suku bunga yang akan naik," ujar Anika saat ditemui di Gedung Dhanapala, Selasa (9/6/2026).

Pernyataan Anika mengindikasikan bahwa penyesuaian bunga deposito tidak akan dilakukan secara langsung, melainkan melalui evaluasi dan implementasi bertahap seiring dengan perkembangan kondisi pasar.

Bank Raya Fokus Perkuat Dana Murah

Sementara itu, PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO) mengambil pendekatan berbeda dengan memprioritaskan penguatan struktur pendanaan melalui dana murah atau CASA (Current Account Saving Account). Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, memaparkan bahwa hingga kuartal I-2026, struktur CASA di entitas usaha BRI tersebut masih menunjukkan tren yang cukup baik.

"Tentunya ini akan menjadi modal buat kami dalam menyikapi nanti perkembangan suku bunga ke depan," kata Kicky saat Public Expose Live BEI, Selasa (9/6/2026).

Bank Raya berencana melakukan inovasi dan pengembangan produk melalui digital saving yang berfokus untuk terus meningkatkan komposisi dana murah. Strategi ini bertujuan agar bank tidak terlalu bergantung pada dana mahal yang biayanya akan meningkat seiring kenaikan BI Rate.

"Melalui produk digital saving, harapannya nanti bahwa pertumbuhan simpanan tidak di-drive lagi oleh penempatan dana yang cukup mahal tetapi berorientasi pada peningkatan dana murah, melalui akuisisi dan kemudian juga transaksi pada nasabah menggunakan aplikasi dari bank raya, memanfaatkan fitur-fitur yang relatif lengkap untuk memilih kebutuhan finansial pribadi, personal maupun bisnisnya," terang Kicky.

Implikasi bagi Nasabah dan Industri Perbankan

Kenaikan BI Rate menjadi 5,50% mencerminkan sikap ketat Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Bagi nasabah, perkembangan ini berpotensi memberikan peluang memperoleh imbal hasil deposito yang lebih tinggi dalam beberapa waktu ke depan, meskipun penyesuaiannya akan dilakukan secara bertahap oleh masing-masing bank.

Di sisi lain, bank-bank digital perlu menyeimbangkan antara daya saing produk simpanan mereka dengan efisiensi biaya pendanaan. Strategi penguatan CASA seperti yang dilakukan Bank Raya menjadi salah satu cara untuk menjaga margin bunga bersih (net interest margin) di tengah tekanan kenaikan suku bunga.

Secara umum, respons beragam dari bank-bank digital ini menunjukkan bahwa industri perbankan sedang menyesuaikan diri dengan siklus pengetatan moneter. Nasabah perlu mencermati perkembangan suku bunga deposito di berbagai bank untuk memaksimalkan imbal hasil simpanan mereka, sementara pelaku industri terus berinovasi dalam produk dan strategi pendanaan untuk tetap kompetitif.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Berapa BI Rate terbaru yang ditetapkan Bank Indonesia?
Bank Indonesia menetapkan BI Rate sebesar 5,50% dalam Rapat Dewan Gubernur Mingguan pada 9 Juni 2026.
Bagaimana respons bank digital terhadap kenaikan BI Rate?
Bank digital merespons dengan dua strategi utama: membuka potensi kenaikan bunga deposito secara bertahap (seperti Bank Jago) dan memperkuat struktur dana murah atau CASA melalui produk digital saving (seperti Bank Raya Indonesia) untuk mengurangi ketergantungan pada dana mahal.
Apakah bunga deposito akan langsung naik setelah kenaikan BI Rate?
Tidak langsung. Menurut Komisaris Utama Bank Jago Anika Faisal, kenaikan bunga deposito akan dilakukan secara bertahap setelah melalui kajian dan evaluasi, meskipun kenaikan biaya pendanaan (cost of fund) dipastikan akan terjadi seiring kenaikan BI Rate.

Sumber

  1. Disarikan dari CNBC Indonesia Market
#Bi Rate#Bank Indonesia#Bank Digital#Deposito#Suku Bunga#Bank Jago

Tentang penulis

Tim redaksi di ruang kerja editorial
Redaksi Sorot Utama

Tim Redaksi Kolektif · Mengikuti Pedoman Editorial Sorot Utama

Redaksi Sorot Utama adalah tim editorial yang bekerja menulis, memverifikasi, dan menyunting setiap artikel sebelum terbit. Kami mengikuti standar editorial yang dipublikasikan terbuka di halaman Pedoman Editorial.

Baca juga